My Blog

Just another WordPress.com weblog

Kisah Hikmah

Posted by bangkitkanjihad pada Agustus 1, 2009

“ Bísmíllaahírrahmaanírrahím ”

La In Syakartum La Aziidannakum Wa Lain Kafartum Inna ‘Adzaabi La Syadiid

Jika kamu bersyukur atas nikmat yang Ku-berikan kepadamu,

maka akan Aku tambah nikmat itu, tapi jika kamu mengingkarinya

(tidak mau bersyukur), maka ingatlah bahwa siksa-Ku sangatlah pedih.

***

Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah S.A.W. telah bersabda :

“Apabila telah mati anak Adam itu, maka terhentilah amalnya melainkan

tiga macam :

1. Sedekah yang berjalan terus (Sedekah Amal Jariah)

2. Ilmu yang berguna dan diamalkan.

3. Anak yang soleh yang mendoakan baik baginya.

***

Rasulullah S.A.W. “Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir.

Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas, Ia berlindung sejenak dibawah pohon,

kemudian berangkat dan meninggalkannya.”

Disusun Oleh :

Edi S. Kurniawan

e-mail : Edieskurniawan@yahoo.com

( Dipersembahkan untuk semua Ikhwan Muslimin dimana saja berada )

MENGINGAT MATI

Kematian adalah permulaan kepada kehidupan baru yang kekal abadi (akhirat). Yakin dengan sebenar-benar yakin akan alam akhirat sangat dituntut karena merupakan penjabaran dari rukun iman yang kelima.

Sabda Rasulullah:

“Perbanyakkanlah mengingati mati, niscaya akan meremehkan berbagai kelezatan.” (An Nasai, Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Ketika Malaikat maut datang menemui Nabi Yaakub AS untuk mencabut nyawa, beliau bertanya, “Bukankah aku minta agar dikirimkan utusan terlebih dahulu”

Malaikat maut menjawab, “Demi Allah telah banyak utusanku memberi peringatan wahai nabi Allah,

Jawab Nabi Yaakub ,”Aku tidak mengetahui dan mengenalinya,”

Jawab malaikat maut pula, “Yaitu berupa sakit, uban, pendengaran kurang dan penglihatan kabur.”

Rasulullah bersabda, “Berziarahlah kubur karena ia dapat mengingatkan kamu kepada Akhirat. Mandikan orang mati karena mengurus jasad orang mati merupakan peringatan yang mendalam. Dan shalatkan jenazah karena ia dapat menyedihkan hati kamu karena orang yang bersedih dibawah naungan Allah SWT berarti bersedia dengan segala kebajikan. (Dari Abu Dzar)

Barang siapa yang banyak menginggat mati akan mengutamakan 3 perkara:

1. Segera bertaubat, karena yakin mati akan datang dengan tiba-tiba, tanpa disangka dan tidak mengira tempat.

2. Berhati tenang dan senantiasa mewaspadai hati dari dihingapi dan dikotori ole berbagai mazmumah (sifat keji). Dan sentiasa mengingati Allah SWT.

3. Rajin beribadah dan taat, dunia ini adalah tempat beramal dan akhirat adalah tempat perhitungan.

Tanda-tanda orang yang melupakan mati

1. Menunda-nunda taubat, akhirnya mati dalam keadaan membawa dosa dan belum bertaubat. Seringkali berangan-angan karena menyangka mati masih lambat dan umur akan panjang.

2. Tidak rela hidup sederhana akhirnya memburu kesenangan dan kemewahan dunia hingga lalai dari menginggati Allah SWT. Sering merasa kecewa dan putus asa seolah-olah dunia ini segala-galanya. Terlalu mementingkan diri sendiri dan sanggup menindas orang lain

3. Malas beribadah, kelezatan menikmati nikmat dunia menyebabkan lenyapnya kelezatan beribadah pada Allah SWT. Hilang kemanisan ibadah, malah merasakan kosong dan tidak bermanfaat.

Allah SWT Berfirman :

Audzubillahi minasy syathonirrojim

1. Kullu nafsindza iqotul maut (Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian)

2. Faidza ja’a Ajaluhum laa yasta’khiruna sa’ah wala yastaqdimun (Maka apabila datang waktu kematian tidaklah dapat diundur dan tidakpula dapat dimajukan.)

3. Wamal hayatuddun ya illa mata’ul ghuruur (Sesungguhnya dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yangmemperdayakan.) Shodaqollohul adhim.

‘KIAT’ MENJEMPUT MAUT

Alkisah menurut shirah, pernah Nabi Ibrahim as berdialog dengan Malaikat Maut soal sakratulmaut. Sahabat Allah itu bertanya, “Dapatkah engkau memperlihatkan rupamu saat engkau mencabut nyawa manusia yang gemar berbuat dosa?”

Malaikat menjawab pendek: “Engkau tak akan sanggup.”

“Aku pasti sanggup,” tegas beliau.

“Baiklah, berpalinglah dariku,” pinta si Malaikat.

Saat Nabi Ibrahim as berpaling kembali, di hadapannya telah berdiri sesosok makhluk berkulit legam dengan rambut berdiri, berbau busuk, dan berpakaian serba hitam. Dari hidung dan mulutnya tersembur jilatan api. Seketika itu pula Nabi Ibrahim as jatuh pingsan! Ketika tersadar kembali, beliau pun berkata kepada Malaikat Maut, “Wahai Malaikat Maut, seandainya para pendosa itu tak menghadapi sesuatu yang lain dari wajahmu di saat kematiannya, niscaya cukuplah itu menjadi hukuman untuknya.”

Di kesempatan lain, kisah yang diriwayatkan oleh ‘Ikrimah dari Ibn ‘Abbas ini, menceritakan Nabi Ibrahim as meminta Malaikat Maut mengubah wujudnya saat mencabut nyawa orang-orang beriman. Dengan mengajukan syarat yang sama kepada Ibrahim as, Malaikat Maut pun mengubah wujudnya. Maka di hadapan Nabi yang telah membalikkan badannya kembali, telah berdiri seorang pemuda tampan, gagah, berpakaian indah dan menyebar aroma wewangian yang sangat harum.

“Seandainya orang beriman melihat rupamu di saat kematiannya, niscaya cukuplah itu sebagai imbalan amal baiknya,” kata Nabi Ibrahim as.

Dari nukilan kisah itu, apakah bisik-bisik misteri tentang penampakan Malaikat Maut menjelang ajal seseorang benar adanya”Dalam pergaulan sehari-hari, kita sering mendengar kisah dari mulut ke mulut, misalnya tentang seseorang yang tiba-tiba melihat “sesuatu” ketika salah seorang kerabatnya tengah menghadapi maut. Apakah itu berupa bayangan hitam, putih, atau pun hanya gumaman dialog mirip kata-kata yang dilontarkan oleh orang yang mengigau.

Namun yang pasti selain Nabi Ibrahim as, dari beberapa riwayat, Nabi Daud dan Nabi Isa as juga pernah dihadapkan pada fenomena penampakan Malaikat Maut itu. Kisah sakratulmaut itu belum seberapa bila dibandingkan dengan sakratulmaut itu sendiri. Sakratulmaut adalah sebuah ungkapan untuk menggambarkan rasa sakit yang menyerang inti jiwa manusia dan menjalar ke seluruh bagian tubuh, sehingga tak satu pun bagian yang terbebas dari rasa sakit itu. Malapetaka paling dahsyat di kehidupan paripurna manusia ini memberi rasa sakit yang berbeda-beda pada setiap orang.

Untuk menggambarkan rasa itu, pernah Rasulullah S.A.W berkata: “Kematian yang paling mudah adalah serupa dengan sebatang duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian Kain sutera yang terkoyak?”

Tapi di bagian lain Rasulullah — seperti yang dikisahkan oleh Al-Hasan pernah menyinggung soal kematian, cekikan, dan rasa pedih. “Sakitnya sama dengan tiga ratus tusukan pedang,” sabda beliau.

Diriwayatkan, ketika ruh Nabi Ibrahim as akan dicabut, Allah SWT bertanya kepada Ibrahim: “Bagaimana engkau merasakan kematian wahai kawanku?”

Beliau menjawab, “Seperti sebuah pengait yang dimasukkan ke dalam gumpalan bulu basah yang kemudian ditarik.”

“Yang seperti itulah, sudah Kami ringankan atas dirimu,” firman-Nya.

Tentang sakratulmaut, Nabi S.A.W bersabda, “Manusia pasti akan merasakan derita dan rasa sakit kematian, dan sesungguhnya sendi-sendinya akan mengucapkan selamat tinggal satu sama lain seraya berkata ‘Sejahteralah atasmu; sekarang kita saling berpisah hingga datang hari kiamat kelak’.”

Ustadz Aam Amirullah, da’i Radio OZ Bandung, menuturkan bahwa Rasulullah S.A.W sendiri menjelang akhir hayatnya berucap “Ya Allah ringankanlah aku dari sakitnya sakratulmaut” berulang hingga tiga kali. Padahal telah ada jaminan dari Allah SWT bahwa beliau akan masuk surga. “Lalu, mari kita bandingkan tingkat keimanan dan keshalehan beliau dengan kita, yang hanya manusia biasa ini,” lanjut Aam. Maka sekitar 200-an hadirin yang memadati Aula Kantor Pusat PT Pos Indonesia, Bandung, mendadak tercekam hening.

Untung banyolan KH Abdullah Gymnastiar — yang menyapa hadirin dengan sebutan ‘Calon Jenazah’ — segera memecah keheningan. Kematian, menurut Aa’ Agim, mestinya tak perlu menjadi sesuatu yang perlu ditakuti, tapi sebaliknya harus senantiasa dirindukan. Jika sesuatu itu begitu dirindukan, logikanya menurut dia, berarti ingin cepat-cepat pula ditemui.

“Barangsiapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah akan benci bertemu dengannya,” sabda Rasulullah S.A.W .

Maka, terhadap manusia yang tak pernah tergugah dengan kematian manusia lain, Aa’ Agim secara guyon menyebutnya sebagai golongan “mandom” alias manusia domba. “Seperti domba di Idul Kurban. Terus makan rumput sambil menatap kawan-kawannya disembelih, padahal dia bakal dapat giliran juga,”tambah pimpinan Pesantren Daarut Tauhiid ini.

Agim menganalogikan orang dalam golongan ini sebagai orang bodoh, yang meski telah diberi modal hidup tapi terhambur dengan sia-sia. “Semakin banyak kesia-siaan yang kita lakukan, maka semakin tinggi pula tingkat kebodohan kita. Sebaliknya, orang yang paling cerdas adalah orang yang paling sering mengingat ajal dan paling banyak mempersiapkan diri menghadapi maut,” katanya.

Khusnulkhotimah, menurut Agim, adalah suatu karunia Allah SWT yang khusus diberikan kepada manusia. Kyai yang kocak ini bilang, tak ada ceritanya muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Khusnulkhotimah itu seperti hadiah buat manusia, atas upaya manusia yang sungguh-sungguh menjalankan tugas hidup di dunia ini. “Seperti mahasiswa yang belajar mati-matian, lalu lulus dengan predikat summa cum laude.”

Jadi jangan pernah berpikir bagaimana supaya kita bisa mendapatkan khusnulkhotimah terlebih dulu. “Kata-kata mati, harusnya mampu kita hadirkan dalam hati kita setiap hari,” paparnya.

Sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa dengan banyak-banyak mengingat maut menjadikan seseorang menjadi makhluk yang produktif, cermat, dan selektif, adalah benar adanya, menurut Agim. “Ini karena setiap pekerjaan yang dilakukannya dianggap sebagai pekerjaan terakhirnya. Karena maut itu bisa datang kapan saja.” Sebaliknya, kalau Allah belum memberi izin, maut tak akan datang. Agim memberi anekdot seperti orang yang bekeinginan bunuh diri di rel kereta api. Sesaat kereta melintas, ternyata badannya masih utuh. Karena ternyata ia berada di lintasan dengan tiga jalur rel.

Dengan selalu meningat maut, intinya kematian menjadi semacam bahan baker agar manusia mampu hidup produktif dan bermanfaat. Menurut Aam Amirullah, ada empat “selalu” agar manusia memiliki manfaat hidup. Pertama, selalu bermunajat kepada Allah SWT; kedua, selalu mengevaluasi dan mengintospeksi diri sendiri; ketiga, selalu bertafakur, mengasah diri dan ilmu; dan keempat, selalu memenuhi hak hidup, seperti makan, minum, tidur dengan teratur. “Jadi sebelum kita mendekati sakratulmaut, Rasulullah sudah memberi solusi kepada manusia. Jika ajal telah tiba, tak perlu kita takut menghadapinya,” tambah Aam.

PANGGILAN TERHADAP MAYAT

DALAM suatu riwayat disebutkan, tatkala roh berpisah dari tubuh, maka ia dipanggil dari langit dengan tiga kai jeritan:

Wahai anak Adam !!!

Apakah kamu meninggalkan dunia, atau dunia yang meninggalkan kamu ?

Apakah kamu mengumpulkan dunia, atau dunia mengumpulkan kamu ?

Apakah kamu mematikan dunia, atau dunia mematikan kamu ?

Jika mayat diletakkan di tempat untuk dimandikan, maka ia dipanggil tiga kali teriakan:

Wahai anak Adam!!!

Dimanakah tubuhmu yang kuat, bukankah sekarang ini kamu menjadi lemah ?

Dimana mulutmu yang bijak, bukankah sekarang kamu diam ?

Dimana kekasihmu, bukankah mereka sekarang mengasingkan kamu?

Dikala mayat diletakkan di tempat kafan, ia dipanggil tiga kali jeritan:

Wahai anak Adam!!!

Pergilah kamu ketempat yang jauh ke tanpa membawa bekal!

Keluarlah kamu dari rumahmu, dan tidak usah kembali!

Naiklah kuda, dan kamu tidak akan naik seperti itu selamanya, kamu akan menjadi sesuatu di dalam rumah yang penuh kesedihan!

Sewaktu mayat itu dipikul diatas usungan, ia dipanggil tiga kali jeritan:

“Wahai anak Adam!!!

Sangat berbahagialah kamu jika kamu termasuk orang yang bertaubat.

Sangat berbahagialah kamu jika amal kamu baik.

Sangat berbahagialah kamu jika sahabatmu dalam keridhaan Allah, dan alangkah celakanya kamu jika para sahabatmu orang yang dimurkai Allah.”

Sewaktu mayat diletakkan untuk disholatkan, maka ia dipanggil tiga kali teriakan:

Wahai anak Adam!!!

Segala amal yang telah kamu lakukan akan kamu lihat!

Jika amal perbuatanmu baik, maka kamu akan melihat baik!

Jika amal perbuatanmu buruk, kamu pun akan melihat buruk!”

Kemudian apabila mayat sudah berada di tepi kubur, maka ia dipanggil lagi tiga kali teriakan:

“Wahai anak Adam!!!

Bukankah kamu menambahkan damai pada tempat yang sempit ini ?

Bukankah kamu membawa kekayaan di tempat kekafiran ini ?

Bukankah kamu membawa penerang ditempat yang gelap ini ?

Dan jika mayat diletakkan pada liang kubur, maka iapun dipanggil dengan tiga kali jeritan:

Wahai anak Adam!!!

Kamu di atas punggungku bersenda gurau, tapi kamu dalam perutku menjadi menangis.

Kamu berada diatas punggungku bergembira ria, tapi kamu dalam perutku menjadi cemas dan duka.

Kamu diatas punggungku dapat berbicara, tapi kamu dalam perutku kamu menjadi diam.”

Setelah manusia pulang meninggalkan mayat yang sudah dikuburkan itu, lalu Allah SWT berfirman: “Wahai hamba-hambaKu, kamu tetap terpencil dan bersendirian, para manusia sudah pergi dan pulang meninggalkan kamu bersendirian dalam kegelapan kubur.

Padahal kamu telah berbuat maksiat kepada-Ku karenapara manusia, karena isteri dan anak. Namun Aku sangat kasihan kepadamu pada hari ini dengan limpahan Rahmat, yang denganya para makhluk semua kagum. Dan aku lebih kasihan kepadamu daripada kasih IBU kepada anaknya.”

Wahai saudara muslimin ku… … siapakah mayat itu… … … .aku, kau, kamu semua sudah pasti akan menjadi mayat suatu hari nanti. Dikala itu kita pasti akan mendengar jeritan yang amat menggerikan itu hinggakan makhluk yang lain mendengarnya merasa takut dan kagum terhadap Maha Pencipta. Mana amalan mu… … … mana kebaikanmu sebagai Khalifah Allah dimuka bumi ini… … … … … … ???????

MATA YANG TIDAK MENANGIS DI HARI KIAMAT

Semua kaum Muslim berkeyakinan bahwa dunia dan kehidupan ini akan berakhir, akan datang suatu saat ketika manusia berkumpul di pengadilan Allah Swt.

Al-Quran menceritakan berkali-kali tentang peristiwa Hari Kiamat ini, seperti yang disebutkan dalam surah Al-Ghasyiyah ayat 1-16. dalam surah itu, digambarkan bahwa tidak semua wajah ketakutan. Ada wajah-wajah yang pada hari itu cerah ceria. Mereka merasa bahagia dikarenakan perilakunya di dunia. Dia ditempatkan pada surga yang tinggi. Itulah kelompok orang yang di Hari Kiamat memperoleh kebahagiaan.

Tentang wajah-wajah yang tampak ceria dan gembira di Hari Kiamat, Rasulullah pernah bersabda, “Semua mata akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga hal. Pertama, mata yang menangis karena takut kepada Allah Swt. Kedua, mata yang dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan Allah. Ketiga, mata yang tidak tidur karena mempertahankan agama Allah.”

Mari kita melihat diri kita, apakah mata kita termasuk mata yang menangis di Hari Kiamat ? Dahulu, dalam suatu riwayat, ada seorang yang kerjanya hanya mengejar-ngejar hawa nafsu, bergumul dan berkelana di teinpat-tempat maksiat, dan pulang larut malam.Dari tempat itu, dia pulang dalam keadaan sempoyongan. Di tengah jalan, di sebuah rumah, lelaki itu mendengar sayup-sayup seseorang membaca Al-Quran. Ayat yang dibaca itu berbunyi: “Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kenudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang yang fasik (Qs 57: 16).

Sepulangnya dia di rumah, sebelum tidur, lelaki itu mengulangi lagi bacaan itu di dalam hatinya. Kemudian tanpa terasa air mata mengalir di pipinya. Si pemuda merasakan ketakutan yang luar biasa. Bergetar hatinya di hadapan Allah karena perbuatan maksiat yang pemah dia lakukan. Kemudian ia mengubah cara hidupnya. Ia mengisi hidupnya dengan mencari ilmu, beramal mulia dan beribadah kepada Allah Swt., sehingga di abad kesebelas Hijri dia menjadi seorang ulama besar, seorang bintang di dunia taS.A.W uf.

Orang ini bernama Fudhail bin Iyadh. Dia kembali ke jalan yang benar kerena mengalirkan air mata penyesalan atas kesalahannya di masa lalu lantaran takut kepada Allah Swt. Berbahagialah orang-orang yang pernah bersalah dalam hidupnya kemudian menyesali kesalahannya dengan cara membasahi matanya dengan air mata penyesalan. Mata seperti itu insya Allah termasuk mata yang tidak menangis di Hari Kiamat.

Kedua, mata yang dipalingkan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Seperti telah kita ketahui bahwa Rasulullah pernah bercerita tentang orang-orang yang akan dilindungi di Hari Kiamat ketika orang-orang lain tidak mendapatkan perlindungan. Dari ketujah orang itu salah satu di antaranya adalah seseorang yang diajak melakukan maksiat oleh perempuan, tetapi dia menolak ajakan itu dengan mengatakan, “Aku takut kepada Allah”.

Nabi Yusuf as. mewakili kisah ini. Ketika dia menolak ajakan kemaksiatan majikannya. Mata beliau termasuk mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat, lantaran matanya dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah Swt.

Kemudian mata yang ketiga adalah mata yang tidak tidur karena membela agama Allah. Seperti mata pejuang Islam yang selalu mempertahahkan keutuhan agamanya, dan menegakkan tonggak Islam. Itulah tiga pasang mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat, yang dilukiskan oleh Al-Quran sebagai wajah-wajah yang berbahagia di Hari Kiamat nanti.

BILA AJAL MULAI MENDEKAT

Baginda Rasullullah S.A.W berkata : Apabila telah sampai ajal seseorang itu maka akan masuklah satu kumpulan malaikat ke dalam lubang-lubang kecil dalam badan dan kemudian mereka menarik rohnya melalui kedua-dua telapak kakinya sehingga sampai kelutut. Setelah itu datang pula sekumpulan malaikat yang lain masuk menarik roh dari lutut hingga sampai ke perut dan kemudiannya mereka keluar. Datang lagi satu kumpulan malaikat yang lain masuk dan menarik rohnya dari perut hingga sampai ke dada dan kemudiannya mereka keluar.

Dan akhir sekali datang lagi satu kumpulan malaikat masuk dan menarik roh dari dadanya hingga sampai ke kerongkong dan itulah yang dikatakan saat nazak orang itu.”

Sambung Rasullullah S.A.W. lagi: “Kalau orang yang nazak itu orang yang beriman, maka malaikat Jibrail A.S. akan menebarkan sayapnya yang disebelah kanan sehingga orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di syurga. Apabila orang yang beriman itu melihat syurga, maka dia akan lupa kepada orang yang berada disekelilinginya. Ini adalah karena sangat rindunya pada syurga dan melihat terus pandangannya kepada sayap Jibrail A.S.” Kalau orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibrail A.S. akan menebarkan sayap disebelah kiri. Maka orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di neraka dan dalam masa itu orang itu tidak lagi melihat orang disekelilinginya. Ini adalah karena terlalu takutnya apabila melihat neraka yang akan menjadi tempat tinggalnya. Dari sebuah hadis bahwa apabila Allah S.W.T. menghendaki seorang mukmin itu dicabut nyawanya maka datanglah malaikat maut. Apabila malaikat maut hendak mencabut roh orang mukmin itu dari arah mulut maka keluarlah zikir dari mulut orang mukmin itu dengan berkata: “Tidak ada jalan bagimu mencabut roh orang ini melalui jalan ini karena orang ini sentiasa menjadikan lidahnya berzikir kepada Allah S.W.T.” Setelah malaikat maut mendengar penjelasan itu, maka dia pun kembali kepada Allah S.W.T. dan menjelaskan apa yang diucapkan oleh lidah orang mukmin itu. Lalu Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud: “Wahai malaikat maut, kamu cabutlah ruhnya dari arah lain.” Sebaik saja malaikat maut mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut pun cuba mencabut roh orang mukmin dari arah tangan. Tapi keluarlah sedekah dari arah tangan orang mukmin itu, keluarlah usapan kepala anak-anak yatim dan keluar penulisan ilmu. Maka berkata tangan: “Tidak ada jalan bagimu untuk mencabut roh orang mukmin dari arah ini, tangan ini telah mengeluarkan sedekah, tangan ini mengusap kepala anak-anak yatim dan tangan ini menulis ilmu pengetahuan.”

Oleh karena malaikat maut gagal untuk mencabut roh orang mukmin dari arah tangan maka malaikat maut cuba pula dari arah kaki. Malangnya malaikat maut juga gagal melakukan sebab kaki berkata:”Tidak ada jalan bagimu dari arah ini karena kaki ini sentiasa berjalan berulang alik mengerjakan solat dengan berjemaah dan kaki ini juga berjalan menghadiri majlis-majlis ilmu.” Apabila gagal malaikat maut, mencabut roh org mukmin dari arah kaki,maka malaikat maut cuba pula dari arah telinga. Sebaik saja malaikat maut menghampiri telinga maka telinga pun berkata: “Tidak ada jalan bagimu dari arah ini karena telinga ini sentiasa mendengar bacaan Al-Quran dan zikir.” Akhir sekali malaikat maut cuba mencabut orang mukmin dari arah mata tetapi baru saja hendak menghampiri mata maka berkata mata: “Tidak ada jalan bagimu dari arah ini sebab mata ini sentiasa melihat beberapa mushaf dan kitab-kitab dan mata ini sentiasa menangis karena takutkan Allah.” Setelah gagal maka malaikat maut kembali kepada Allah S.W.T. Kemudian Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud: “Wahai malaikatKu, tulis AsmaKu ditelapak tanganmu dan tunjukkan kepada roh orang yang beriman itu.”

Sebaik saja mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut menghampiri roh orang itu dan menunjukkan Asma Allah S.W.T. Sebaik saja melihat Asma Allah dan cintanya kepada Allah S.W.T maka keluarlah roh tersebut dari arah mulut dengan tenang. Abu Bakar R.A. telah ditanya tentang kemana roh pergi setelah ia keluar dari jasad.

Maka berkata Abu Bakar R.A: “Roh itu menuju ketujuh tempat:

1. Roh para Nabi dan utusan menuju ke Syurga Adnin.

2. Roh para ulama menuju ke Syurga Firdaus.

3. Roh mereka yang berbahagia menuju ke Syurga Illiyyina.

4. Roh para shuhada berterbangan seperti burung di syurga mengikut kehendak mereka.

5. Roh para mukmin yang berdosa akan tergantung di udara tidak di bumi dan tidak di langit sampai hari kiamat.

6. Roh anak-anak orang yang beriman akan berada di gunung dari minyak misik.

7. Roh orang-orang kafir akan berada dalam neraka Sijjin, mereka diseksa berserta jasad-nya hingga sampai hari Kiamat.”

Telah bersabda Rasullullah S.A.W :

“Tiga kelompok manusia yang akan dijabat tangannya oleh para malaikat pada hari mereka keluar dari kuburnya :

1. Orang-orang yang mati syahid.

2. Orang-orang yang mengerjakan solat malam dalam bulan ramadhan.

3. Orang berpuasa di hari Arafah.

Insya Allah kita termasuk kelompok yang tersebut diatas Amin ya robbal ‘Alamiin

KISAH RAHASIA DIBALIK SHALAT LIMA WAKTU

Ali bin Abi Talib r.a. berkata, “Sewaktu Rasullullah S.A.W duduk bersama para sahabat Muhajirin dan Ansar, maka dengan tiba-tiba datanglah satu rombongan orang-orang Yahudi lalu berkata, ‘Ya Muhammad, kami hendak bertanya kepada kamu kalimat-kalimat yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa a.s. yang tidak diberikan kecuali kepada para Nabi utusan Allah atau malaikat muqarrab.’

Lalu Rasullullah S.A.W bersabda, ‘Silakan bertanya.’

Berkata orang Yahudi, ‘Sila terangkan kepada kami tentang 5 waktu yang diwajibkan oleh Allah ke atas umatmu.’

Sabda Rasullullah S.A.W , ‘Shalat Zuhur jika tergelincir matahari, maka bertasbihlah segala sesuatu kepada Tuhannya. Shalat Asar itu ialah saat ketika Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Shalat Maghrib itu adalah saat Allah menerima taubat Nabi Adam a.s. Maka setiap mukmin yang bershalat Maghrib dengan ikhlas dan kemudian dia berdoa meminta sesuatu pada Allah maka pasti Allah akan mengkabulkan permintaannya. Shalat Isyak itu ialah shalat yang dikerjakan oleh para Rasul sebelumku. Shalat Subuh adalah sebelum terbit matahari. Ini karena apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syaitan dan di situ sujudnya setiap orang kafir.’

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah S.A.W , lalu mereka berkata, ‘Memang benar apa yang kamu katakana itu Muhammad. Katakanlah kepada kami apakah pahala yang akan didapati oleh orang yang shalat.’

Rasullullah S.A.W bersabda, ‘Jagalah waktu-waktu shalat terutama shalat yang pertengahan. Shalat Zuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam. Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat pada ketika itu akan diharamkan ke atasnya wap api neraka Jahanam pada hari Kiamat.’

Sabda Rasullullah S.A.W lagi, ‘Manakala shalat Asar, adalah saat di mana Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.’

Selepas itu Rasullullah S.A.W membaca ayat yang bermaksud, ‘Jagalah waktu-waktu shalat terutama sekali shalat yang pertengahan. Shalat Maghrib itu adalah saat di mana taubat Nabi Adam a.s. diterima. Seorang mukmin yang ikhlas mengerjakan shalat Maghrib kemudian meminta sesuatu daripada Allah, maka Allah akan perkenankan.’

Sabda Rasullullah S.A.W , ‘Shalat Isyak (atamah). Katakan kubur itu adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi menunaikan shalat Isyak berjamaah, Allah SWT haramkan dirinya daripada terkena nyala api neraka dan diberikan kepadanya cahaya untuk menyeberangi Titian Sirath.’

Sabda Rasullullah S.A.W seterusnya, ‘Shalat Subuh pula, seseorang mukmin yang mengerjakan shalat Subuh selama 40 hari secara berjamaah, diberikan kepadanya oleh Allah SWT dua kebebasan iaitu:

1. Dibebaskan daripada api neraka.

2. Dibebaskan dari nifaq.

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan daripada Rasullullah S.A.W , maka mereka berkata, ‘Memang benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad (S.A.W ). Kini katakan pula kepada kami semua, kenapakah Allah SWT mewajibkan puasa 30 hari ke atas umatmu ?

Sabda Rasullullah S.A.W , ‘Ketika Nabi Adam memakan buah pohon khuldi yang dilarang, lalu makanan itu tersangkut dalam perut Nabi Adam a.s. selama 30 hari. Kemudian Allah SWT mewajibkan ke atas keturunan Adam a.s. berlapar selama 30 hari.

Sementara diizin makan di waktu malam itu adalah sebagai kurnia Allah SWT kepada makhluk-Nya.’

Kata orang Yahudi lagi, ‘Wahai Muhammad, memang benarlah apa yang kamu katakan itu. Kini terangkan kepada kami mengenai ganjaran pahala yang diperolehi daripada berpuasa itu.’

Sabda Rasullullah S.A.W , ‘Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Ramadhan dengan ikhlas kepada Allah SWT, dia akan diberikan oleh Allah SWT 7 perkara:

1. Akan dicairkan daging haram yang tumbuh dari badannya (daging yang tumbuh daripada makanan yang haram).

2. Rahmat Allah sentiasa dekat dengannya.

3. Diberi oleh Allah sebaik-baik amal.

4. Dijauhkan daripada merasa lapar dan dahaga.

5. Diringankan baginya siksa kubur (siksa yang amat mengerikan).

6. Diberikan cahaya oleh Allah SWT pada hari Kiamat untuk menyeberang Titian Sirath.

7. Allah SWT akan memberinya kemudian di syurga.’

Kata orang Yahudi, ‘Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakan kepada kami kelebihanmu di antara semua para nabi.’

Sabda Rasullullah S.A.W , ‘Seorang nabi menggunakan doa mustajabnya untuk membinasakan umatnya, tetapi saya tetap menyimpankan doa saya (untuk saya gunakan memberi syafaat kepada umat saya di hari kiamat).’

Kata orang Yahudi, ‘Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Kini kami mengakui dengan ucapan Asyhadu Alla illaha illallah, wa annaka Rasulullah (kami percaya bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan engkau utusan Allah).’

Sedikit peringatan untuk kita semua: “Dan sesungguhnya akan Kami berikan cubaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Surah Al-Baqarah: ayat 155)

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Surah Al-Baqarah: ayat 286)

GUGURNYA DOSA BERSAMA TETESAN AIR WUDLU

Abu Nadjih (Amru) bin Abasah Assulamy r.a berkata : Pada masa Jahiliyah, saya merasa bahwa semua manusia dalam kesesatan, karena mereka menyembah berhala. Kemudian saya mendengar berita ; Ada seorang di Mekkah memberi ajaran-ajaran yang baik. Maka saya pergi ke Mekkah, di sana saya dapatkan Rasulullah S.A.W masih sembunyi-sembunyi, dan kaumnya sangat congkak dan menentang padanya.

Maka saya berdaya-upaya hingga dapat menemuinya, dan bertanya kepadanya : Apakah kau ini ?

Jawabnya : Saya Nabi.

Saya tanya : Apakah nabi itu ?

Jawabnya : Allah mengutus saya.

Diutus dengan apakah ?

Jawabnya : Allah mengutus saya supaya menghubungi famili dan menghancurkan berhala, dan meng-Esa-kan Tuhan dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Saya bertanya : Siapakah yang telah mengikuti engkau atas ajaran itu ?

Jawabnya : Seorang merdeka dan seorang hamba sahaya ( Abubakar dan Bilal ).

Saya berkata : Saya akan mengikuti kau.

Jawabnya : Tidak dapat kalau sekarang, tidakkah kau perhatikan keadaan orang-orang yang menentang kepadaku, tetapi pulanglah kembali ke kampung, kemudian jika telah mendengar berita kemenanganku, maka datanglah kepadaku.

Maka segera saya pulang kembali ke kampung, hingga hijrah Rasulullah S.A.W ke Madinah, dan saya ketika itu masih terus mencari berita, hingga bertemu beberapa orang dari familiku yang baru kembali dari Madinah, maka saya bertanya : Bagaimana kabar orang yang baru datang ke kota Madinah itu ?

Jawab mereka : Orang-orang pada menyambutnya dengan baik, meskipun ia akan dibunuh oleh kaumnya, tetapi tidak dapat. Maka berangkatlah saya ke Madinah dan bertemu pada Rasulullah S.A.W .

Saya berkata : Ya Rasulullah apakah kau masih ingat pada saya ?

Jawabnya : Ya, kau yang telah menemui saya di Mekkah.

Lalu saya berkata : Ya Rasulullah beritahukan kepada saya apa yang telah diajarkan Allah kepadamu dan belum saya ketahui. Beritahukan kepada saya tentang shalat ?

Jawab Nabi : Shalatlah waktu Shubuh, kemudian hentikan shalat hingga matahari naik tinggi sekadar tombak, karena pada waktu terbit matahari itu seolah-olah terbit di antara dua tanduk syaitan, dan ketika itu orang-orang kafir menyembah sujud kepadanya. Kemudian setelah itu kau boleh shalat sekuat tenagamu dari sunnat, karena shalat itu selalu disaksikan dan dihadiri Malaikat, hingga matahari tegak di tengah-tengah, maka di situ hentikan shalat karena pada saat itu dinyalakan Jahannam, maka bila telah telingsir dan mulai ada bayangan, shalatlah, karena shalat itu selalu disaksikan dan dihadiri Malaikat, hingga shalat Asar. Kemudian hentikan shalat hingga terbenam matahari, karena ketika akan terbenam matahari itu seolah-olah terbenam di antara dua tanduk syaithan dan pada saat itu bersujudlah orang-orang kafir.

Saya bertanya : Ya Nabiyullah : Ceriterakan kepada saya tentang wudlu’ !

Bersabda Nabi : Tiada seorang yang berwudlu’ lalu berkumur dan menghirup air, kemudian mengeluarkannya dari hidungnya melainkan keluar semua dosa-dosa dari mulut dan hidung. Kemudian jika ia membasuh mukanya menurut apa yang diperintahkan Allah, jatuhlah dosa-dosa mukanya dari ujung jenggotnya bersama tetesan air.

Kemudian bila membasuh kedua tangan sampai kedua siku, jatuhlah dosa-dosa dari ujung jari-jarinya bersama tetesan air. Kemudian mengusap kepala maka jatuh semua dosa dari ujung rambut bersama tetesan air, kemudian membasuh dua kaki ke matakaki, maka jatuhlah semua dosa kakinya dari ujung jari bersama tetesan air.

Maka bila ia shalat sambil memuja dan memuji Allah menurut lazimnya, dan membersihkan hati dari segala sesuatu selain Allah, maka keluar dari semua dosanya bagaikan lahir dari perut ibunya ” ( HR. Muslim )

Ketika Amru bin Abasah menceritakan hadits ini kepada Abu Umamah, oleh Abu Umamah ditegur : Hai Amru bin Abasah perhatikan keteranganmu itu, masakan dalam satu perbuatan orang diberi ampun demikian rupa. Jawab Amru : Hai Abu Umamah, telah tua usiaku, dan rapuh tulangku, dan hampir ajalku, dan tiada kepentingan bagiku untuk berdusta terhadap Allah atau Rasulullah S.A.W .

Andaikan saya tidak mendengar dari Rasulullah, hanya satu dua atau tiga empat kali, atau lima enam tujuh kali tidak akan saya ceritakan, tetapi saya telah mendengar lebih dari itu ” ( HR. Muslim )

KESEMPURNAAN SEORANG MUSLIM

Seorang sahabat bertanya kepada Rosulullah S.A.W , Dia berkata : Aku ingin menjadi orang yang alim

Baginda S.A.W menjawab : Takutlah kepada Allah maka engkau akan jadi orang yang alim

Dia berkata : Aku ingin menjadi orang paling kaya

Baginda S.A.W menjawab : Jadilah orang yang yakin pada diri sendiri maka engkau akan jadi orang paling kaya

Dia berkata : Aku ingin menjadi orang yang adil

Baginda S.A.W menjawab: Kasihanilah manusia yang lain sebagaimana engkau kasih pada diri sendiri maka jadilah engkau seadil-adil manusia

Dia berkata : Aku ingin menjadi orang yang paling baik

Baginda S.A.W menjawab: Jadilah orang yang berguna kepada masyarakat maka engkau akan jadi sebaik-baik manusia

Dia berkata : Aku ingin menjadi orang yang istimewa di sisi Allah

Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan dzikrullah niscaya engkau akan jadi orang istimewa di sisi Allah

Dia berkata : Aku ingin disempurnakan imanku

Baginda S.A.W menjawab : Baikkanlah akhlakmu niscaya imanmu akan sempurna

Dia berkata : Aku ingin termasuk dalam golongan mereka yang taat

Baginda S.A.W menjawab : Tunaikan segala kewajiban yang difardhukan maka engkau akan termasuk dalam golongan mereka yang taat

Dia berkata : Aku ingin berjumpa Allah dalan keadaan bersih dari dosa

Baginda S.A.W menjawab : Bersihkan dirimu dari dosa niscaya engkau akan menemui Allah dalam keadaan suci dari dosa

Dia berkata : Aku ingin dihapuskan segala dosaku

Baginda S.A.W menjawab : Banyaklah beristighfar niscaya akan dihapuskan (kurangkan ) segala dosamu

Dia berkata : Aku ingin menjadi semulia-mulia manusia

Baginda S.A.W menjawab : Jangan berprasangka pada orang lain niscaya engkau akan jadi semulia-mulia manusia

Dia berkata : Aku ingin menjadi segagah-gagah manusia

Baginda S.A.W menjawab : Senantiasa berserah diri (tawakkal) kepada Allah niscaya engkau akan jadi segagah-gagah manusia

Dia berkata : Aku ingin dimurahkan rezeki oleh Allah

Baginda S.A.W menjawab : Senantiasa berada dalam keadaan bersih ( dari hadast ) niscaya Allah akan memurahkan rezeki kepadamu

Dia berkata : Aku ingin termasuk dalam golongan mereka yang dikasihi oleh Allah dan rasulNya

Baginda S.A.W menjawab : Cintailah segala apa yang disukai oleh Allah dan rasulNya maka engkau termasuk dalam golongan yang dicintai oleh Mereka

Dia berkata : Aku ingin diselamatkan dari kemurkaan Allah pada hari qiamat

Baginda S.A.W menjawab : Jangan marah kepada orang lain niscaya engkau akan selamat dari kemurkaan Allah dan rasulNya

Dia berkata : Aku ingin diterima segala permohonanku

Baginda S.A.W menjawab : Jauhilah makanan haram nescaya segala permohonanmu akan diterimaNya

Dia berkata : Aku ingin agar Allah menutupkan segala keaibanku pada hari qiamat

Baginda S.A.W menjawab : Tutupilah keburukan orang lain niscaya Allah akan menutup keaibanmu pada hari qiamat

Dia berkata : Siapa yang selamat dari dosa?

Baginda S.A.W menjawab : Orang yang senantiasa mengalirkan air mata penyesalan, mereka yang tunduk padakehendakNya dan mereka yang ditimpa kesakitan

Dia berkata : Apakah kebaikan terbesar di sisi Allah?

Baginda S.A.W menjawab : Baik budi pekerti, rendah diri dan sabar menghadapi cobaan Allah

Dia berkata : Apakah kejahatan terbesar di sisi Allah?

Baginda S.A.W menjawab : Buruk akhlak dan sedikit ketaatan

Dia berkata : Apakah yang meredakan kemurkaan Allah di dunia dan akhirat ?

Baginda S.A.W menjawab : Sedekah dalam keadaan sembunyi dan menghubungkan persaudaraan

Dia berkata: Apakan yang akan memadamkan api neraka pada hari qiamat?

Baginda S.A.W menjawab : sabar di dunia dengan bala dan musibah

ORANG-ORANG TAMAK

Ada dua orang yang tamak dan masing-masing tidak akan kenyang. Pertama, orang tamak untuk menuntut ilmu, dia tidak akan kenyang. Kedua, orang tamak memburu harta, dia tidak akan kenyang.

(Nabi Muhammad S.A.W ) Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas ra di atas, ada dua karakter orang tamak yang tidak akan pernah puas terhadap apa yang dimilikinya dan senantiasa berusaha untuk menambahnya.

Namun, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda menurut sisi pandang Islam.

Adalah terpuji jika ada seorang Muslim yang tamak terhadap ilmu. Muslim seperti ini senantiasa menginginkan derajat keilmuan, akhlak, amal kebajikan, dan usahanya untuk meraih kemuliaan, yang akan mengetuk hatinya untuk menapaki tangga kesempurnaan sebagai seorang Muslim. Ia selalu memanfaatkan segala kesempatan untuk mengkaji Islam dalam memecahkan problem kehidupan manusia dengan hikmah. Sabda Rasulullah S.A.W , “Ilmu laksana hak milik seorang Mukmin yang hilang, di manapun ia menjumpainya, di sana ia mengambilnya,” (HR Al Askari dari Anas ra).

Sedangkan ketamakan terhadap harta hanyalah akan menghasilkan sifat buas, laksana serigala yang terus mengejar dan memangsa buruannya walaupun harta itu bukan haknya. Fitrah manusia memang sangat mencintai harta kekayaan dan berhasrat keras mendapatkannya sebanyak mungkin dengan segala cara dan usaha. Firman Allah SWT: Katakanlah (hai Muhammad), jika seandainya kalian menguasai semua perbendaharaan rahmat Tuhan, niscaya perbendaharaan (kekayaan) itu kalian tahan (simpan) karena takut menginfakkannya (mengeluarkannya). Manusia itu memang sangat kikir. (QS Al Isra': 100).

Rasulullah S.A.W bersabda, “Hamba Allah selalu mengatakan, ‘Hartaku, hartaku’, padahal hanya dalam tiga soal saja yang menjadi miliknya yaitu apa yang dimakan sampai habis, apa yang dipakai hingga rusak, dan apa yang diberikan kepada orang sebagai kebajikan. Selain itu harus dianggap kekayaan hilang yang ditinggalkan untuk kepentingan orang lain,” (HR Muslim).

Seorang Mukmin adalah orang yang meyakini bahwa rezeki telah ditentukan oleh Allah SWT. Dia juga yakin bahwa setiap manusia tidak akan menemui ajalnya sebelum semua rezeki yang telah ditetapkan oleh Allah dicukupkan kepadanya.

Ia merasa cukup terhadap harta yang telah diperolehnya dan menyadari ada hak orang lain atas kelebihan harta yang dimilikinya. Ia infakkan sebagian hartanya di jalan Allah untuk membantu saudara-saudaranya yang dilanda kelaparan dan kekurangan. Demikianlah yang patut dilakukan seorang Muslim dan ia tidak lagi silau terhadap kekayaan orang lain yang dihimpun karena ketamakan.

Rasulullah bersabda, “Tidak ada iri hati kecuali dalam dua perkara, (yaitu) orang yang dikaruniai harta kekayaan dan dihabiskan untuk menegakkan kebenaran, dan orang yang dikaruniai hikmah kemudian ia melaksanakan dan mengajarkannya (kepada orang lain).”

NERAKA JAHANAM

Diriwayatkan dari Umar Ibnul Khattab r.a. : Telah datang Jibril kepada Nabi Muhammad S.A.W bukan pada waktu yang biasanya ia datang, Rasulullah S.A.W lalu berdiri mendapatkannya dan bertanya : Hai Jibril, kenapa aku melihat engkau berobah warnamu. Berkata Jibril : Aku datang kepadamu untuk menerangkan semburan api Neraka. Berkata Rasulullah S.A.W : Terangkanlah kepadaku keadaan Neraka dan hal-ihwal Jahannam. Berkata Jibril : Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan agar Jahannam dinyalakan apinya 1000 tahun lamanya, sehingga karena semakin panasnya maka berobah warnanya menjadi putih. Lalu diperintahkan menyalakan 1000 tahun lagi, sehingga berobah warnanya menjadi merah. Lalu diperintahkan menyalakan 1000 tahun lagi, sehingga berobah warnanya menjadi hitam yang amat gelap, sehingga hilang sinarnya, bergejolak-gejolak tak padam-padam bakarannya.

Demi Tuhan yang mengutusmu dengan kebenaran, sekiranya dibukakanlah Jahannam itu sebesar lobang jarum, akan terbakarlah bumi dan segala isinya karena panasnya. Dan demi Tuhan yang mengutusmu dengan kebenaran, sekiranya salah satu dari penjaga-penjaga Neraka itu didatangkan Allah SWT ke dunia ini, akan matilah seluruh manusia isi bumi ini karena kejelekan rupanya dan kebusukan baunya. Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran, sekiranya sebuah ring ( lingkaran ) dari rantai Neraka diletakkan di atas sebuah gunung di dunia ini, akan tembuslah gunung itu sampai-sampai ke dasar bumi, yang paling bawah. Maka berkata Rasulullah S.A.W : Untunglah hai Jibril, jantungku tak sampai pecah sehingga aku mati mendengar keteranganmu ini.

Rasulullah melihat Jibril menangis, Rasulullah S.A.W turut menangis pula, lalu berkata : Kenapa engkau sampai menangis pula ya Jibril, sedang kedudukanmu begitu rupa di sisi Allah SWT ? Berkata Jibril : Kenapa aku tak akan menangis, malah akulah yang lebih berhak untuk menangis, karena siapa tahu keadaanku dalam ilmu Allah SWT tidak seperti yang aku ketahui, dan saya tidak mengetahui apakah saya tidak akan mengalami cobaan sebagai yang telah telah dialami oleh iblis, sedang iblis itu termasuk golongan Malaikat (tetapi nyeleweng ), dan aku tidak tahu apakah aku akan mengalami apa yang dialami oleh Harut dan Marut. Maka menangislah Jibril dan menangis pulalah Rasulullah S.A.W . Lama keduanya sama-sama menangis, lalu datanglah seruan dari langit : Hai Jibril, Hai Muhammad, sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla telah menjamin kamu berdua dengan tidak akan durhaka. Lalu Jibril naik ke langit, dan Rasulullah S.A.W lalu meneruskan perjalanan beliau, sehingga bertemu dengan sekelompok orang-orang Anshar yang bermain-main dan ketawa-ketawa. Lalu berkata Rasulullah S.A.W kepada mereka : Apakah kamu ketawa-ketawa sedang di belakangmu Neraka Jahannam. Sekiranya kamu ketahuilah akan apa yang aku ketahui, sungguh kamu akan ketawa sedikit dan akan menangis banyak, kamu takakan makan dan tak akan minum, malah akan menuju ke tempat-tempat tinggi untuk bermohon minta perlindungan Allah SWT.

999 MASUK NERAKA

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi sebagai berikut: Allah swt. berfirman pada hari qiamat: “Hai Adam! Bangkitlah, siapkanlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan keturunanmu (untuk ditempatkan) dalam neraka, dan satu (di antara mereka itu), akan ditempatkan dalam syurga”.

(Ketika Rasulullah S.A.W menerimanya kemudian menyampaikannya kepada para sahabat), beliau menangis tersedu-sedu, demikian pula para sahabat lainnya, lalu beliau bersabda: “Angkatlah kepala kalian. Demi Allah Yang menguasai jiwaku. (Dibandingkan) dengan ummat-ummat Nabi yang lain, ummat-Ku hanyalah bagaikan selembar bulu putih (yang terdapat) pada kulit lembu jantan yang berbulu hitam. (Hadith Qudsi Riwayat Thabarani di dalam kitab al-Kabir yang bersumber dari Abud-Darda’ r.a.)

Banyaknya yang masuk neraka dan sedikitnya yang masuk syurga menurut Hadits di atas, dapat kita ramalkan dari sekarang. Di saat kita hidup dewasa ini kita saksikan banyaknya orang-orang kafir, orang-orang musyrik, munafiq, dan atheis yang menghiasi dunia ini dengan kema’siatan. Malah banyak pula orang-orang yang dirinya mengaku Muslim (beragama Islam) tetapi fasiq , suka menurutkan keinginan hawa nafsu, hanya mengikuti arus kehidupan yang melanggar ketentuan Agama. Banyak pula yang dengan sadar atau tidak sadar keluar dari garis-garis batasnya. Mereka inilah yang dimaksud dan termasuk golongan yang 999 itu.

Ketika Nabi S.A.W . mendengar hal sedikitnya orang-orang yang masuk syurga itu, beliau merasa sedih, lalu menangis. Para shahabat merasa kuatir dan takut kalau-kalau termasuk golongan banyak yang masuk neraka, sehingga mereka pun turut menangis pula.

Menyaksikan betapa sedu-sedannya para sahabat menangis, Nabi S.A.W . berkeinginan untuk menghibur mereka dan menyampaikan khabar gembira yang telah dikurniakan dan disampaikan Allah kepada ummat beliau. Beliau memerintahkan kepada mereka untuk mengangkat muka dan berhenti menangis. Beliau menyampaikan berita yang menegaskan bahwa banyak di antara ummat Muhammad yang mendapat taufiq dan hidayah Allah, serta berjalan di atas rel-Nya. Sehelai bulu berwarna putih pada kulit lembu hitam itu memang sedikit.

Ummat Muhammad S.A.W . itu memang sedikit dibandingkan dengan banyaknya ummat-ummat yang sesat dan menyeleweng. Selain jumlahnya sedikit, ummat Nabi Muhammad, adalah sebaik-baik ummat, menurut al-Quran. Sewajibnyalah kita sebagai ummat yang baik, berusaha sekuat tenaga untuk senantiasa dapat mempertahankan kedudukan yang mulia ini.

KETIKA DOSA ANDA SEDALAM SAMUDERA

Pernahkah kita menghitung dosa yang kita lakukan dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun bahkan sepanjang usia kita ?

Andaikan saja kita bersedia menyediakan satu kotak kosong, lalu kita masukkan semua dosa-dosa yang kita lakukan, kira-kira apa yang terjadi ? Saya menduga kuat bahwa kotak tersebut sudah tak berbentuk kotak lagi, karena tak mampu menaham muatan dosa kita.

Bukankah shalat kita masih “bolong-bolong” ? Bukankah pernah kita tahan hak orang miskin yang ada di harta kita ? Bukankah pernah kita kobarkan rasa dengki dan permusuhan kepada sesama muslim ? Bukankah kita pernah melepitkan selembar amplop agar urusan kita lancar ? Bukankah pernah kita terima uang tak jelas statusnya sehingga pendapatan kita berlipat ganda ? Bukankah kita tak mau menolong saudara kita yg dalam kesulitan walaupun kita sanggup menolongnya ?

Daftar ini akan menjadi sangat panjang… …

Lalu, apa yang harus kita lakukan ?

Allah berfirman dalam Surat az-Zumar [39]: 53 “Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Indah benar ayat ini, Allah menyapa kita dengan panggilan yang bernada teguran, namun tidak diikuti dengan kalimat yang berbau murka. Justru Allah mengingatkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Allah pun menjanjikan untuk mengampuni dosa-dosa kita.

Karena itu, kosongkanlah lagi kotak yang telah penuh tadi dengan taubat pada-Nya.Kita kembalikan kotak itu seperti keadaan semula, kita kembalikan jiwa kita ke pada jiwa yang fitri dan nazih.

Jika anda mempunyai onta yang lengkap dengan segala perabotannya, lalu tiba-tiba onta itu hilang. Bukankah anda sedih ? Bagaimana kalau tiba-tiba onta itu datang kembali berjalan menuju anda lengkap dengan segala perbekalannya ? Bukankah Anda akan bahagia ? “Ketahuilah,” kata Rasul, “Allah akan lebih senang lagi melihat hamba-Nya yang berlumuran dosa berjalan kembali menuju-Nya!”

Allah berfirman: “Dan kembalilahh kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS 39:54)

Seperti onta yang sesat jalan dan mungkin telah tenggelam di dasar samudera, mengapa kita tak berjalan kembali menuju Allah dan menangis di “kaki kebesaran-Nya” mengakui kesalahan kita dan memohon ampunNya…

Wahai Tuhan Yang Kasih Sayang-Nya lebih besar dari murka-Nya, Ampuni kami Ya Allah!

SUNGGUH AKAN KAMI BERIKAN COBAAN KEPADAMU

Pernahkah kita merasa diuji oleh Allah? Kita cenderung mengatakan kalau kita ditimpa kesusahan maka kita sedang mendapat cobaan dan ujian dari Allah.

Jarang sekali kalau kita dapat rezeki dan kebahagiaan kita teringat bahwa itupun merupakan ujian dan cobaan dari Allah. Ada diantara kita yang tak sanggup menghadapi ujian itu dan boleh jadi ada pula diantara kita yang tegar menghadapinya.

Al-Qur’an mengajarkan kita untuk berdo’a: “Ya Tuhan kami, jangnlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya… “(QS 2: 286)

Do’a tersebut lahir dari sebuah kepercayaan bahwa setiap derap kehidupan kita merupakan cobaan dari Allah. Kita tak mampu menghindar dari ujian dan cobaan tersebut, yang bisa kita pinta adalah agar cobaan tersebut sanggup kita jalani. Cobaan yang datang ke dalam hidup kita bisa berupa rasa takut, rasa lapar, kurang harta dan lainnya.

Bukankah karena alasan takut lapar saudara kita bersedia mulai dari membunuh hanya karena persoalan uang seratus rupiah sampai dengan berani memalsu kuitansi atau menerima komisi tak sah jutaan rupiah. Bukankah karena rasa takut akan kehilangan jabatan membuat sebagian saudara kita pergi ke “orang pintar” agar bertahan pada posisinya atau supaya malah meningkat ke “kursi” yg lebih empuk. Bukankah karena takut kehabisan harta kita jadi enggan mengeluarkan zakat dan sadaqoh.

Al-Qur’an melukiskan secara luar biasa cobaan-cobaan tersebut. Allah berfirman: “Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS 2: 155) Amat menarik bahwa Allah menyebut orang sabarlah yang akan mendapat berita gembira. Jadi bukan orang yang menang atau orang yang gagah… .tapi orang yang sabar! Biasanya kita akan cepat-cepat berdalih, “yah..sabar kan ada batasnya… ” Atau lidah kita berseru, “sabar sih sabar… saya sih kuat tidak makan enak, tapi anak dan isteri saya?” Memang, manusia selalu dipenuhi dengan pembenaran-pembenaran yang ia ciptakan sendiri.

Kemudian Allah menjelaskan siapa yang dimaksud oleh Allah dengan orang sabar pada ayat di atas: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. (Qs 2: 156) Ternyata, begitu mudahnya Allah melukiskan orang sabar itu. Bukankah kita sering mengucapkan kalimat “Inna lillahi… .” Orang sabar-kah kita? Nanti dulu! Andaikata kita mau merenung makna kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un maka kita akan tahu bahwa sulit sekali menjadi orang yang sabar.

Arti kalimat itu adalah : “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.” Kalimat ini ternyata bukan sekedar kalimat biasa. Kalimat ini mengandung pesan dan kesadaran tauhid yang tinggi. Setiap musibah, cobaan dan ujian itu tidaklah berarti apa-apa karena kita semua adalah milik Allah; kita berasal dari-Nya, dan baik suka-maupun duka, diuji atau tidak, kita pasti akan kembali kepada-Nya. Ujian apapun itu datangnya dari Allah, dan hasil ujian itu akan kembali kepada Allah. Inilah orang yang sabar menurut Al-Qur’an!

Ikhlaskah kita bila mobil yang kita beli dengan susah payah hasil keringat sendiri tiba-tiba hilang. Relakah kita bila proyek yang sudah didepan mata, tiba-tiba tidak jadi diberikan kepada kita, dna diberikan kepada saingan kita. Berubah menjadi dengki-kah kita bila melihat tetangga kita sudah membeli teve baru, mobil baru atau malah pacar baru. Bisakah kita mengucap pelan-pelan dengan penuh kesadaran, bahwa semuanya dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Kita ini tercipta dari tanah dan akan kembali menjadi tanah… . Bila kita mampu mengingat dan menghayati makna kalimat tersebut, ditengah ujian dan cobaan yang menerpa kehidupan kita, maka Allah menjanjikan dalam Al-Qur’an: “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Allah berfirman dalam Al-Qur’an :

Laa yukallifullahu nafsan illa wus aha

Allah tidak akan memberi cobaan pada manusia kecuali mereka mampu menanggungnya.

Untuk itu tak usah buru-buru meratapi kondisi kita yang miskin, sakit-sakitan, ditimpa bencana Seakan hanya kita yang mendapat cobaan yang berat dari Allah.

Innallaha maashobirin

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

GELAP GULITA YANG TINDIH-BERTINDIH

Ketika anda berada di ruangan yang gelap gulita, apa yang bisa anda lakukan ? Tentu saja anda akan meraba-raba untuk menemukan jalan sambil mengerahkan daya insting anda. Anda tak tahu jalan untuk keluar, nafas anda sesak dan kegelisahan mulai menyelimuti anda. Tak ada sebersit cahayapun yang menyinari tempat anda berada.

Sekarang bayangkan bila hidup anda tak disinari oleh cahaya ilahi. Tentu saja anda pun akan berputar-putar tanpa arah di dalam kegelapan. Atau dalam bahasa Al-Qur’an: “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia, mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS 24: 40)

Di saat keadaan gelap gulita, jiwa gelisah dan anda tak tahu apa yang harus anda kerjakan, beban kerjapun semakin menumpuk, himpitan ekonomi menghadang langkah anda, tubuh anda bergetar dan semuanya menjadi serba tak berarturan dan serba salah, jika hal ini menimpa anda maka carilah cahaya ilahi agar anda dapat keluar dari kegelapan itu.

Bagaimana caranya mencari cahaya ilahi yang akan menerangi hati anda ?

“dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah!” (QS 74:4-5)

Mari kita bersihkan pakaian kita.tengoklah diri kita di cermin, berapa banyak pakaian kesombongan, pakaian riya’, pakaian dengki, pakaian takabur yang kita kenakan. Pakaian itu kita percantik dengan segala macam asesoris seperti lalai mengingat Allah, enggan bersedekah, merasa berat untuk pergi haji, dan lain sebagainya. Maka bersihkanlah segala macam pakaian lengkap dengan asesorisnya tersebut. Setelah itu usahakanlah untuk tak mengenakan pakaian itu selamanya.

Sekarang tengoklah hati anda, rasakan cahaya ilahi mulai masuk ke dalam relung hati. “Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki… “(QS 24: 35)

Mari kita kumpulkan cahaya ilahi itu mulai sekarang, dari hari ke hari hingga di hari kiamat nanti kita berdo’a, sebagaimana terekam dalam QS 66:28 : “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Berbahagialah mereka yang mendapat cahaya ilahi… .

WASIAT RASULULLOH S.A.W KEPADA AISYAH

Saiyidatuna ‘Aisyah r.’a meriwayatkan : Rasulullah S.A.W bersabda “Hai Aisyah, aku berwasiat kepada engkau.

Hendaklah engkau senantiasa mengingat wasiatku ini. Sesungguhnya engkau akan senantiasa di dalam kebajikan selama engkau mengingat wasiatku ini… “

Intisari wasiat Rasulullah S.A.W tersebut dirumuskan seperti berikut: Hai, Aisyah, peliharalah diri engkau.

Ketahuilah bahwa sebagian besar daripada kaum engkau (kaum wanita) adalah menjadi kayu api di dalam neraka.

Diantara sebab-sebabnya ialah mereka itu :

(a) Tidak dapat menahan sabar dalam menghadapi kesakitan (kesusahan), tidak sabar apabila ditimpa musibah

(b) tidak memuji Allah Taala atas kemurahan-Nya, apabila dikaruniakan nikmat dan rahmat tidak bersyukur.

(c) mengkufurkan nikmat; menganggap nikmat bukan dari Allah

(d) membanyakkan kata-kata yang sia-sia, banyak bicara Yang tidak bermanfaat.

Wahai, Aisyah, ketahuilah :

(a) bahwa wanita yang mengingkari kebajikan (kebaikan) yang diberikan oleh suaminya maka amalannya akan digugurkan oleh Allah

(b) bahwa wanita yang menyakiti hati suaminya dengan lidahnya, maka pada hari kiamat, Allah menjadikan lidahnya tujuh puluh hasta dan dibelitkan di tengkuknya.

(c) bahwa isteri yang memandang jahat (menuduh atau menaruh sangkaan buruk terhadap suaminya), Allah akan menghapuskan muka dan tubuhnya Pada hari kiamat.

(d) bahwa isteri yang tidak memenuhi kemauan suami-nya di tempat tidur atau menyusah-kan urusan ini atau mengkhiananti suaminya, akan dibangkitkan Allah pada hari kiamat dengan muka yang hitam, matanya kelabu, ubun-ubunnya terikat kepada dua kakinya di dalam neraka.

(e) bahwa wanita yang mengerjakan sholat dan berdoa untuk dirinya tetapi tidak untuk suaminya, akan dipukul mukanya dengan sholatnya.

(f) bahwa wanita yang dikenakan musibah ke atasnya lalu dia menampar-nampar mukanya atau merobek-robek pakaiannya, dia akan dimasukkan ke dalam neraka bersama dengan Isteri nabi Nuh dan isteri nabi Luth dan tiada harapan mendapat kebajikan syafaat dari siapa pun;

(g) bahwa wanita yang berzina akan dicambuk dihadapan semua makhluk didepan neraka pada hari kiamat, tiap-tiap perbuatan zina dengan depalan puluh cambuk dari api.

(h) bahwa isteri yang mengandung ( hamil ) baginya pahala seperti berpuasa pada siang harinya dan mengerjakan qiamul-lail pada malamnya serta pahala berjuang fi sabilillah.

(i) bahwa isteri yang bersalin ( melahirkan ), bagi tiap-tiap kesakitan yang dideritainya diberi pahala memerdekakan seorang budak. Demikian juga pahalanya setiap kali menyusukan anaknya.

(j) bahwa wanita apabila bersuami dan bersabar dari menyakiti suaminya, maka diumpamakan dengan titik-titik darah dalam perjuangan fisabilillah.

APAKAH ANDA BERIMAN KEPADA ALLAH ?

“Sesungguhnya seseorang telah bertanya kepada Rasulullah S.A.W , apakah iman itu. Beliau menjawab, ‘Apabila kebaikanmu menggembirakanmu dan keburukanmu menyusahkanmu, maka engkau dalam keadaan mukmin.’ Dia bertanya lagi, ‘Ya Rasulullah, lalu apakah dosa itu?’ Beliau menjawab, ‘Apabila sesuatu terbersit dalam hatimu, maka tinggalkanlah ia.'” (HR.Thabrani, Ahmad, dan Nasa’i).

Rasulullah adalah guru dan pendidik ummatnya. Pertanyaan dari siapapun pasti dijawab dengan sungguh-sungguh. Hebatnya, setiap jawabannya selalu pas dengan keinginan si penanya.

Pada hadits di atas Rasulullah memberikan jawaban yang aplikatif sekali. Iman yang merupakan pekerjaan hati diungkapkan Rasulullah dengan sederhana sekali, yaitu bila suatu kebaikan menjadikan seseorang gembira dan keburukan menjadikannya susah, maka orang tersebut dapat digolongkan beriman.

Dengan jawaban ini semua orang bisa mengukur dirinya sendiri. Setiap Muslim bisa tahu, apakah sekarang kondisi imannya sedang naik atau turun. Jika berkali-kali melakukan kesalahan tetap merasa aman-aman saja, itu indikasi iman berada di ambang bahaya. Orang yang koreksi akan segera beristighfar, bertaubat, kemudian memperbaiki diri.

Suatu hari mungkin saja ada perasaan berat untuk melaksanakan kebaikan. Ibadah terasa berat, membaca al- Qur’an menjadi mudah ngantuk, sementara jika memeloti TV tahan berjam-jam. Ketika datang waktu shalat, disambutnya dengan malas-malas. Waktunya molor-molor hingga batas akhir. Konsentrasi jauh berkurang, persiapan seadanya, dan waktu shalat dipersingkat. Selesai shalat terus ngeloyor pergi, tanpa berdzikir dan shalat sunnat. Jujur saja bahwa kita semua pasti pernah mengalaminya.

Itulah dinamika iman. Ada saatnya pasang, ada waktunya turun. Ketika iman sedang naik, semua kebaikan menjadi gampang dan ringan. Sebalik-nya, ketika iman sedang surut, semua ibadah menjadi susah.

Setiap muslim diwajibkan untuk selalu mengoreksi dirinya sendiri (self correcting). Menghisab segala amal yang dikerjakan dalam keseharian merupakan keharusan yang tak boleh diabaikan. Rasulullah berpesan, “Periksalah dirimu sebelum diperiksa (Allah di hari qiamat).”

Rasulullah memberikan ukuran yang sangat sederhana, ‘anda tetap tercatat sebagai mukmin jika kebaikan menjadikan anda gampang dan keburukan menjadikan anda susah.’

Ciri mukmin adalah mencintai kebaikan dan membenci keburukan, apapun jenisnya, berat atau ringan. Seorang muslim tentu berusaha sekuat tenaga untuk menghindari yang haram, juga yang makruh, termasuk yang syubghat. Bila belum nyata kehalalannya, ia tak gegabah melakukannya, sebab ada perasaan dosa yang selalu menghantuinya. Bila tidak demikian, bisa dipertanyakan keimanannya. Mungkin sedang turun atau malah sedang menghilang.

Ada dialog menarik antara santri dan kiainya. Seorang santri bertanya, kenapa kiai merokok. Sang kiai dengan tenang menjawab, rokok itu tidak haram, hanya makruh saja. Kembali si santri bertanya, ‘bukankah makruh itu artinya dibenci?’ Untuk pertanyaan yang satu ini sang kiai tidak memberikan jawaban.

Santri yang kritis ini sungguh benar. Semestinya semua pekerjaan yang mengundang kebencian Tuhan harus dihindari, sekecil apapun perbuatan itu. Merokok adalah contoh sederhananya. Jika jelas-jelas makruh, kenapa tetap digemari? Rasulullah bersabda: “Jangan memandang kecil kesalahan (dosa) tetapi pandanglah kepada siapa yang kamu durhakai.” (HR. Ath-Thusi).

Seorang muslim yang jujur dan beriman punya keistimewaan, yaitu memiliki perasaan suka-cita bila diberi kekuatan melaksanakan kebaikan, tapi sebaliknya merasa bersalah dan sempit dadanya bila melakukan pelanggaran. Ia memandang pelanggaran sebagai suatu kedurhakaan dan pengkhianatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Karenanya bila telanjur melakukannya, ia segera bertaubat dan berjanji tidak akan mengulanginya. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan, mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imraan:135).

Ada perbedaan mendasar antara orang beriman dan orang yang ahli berbuat dosa. Orang beriman memandang dosa sebagai sesuatu yang besar, sedang fajir (tukang dosa) memandang kecil saja. Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seperti gunung yang ditakutkan akan menimpanya, dan seorang yang berbuat dosa (fajir) melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang menghinggap di hidungnya, lalu ia berkata, ‘Demikianlah,’ sambil mengibaskan tangan (untuk mengusirnya) lalu lalat itupun terbang.” (HR. Bukhari).

MENINGGALKAN ZINA KARENA TAKUT KEPADA ALLAH,

MAKA ALLAH PUN MEMBERINYA MU’JIZAT

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah berbicara ketika masih dalam buaian (bayi) kecuali tiga orang, Isa bin Maryam. Beliau bersabda, ‘Dulu, dikalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang ahli ibadah. Ia dipanggil dengan nama Juraij.

Ia membangun tempat ibadahnya dan melakukan ibadah di dalamnya’. Beliau bersabda, “orang-orang Bani Israil menyebut-nyebut tentang (ketekunan) ibadah Juraij, sehingga berkatalah seorang pelacur dari mereka, ‘Jika kalian mnghendaki aku akan memberinya ujian’. Mereka berkata, ‘Kami menghendakinya’.

Perempuan itu lalu mendatanginya dan menawarkan diri kepadanya. Tetapi Juraij tidak mempedulikannya. Lalu ia berzina dengan seorang gembala yang meneduhkan kambing gembalaannya ke dekat tempat ibadah Juraij. Akhirnya iapun hamil dan melahirkan seorang bayi. Orang-orang bertanya, ‘Hasil perbuatan siapa ?’ Ia menjawab, ‘Juraij’.

Maka mereka mendatanginya dan memaksanya turun. Mereka mencaci, memukulinya dan merobohkan tempat ibadahnya’. Juraij bertanya, apa yang terjadi dengan kalian ?’ Mereka menjawab, ‘Engkau telah berzina dengan pelacur ini, sehingga ia melahirkan seorang bayi’. Ia bertanya ‘Dimana dia ?’ Mereka menjawab, ‘Itu dia!’ Beliau bersabda, ‘Juraij lalu berdiri dan shalat kemudian berdo’a.

Setelah itu ia menghampiri sang bayi lalu mencoleknya seraya berkata, ‘Demi Allah, wahai bayi, siapa ayahmu ?’ Sang bayi menjawab, ‘Aku adalah anak tukang gembala’. Serta merta orang-orangpun menghambur kepada Juraij dan menciuminya. Mereka berkata kami akan membangun tempat ibadahmu dari emas’. Ia menjawab aku tidak membutuhkan yang demikian, tetapi bangunlah ia dari tanah sebagaimana yang semula’.

Beliau bersabda, ‘Ketika seorang ibu memangku anaknya menyusui tiba-tiba lewat seorang penunggang kuda yang mengenakan tanda pangkat, maka ia pun berkata, ‘Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia’. Beliau bersabda, ‘Maka bayi itu meninggalakan tetek ibunya dan menghadap kepada penunggang kuda seraya berdo’a, ‘Ya Allah jangan kau jadikan aku seperti dia’. Lalu ia kembali lagi ke tetek ibunya dan menghisapnya’. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Seakan-akan aku melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menirukan gerakan si bayi dan meletakkan jarinya di mulut lalu menghisapnya.

Lalu ibunya melalui seorang wanita hamba sahaya yang sedang dipukuli. Sang ibu berkata, ‘Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia’. Beliau bersabda, ‘Bayi itu lalu meninggalkan tetek ibunya dan menghadap kepada wanita hamba sahaya itu seraya berdo’a, ‘Ya Allah jadikanlah aku seperti dia’.

Beliau bersabda, ‘Dan pembicaraan itu berulang. Sang ibu berkata (kepada anaknya), ‘Dibelakangku berlalu seorang penunggang kuda yang mengenakan tanda pangkat lalu aku berkata, ‘Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia’. Lantas engkau berkata, ‘Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia’. Lalu aku berlalu dihadapan wanita hamba sahaya ini dan aku katakan, ‘Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia’. Lalu engkau berkata, ‘Ya Allah jadikanlah aku seperti dia’. Bayi itu berkata, ‘Wahai ibu, sesung­guhnya penunggang kuda yang mengenakan tanda pangkat itu adalah orang yang sombong di antara orang-orang yang sombong. Sedang terhadap hamba sahaya wanita itu, orang-orang berkata, ‘Dia berzina, padahal ia tidak berzina. Dia mencuri, padahal ia tidak mencuri’. Sedang hamba sahaya tersebut berkata, ‘cukuplah Allah sebagai pelindungku’.

(HR. Al-Bukhari, 6/511, Ahmad dan ini adalah lafazh beliau, Muslim dalam Al-Adab.)

MENINGGALKAN YANG HARAM

MAKA KELUARLAH AROMA MINYAK KESTURI DARI BADANNYA

Ada seorang pemuda yang kerjanya menjual kain. Setiap hari dia memikul kain-kain dagangannya dan berkeliling dari rumah ke rumah. Kain dagangan pemuda ini di kenal dengan nama “Faraqna” oleh orang-orang. Walau pun pekerjaannya sebagai pedagang, tetapi pemuda ini sangat tampan dan bertubuh tegap, setiap orang yang melihat pati menyenanginya.

Pada suatu hari, saat dia berkeliling melewati jalan-jalan besat, gang-gang kecil dan rumah-rumah penduduk sambil berteriak menawarkan dagangannya : “faraqna-faraqna”, tiba-tiba ada seorang wanita yang melihatanya. Si wanita itu memanggil dan dia pun menghampirinya. Dia dipersilakan masuk kedalam rumah. Di sini si wanita terpesona melihat ketampanannya dan tumbuhlah rasa cinta dalam hatinya. Lalu si wanita itu berkata : “Aku memanggilmu tidak untuk membeli daganganmu tetapi aku memanggilmu karena kecintaanku kepadamu. Dan dirumah ini sekarang kosong. ” Selanjutnya, si wanita ini membujuk dan merayunya agar mau berbuat sesuatu dengan dirinya. Pemuda ini menolak, bahkan dia mengingatkan si wanita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menakut-nakuti dengan azab yang pedih di sisiNya. Tetapi sayang, nasehat itu tidak membuahkan hasil apa-apa, bahkan sebaliknya, si wanita makin berhasrat.

Dan memang biasa, orang itu senang dan penasaran dengan hal-hal yang dilarang… Akhirnya, karena si pemuda ini tidak mau melakukan yang haram, si wanita malah mengancam, katanya: “Bila engkau tidak mau menuruti perintahku, aku berteriak pada semua orang dan aku katakan kepada mereka, bahwa engkau telah masuk ke dalam rumahku dan ingin merenggut kesucianku. Dan mereka akan mempercayaiku karena engkau telah berada dalam rumahku, dan sama sekali mereka tidak akan mencurigaiku.” Setelah si pemuda itu melihat betapa si wanita itu terlalu memaksa untuk mengikuti keinginannya berbuat dosa, akhirnya dia berkata: “Baiklah, apakah engkau mengizinkan aku untuk ke kamar mandi agar bisa membersihkan diri dulu ?” Betapa gembiranya si wanita mendengar jawaban ini, dia mengira bahwa keinginannya sebentar lagi akan terpenuhi. Dengan penuh semangat dia menjawab : “Bagaimana tidak wahai kekasih dan buah hatiku, ini adalah sebuah ide yang bagus.”

Kemudian masuklah si pemuda itu ke kamar mandi, sementara tubuhnya gemetar karena takut dirinya terjerumus dalam kubangan maksiat. Sebab, wanita itu adalah perangkap syaitan dan tidak ada seorang laki-laki yang menyendiri bersama seorang wanita kecuali syaitan dari pihak ketiga. “Ya Allah, apa yang harus aku perbuat. Berilah aku petunjukMu, Wahai Dzat yang memberi petunjuk bagi orang-orang yang bingung .”

Tiba-tiba, timbullah ide dalam benaknya.” Aku tahu benar, bahwa termasuk salah satu kelompok yang akan dinaungi oleh Allah dalam naunganNya pada hari yang tidak ada naungan saat itu kecuali naunganNya adalah seorang laki-laki yang diajak berbuat mesum oleh wanita yang mempunyai kedudukan tinggi dan wajah yang cantik, kemudian dia berkata: “Aku takut kepada Allah.”

Dan aku yakin bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena takut kepadaNya, pasti akan mendapat ganti yang lebih baik… dan seringkali satu keinginan syahwat itu akan penyesalan seumur hidup… Apa yang akan aku dapatkan dari perbuatan maksiat ini selain Allah akan mengangkat cahaya dan nikmatnya iman dari hatiku… Tidak… tidak… Aku tidak akan mengerjakan perbuatan yang haram… Tetapi apa yang akan harus aku kerjakan. Apakah aku harus melemparkan diri dari jendela ini ? Tidak bisa, jendela itu tertutup rapat dan sulit dibuka. Kalau begitu aku harus mengolesi tubuhku dengan kotoran yang ada di WC ini, dengan harapan, bila nanti dia melihatku dalam kedaan begini, dia akan jijik dan akan membiarkanku pergi.” Ternyata memang benar, ide yang terakhir ini yang dia jalankan. Dia mulai mengolesi tubunya dengan yang ada di situ. Memang menjijikkan. Setelah itu dia menangis dan berkata: “Ya Rabbi, hai Tuhanku, perasaan takutku kepadaMu itulah yang mendorongku melakukan hal ini. Oleh karena itu, karuniakan untukku ‘kebaikan’ sebagai gantinya.”

Kemudian dia keluardari kamar mandi, tatkala melihatnya dalam keadaan demikian, si wanita itu berteriak : “keluar kau hai orang gila!” Dia pun cepat-cepat keluar dengan perasaan takut diketahui orang-orang, jika mereka tahu, pasti akan berkomentar macam-macam tentang dirinya. Dia mengambil barang-barang dagangannya kemudian pergi berlalu, sementara orang-orang tertawa melihatnya. Akhirnya dia tiba dirumahnya , di situ dia bernapas lega. lalu menanggalkan pakaiannya, masuk kamar mandi dan mandi membersihkan tubuhnya dengan sebersih-bersihnya.

Kemudian apa yang terjadi ? Adakah Allah akan membiarkan hamba dan waliNya begitu saja ? Tidak… Ternyata, ketiga dia keluar dari kamar mandi, Allah Subhanahu wa Ta’alah memberikan untuknya sebuah karunia yang besar, yang tetap melekat di tubuhnya sampai dia meninggal dunia, bahkan sampai setelah dia meninggal. Allah telah memberikan untuknya aroma yang harum semerbak yang tercium dari tubuhnya. Semua orang dapat mencium aroma tersebut dari jarak beberapa meter. Sampai akhirnya dia memdapat julukan “Al-miski” (yang harum seperti kasturi). Subhanallah, memang benar, Allah telah memberikan untuknya sebagai ganti dari kotoran yang dapat hilang dalam sekejap dengan aroma wangi yang dapat tercium sepanjang masa. Ketika pemuda itu meninggal dan dikuburkan, mereka tulis diatas kuburanya “Ini kuburan Al-Misky”, dan banyak orang yang menziarahinya.

Demikianlah, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan membiarkan hambaNya yang shalih begitu saja, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu membelanya, Allah SWT senantiasa membela orang-orang yang beriman, Allah SWT berfirman dalam hadits QudsiNya yang artinya: “Bila dia (hamba) memohon kepadaKu, pasti akan Aku beri. Mana orang-orang yang ingin memohon ?!”

Pembaca yang budiman!

“Setiap sesuatu yang engkau tinggalkan, pasti ada gantinya. Begitu pula larangan yang datang dari Allah, bila engkau tinggalkan, akan ada ganjaran sebagai penggantinya.”

Allah SWT akan memberikan ganti yang besar untuk sebuah pengorbanan yang kecil. Allahu Akbar.

Manakah orang-orang yang mau meninggalkan maksiat dan taat kepada Allah sehingga mereka berhak mendapatkan ganti yang besar untuk pengorbanan kecil yang mereka berikan ? ?

Tidakkah mereka mau menyambut seruan Allah, seruan Rasulullah S.A.W dan seruan fitrah yang suci ?!

MELEMPARKAN DIRI AGAR TAK JATUH DALAM DOSA,

MAKA ALLAH GANTI DENGAN KEBAIKAN

Pada masa Bani Israil ada seorang pemuda yang ketampanannya tidak tertandingkan. Dia bekerja sebagai penjual keranjang dari pelepah kurma. Pada suatu hari, saat dia berkeliling dengan membawa keranjang dagangannya, ada seorang wanita yang keluar dari rumah seorang raja Bani Israil.

Demi melihatnya, si wanita dengan cepat masuk kembali ke dalam rumah untuk membertahukan pada putri raja: “Di pintu tadi saya melihat seorang pemuda yang menjual keranjang, tak pernah saya melihat pemuda setampan dia.” Sang putri berkata: “Suruh dia masuk.” Si wanita tadi keluar dan mengajak masuk pemuda itu. Setelah dia masuk, pintu dikunci rapat. Lalu datanglah sang putri menemuinya dengan wajah dan bagian lehernya terbuka. Maka si pemuda berkata: “Hai, tutuplah (auratmu), semoga Allah memaafkanmu!” Dengan terus terang si wanita menjawab: “Kami tidak memanggilmu untuk membeli daganganmu, akan tetapi untuk melakukan sesuatu.” Si wanita pun mulai menggoda dan merayunya. Sementara pemuda itu berkata: “Takutlah kamu kepada Allah,” sang putri malah mengancam: “Bila kau tidak mengikuti keinginanku, aku akan beritahukan kepada raja bahwa kau masuk untuk memaksa diriku berbuat macam-macam.” Kemudian pemuda itu mengajukan permintaan: “Tolong sediakan untukku air untuk berwudhu.” Jawab sang putri: “Oh rupanya kau masih mencari alasan ?! Hai pembantu, tolong sediakan untuknya air wudhu di atas mahligai itu,” sebuah tempat yang tidak mungkin pemuda itu bisa kabur dari situ.

Setelah pemuda itu tiba di mahligai, dia berdo’a: “Ya Allah, sungguh aku sekarang telah dijak untuk bermaksiat kepadaMu, tetapi aku memilih untuk melemparkan diri dari atas mahligai ini keluar kamar dan tidak jatuh dalam perbuatan dosa.” Kemudian dia membaca basmalah lalu melemparkan dirinya. Saat itu pula Allah menurunkan malaikatNya yang memegang kedua ketiak pemuda itu sehingga dia jatuh dalam keadaan berdiri di atas kedua kakinya. Ketika sampai di tanah dia berkata: “Ya Allah, bila Engkau berkehendak, karuniakanlah kepadaku rizki hingga aku tak perlu lagi berdagang keranjang-keranjang.”

Allah mengabulkan do’anya. Allah mengirimkan untuknya sekawanan belalang yang terbuat dari emas, maka diambilnya sampai bajunya terisi penuh. Setelah itu dia berkata:”Ya Allah, bila ini merupakan rizki yang Engkau karuniakan kepadaku dari dunia ini, maka karuniakanlah untukku keberkahan di dalamnya. Tapi, bila rizki ini akan mengurangi jatahku yang tersimpan di sisiMu di akhirat nanti, maka aku tidak membutuhkannya.” Tiba-tiba terdengar suara yang mengatakan bahwa ini hanyalah satu dari dua puluh lima bagian pahala atas kesabaranmu menanggung derita saat melemparkan dirimu dari tempat yang tinggi itu.

Lalu dia berkata: “Kalau begitu ya Allah, aku tidak membutuhkan sesuatu yang nanti akan mengurangi jatahku yang ada padaMu di akhirat.” Maka diambillah kembali emas-emas itu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

PERNIAGAAN YANG MENGUNTUNGKAN

Kita tahu bahwa para sahabat Rasulullah S.A.W adalah orang-orang yang telah membela dan banyak berkorban demi agama Islam yang agung ini. Mereka adalah sebaik-baik penolong untuk agama ini. Mereka juga sebaik-baik pejuang di jalannya. Hal ini terjadi pada mereka, karena mereka menjadikan ajaran Islam sebagai sebuah realita dalam perilaku mereka dan sebagai sesuatu yang begitu terasa di dalam hati mereka. Hingga hal itu menjadi tabiat mereka dengan seikhlas-ikhlasnya dan berani membela agama ini walaupun harus membayar dengan harga yang mahal.

Islam mengajak mereka untuk hijrah. Dengan cepat mereka menyambut seruan itu; meninggalkan Mekkah walau hati mereka penih kerinduan kepadanya dan jiwa mereka dihiasi dengan kecintaan padanya. Mereka lebih mengutamakan aqidah dibanding tempat-tempat main mereka saat masih kanak-kanak, tempat yang penuh dengan kenangan indah.

Islam mengajak mereka untuk berjihad. Ternyata mereka adalah prajurit-prajurit tangguh yang tidak dihinggapi rasa takut. Mereka berhijrah karena Allah dan karena Rasul-Nya, dan mereka berhasil memberikan tauladan yang baik yang monumental dan indah dalam pengorbanan dan keimanan mereka yang sejati. Simaklah kisah berikut ini.

Ketika Shuhaib pergi menyusul Nabi S.A.W untuk berhijrah, ada beberapa orang quraisy yang membuntutinya. Mereka berkata kepada Shuhaib, “Dulu kau datang kepada kami dalam keadaan tidak punya apa-apa, kemudian kau hidup bersama kami dan mendapatkan harta yang banyak dan kau menjadi orang seperti sekarang ini. Tahu-tahu kau ingin keluar dengan membawa semua hartamu ? Demi Allah, hal itu tidak akan pernah terjadi.” Lalu Shuhaib turun dari tunggangannya, dikeluarkannya anak panah dari tempatnya, seraya berkata, “Wahai kaum Quraisy, kalian sudah tahu bahwa aku termasuk orang paling pandai memanah diantara kalian. Demi Allah, kalian tidak akan menyentuhku kecuali akan aku bidik dengan semua anak panahku, kemudian aku akan menebas dengan pedangku ini selama dia berada ditanganku. Ayo lakukan apa yang kalian inginkan!” Akan tetapi Shuhaib setelah itu berkata, ” Bagaimana bila aku tinggalkan semua hartaku untuk kalian, apakah kalian akan membiarkan aku pergi ?” Mereka menjawab, “Ya.” Maka Shuhaib meninggalkan semua hartanya untuk mereka.

Dan ketika sampai ke hadapan Rasulullah S.A.W , di Madinah beliau bersabda, “Telah beruntung perniagaanmu hai Abu Yahya. Telah beruntung perniagaanmu hai Abu Yahya.” Dan turunlah firman Allah SWT, “Dan diantara manusia itu ada seorang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah.” (QS. Al-Baqarah:207).

MENDAHULUKAN KEPENTINGAN ORANG LAIN

Al-Waqidiy bercerita, “Suatu saat, saya berada dalam himpitan ekonomi yang begitu keras. Hingga tiba bulan Ramadhan, saya tidak mempunyai uang sedikitpun. Saya bingung, lalu aku menulis surat kepada teman saya yang seorang alawy (keturunan Ali bin Abi Thalib). Saya memintanya meminjami saya uang sebesar seribu dirham. Dia pun mengirimkan kepada saya uang sebesar itu dalam sebuah kantong yang tertutup. Kantong itu saya taruh dirumah. Malam harinya saya menerima sepucuk surat dari temen saya yang lain. Dia meminta saya meminjaminya uang sebesar seribu dirham untuk kebutuhan bulan puasa. Tanpa pikir panjang, saya kirimkan kantong uang yang tutpnya masih utuh.

Besok harinya saya kedatangan teman yang meminjamiku uang, juga teman alawy yang saya berhutang padanya. Yang alawy ini menanyakan kepada saya perihal uang seribu dirham itu. Saya jawab, bahwa saya telah mengeluarkan untuk suatu kepentingan. Tiba-tiba dia mengeluarkan kantong itu sambil tertawa dan berkata, ‘ Demi Allah, bulan Ramadhan sudah dekat, saya tidak punya apa-apa lagi kecuali 1000 dirham ini. Setelah kau menulis surat pada saya, saya kirim uang ini kepadamu. Sementara saya juga menulis surat pada teman kita yang satu ini untuk pinjam seribu dirham. Lalu dia mengirimkan kantong ini kepada saya. Maka saya bertanya, bagaimana ceritanya hingga bisa begini ? Diapun bercerita pada saya. Dan sekarang ini, kami datang untuk membagi uang ini, buat kita bertiga. Semoga Allah akan memberikan kelapangan pada kita semua.

Al-Waqidy berkata, “Saya berkata pada kedua teman itu, ‘Saya tidak tahu siapa diantara kita yang lebih dermawan.’ Kemudian kami membagi uang itu bertiga. Bulan Ramadhan pun tiba dan saya telah membelanjakan sebagian besar hasil pmbagian itu. Akhirnya perasaan gundah datang lagi, saya berfikir, aduhai bagaimana ini ?

Tiba-tiba datanglah utusan Yahya bin Khalid Al-Barmaky di pagi hari, meminta saya untuk menemuinya. Ketika saya menghadap pada Yahya Al-Barmaki, dia berkata, ‘Ya Waqidy! Tadi malam aku bermimpi melihatmu. Kondisimu saat itu sangat memprihatinkan. Coba jelaskan ada apa denganmu ?’

Maka saya menjelaskannya sampai pada kisah tentang teman saya yang alawy, teman saya yang satunya lagi dan uang 1000 dirham. Lalu dia berkomentar, ‘Aku tidak tahu siapa diantara kalian yang lebih dermawan.’ Selanjutnya, dia memerintahkan agar saya diberi uang tiga puluh ribu dirham dan dua puluh ribu dirham untuk dua teman saya. Dan dia meminta saya untuk menjadi Qadhi.”

DELAPAN DIRHAM

Rasulullah pagi itu sibuk memperhatikan bajunya dengan cermat. baju satu-satunya dan itupun ternyata sudah usang. baju yang setia menutup aurat beliau. meringankan tubuh beliau dari terik matahari dan dinginnya udara. Baju yang tidak pernah beristirahat.

Tetapi beliau tak mempunyai uang sepeser pun. Dengan apa beliau harus membeli baju? Padahal baju yang ada sudah waktunya diganti. Rasulullah sebenarnya dapat saja menjadi kaya mendadak, bahkan terkaya di dunia ini. Tapi sayang, beliau tak mau mempergunakan kemudahan itu. Jika beliau mau, Allah dalam sekejap bisa mengubah gunung dan pasir menjadi butir-butir emas yang berharga. Beliau tak sudi berbuat demikian karena kasihnya kepada para fakir yang papa. Siapakah yang akan menjadi teladan jika bukan beliau.. ? Contoh untuk menahan derita, menahan lapar dan dahaga, menahan segala coba dan uji Allah dengan kesabaran. Selalu mensyukuri nikmat Allah berapa pun besarnya. Siapa lagi kalau bukan beliau yang menyertai umatnya dalam menjalani iradat yang telah ditentukan Allah. Yaitu kehidupan dalam jurang kedukaan dan kemiskinan. Siapa pula yang harus menghibur mereka agar selalu bersabar dan rela dengan yang ada selain beliau ? Juga siapa pula yang harus menanamkan keyakinan akan pahala Allah kelak di akhirat jika bukan beliau ?

Yah,… hanya beliaulah yang mampu menjalankan berbagai hal diatas. benar,… baliaulah satu-satunya manusia yang mendapatkan amanat dari Allah untuk semua umat manusia. Tugas yang lebih murni dan mulia daripada intan berlian serta butiran emas yang lain. Lebih halus dari sutera serta lebih indah dari segala keindahan yang dikenal manusia di dunia ini. lebih megah dari segala kedudukan dan derajad kehidupan manusia yang katanya sudah megah.

“Semua itu hanyalah merupakan kesenangan dunia sedang di sisi Allah yang paling baik dan sebaik-baik tempat kembali”

Perjuangan itu tidak mudah. bahkan sangat berat bagi beliau. Menegakkan yang hak hanya dapat dicapai dengan penuh keimanan dan kekuatan. sabar dalam menghadapi setiap malapetaka yang menimpa, bersyukur yang dilakukan dengan hati bersih. dalam keadaan bagaimanapun, baik dalam duka maupun suka, bersyukur dan keimanan harus selalu menyertai. Itulah pokok risalah yang dibawa Rasulullah S.A.W .

Allah Maha Bijaksana, tidak akan membiarkan hamba-Nya terkasih kebingungan. Rasulullah diberinya rezeki sebanyak delapan dirham. Bergegas beliau melangkah ke pasar. Tentunya kita maklum. uang sekian itu dapat dibelikan apa. Apakah cukup untuk membeli makan, minum, serta pakaian penutup badan ? Oleh sebab itu, bergembiralah hai para fakir dan miskin! Nabi kita, Muhammad S.A.W telah memberikan contoh begitu jelas. Nabi yang kita cintai, hamba kesayangan Allah pergi ke pasar dengan uang sedikit seperti yang kita miliki. Tetapi nabi kita ini, hamba Allah yang di bumi bernama Ahmad, sedang dari langit bernama Muhammad dengan ridha pergi ke pasar berbekal uang delapan dirham untuk berbelanja. Manusia penuh nur dan inayah Allah yang dilahirkan di makkah. meskipun beliau miskin, beliau senang sekali hidup. beliau belum ingin mati meski kemiskinan menjerat setiap hari.

Di tengah perjalanan menuju pasar, beliau menemukan seorang wanita yang menangis. Ternyata wanita yang kehilangan uang. Segera beliau memberikan uangnya sebanyak dua dirham. Beliau berhenti sejenak untuk menenangkan wanita itu.

Rasulullah bergegas menuju ke pasar yang semakin ramai. Sepanjang lorong pasar banyak sekali masyarakat yang menegur beliau dengan hormat. Selalu menjawab dan memberikan salam yang mengingatkan akan kebesaran Allah semata. Beliau langsung menuju tempat di mana ada barang yang diperlukannya. Dibelinya sepasang baju dengan harga empat dirham. beliau segera pulang.

Di perjalanan beliau bertemu dengan seorang tua yang telanjang. Orang tersebut dengan iba memohon sepotong baju untuk dipakainya. Rasulullah yang memang pengasih itu tidak tahan melihat. Langsung diberikannya baju yang baru dibeli. Beliau kembali ke pasar utnuk membeli baju lagi seharga dua dirham. Tentu saja lebih kasar dan jelek kualitasnya daripada yang empat dirham. dengan gembira beliau pulang membawa bajunya.

Langkahnya dipercepat karena sengatan matahari yang semakin terik. Juga angin malam yang telah mulai berhembus pelan-pelan. Beliau tidak ingin kemalaman di jalan. Tak lama beliau melangkah ke luar pasar, ditemuinya lagi wanita yang menangis tadi. Wanita itu kelihatan bingung dan sangat gelisah. Rasulullah S.A.W mendekat dan bertanya mengapa. Wanita itu ternyata ketakutan untuk pulang. Dia telah terlambat dari batas waktu, dan takut dimarahi majikannya jika pulang nanti. Rasulullah S.A.W langsung menyatakan akan mengantarkannya.

Wanita itu berjalan yang diikuti Rasulullah S.A.W dari belakang. Hatinya tenang karena Rasulullah S.A.W pasti akan melindungi dirinya. Dia yakin majikannya akan memaafkan, karena kepulangan yang diantarkan oleh manusia paling mulia di dunia ini. Bahkan mungkin akan berterima kasih karena pulang membawa kebaikan bersama dengan kedatangan nabi dan rasul mereka. Mereka terus berjalan hingga sampai ke perkampungan kaum Anshari. Kebetulan saat itu yang ada hanyalah para isteri mereka.

“Assalamu’alaikum warahmatullah”, sapa Rasulullah S.A.W keras. Mereka semuanya diam tak menjawab. Padahal mereka mendengar. Hati mereka diliputi kebahagiaan karena kedatangan Nabi. Mereka menganggap salam Rasulullah S.A.W sebagai berkah dan seperti lebaran saja. Mereka masih ingin mendengarnya lagi. Ketika tak terdengar jawaban, Rasulullah S.A.W memberi salam lagi. Tetap tak terdengar jawaban. Rasulullah S.A.W mengulang untuk yang ketiga kali dengan suara lantang, Assalamu’alaikum warahmatullah. Serentak mereka menjawab.

Rasulullah sangat heran dengan semua itu. Beliau menanyakan pada mereka apa sebabnya. Mereka mengatakan, ” Tidak ya Rasulullah. Kami sudah mendengar sejak tadi. Kami memang sengaja, kami ingin mendapatkan salam lebih banyak”.

Rasulullah melanjutkan, “Pembantumu ini terlambat pulang dan tidak berani pulang sendirian. Sekiranya dia harus menerima hukuman, akulah yang akan menerimanya”. Ucapan ini sangat mengejutkan mereka. Kasih sayang Nabi begitu murni, budi pekerti yang utama, yang indah tampak dihadapan mereka.

Beliau menempuh perjalanan begitu panjang dan jauh hanya untuk mengantarkan seorang budak yang takut dimarahi majikannya. Lagipula hanya karena terlambat pulang. Bahkan memohonkan maaf baginya pula. Sehingga karena harunya, mereka berkata, “Kami memaafkan dan bahkan membebaskannya. Kedatangannya kemari bersama anda karena untuk mengharap ridha Allah semata”. Budak itu tak terhingga rasa terima kasihnya. Bersyukur atas karunia Allah swt dan kebebasannya karena dari Rasulullah S.A.W .

Rasulullah S.A.W pulang dengan hati gembira. Telah bebas satu perbudakan dengan mengharap ridha Allah swt sepenuhnya. Beliau juga tak lupa mendoakan para wanita itu agar mendapatkan berkah dari Allah swt. Semoga semua harta dan turunan serta semoga selalu tetap dalam keadaan iman dan islam. Beliau sibuk memikirkan peristiwa sehari tadi. Hari yang penuh berkah dan karunia Allah swt semata.

Akhirnya beliau berujar dengan, “Belum pernah kutemui berkah angka delapan sebagaimana hari ini. Delapan dirham yang mampu mengamankan seseorang dari ketakutan, dua orang yang membutuhkan serta memerdekakan seorang budak”. Bagi seseorang muslim yang memberikan pakaian pada saudara sesama muslim, Allah akan memelihara selama pakaian itu masih melekat.

DIMANA TSA’LABAH SEKARANG ?

Seorang sahabat Nabi yang amat miskin datang pada Nabi sambil mengadukan tekanan ekonomi yg dialaminya. Tsa’labah, nama sahabat tersebut, memohon Nabi untuk berdo’a supaya Allah memberikan rezeki yang banyak kepadanya. Semula Nabi menolak permintaan tersebut sambil menasehati Tsa’labah agar meniru kehidupan Nabi saja. Namun Tsa’labah terus mendesak. Kali ini dia mengemukakan argumen yang sampai kini masih sering kita dengar, “Ya Rasul, bukankah kalau Allah memberikan kekayaan kepadaku, maka aku dapat memberikan kepada setiap orang haknya.

Nabi kemudian mendo’akan Tsa’labah. Tsa’labah mulai membeli ternak. Ternaknya berkembang pesat sehingga ia harus membangun pertenakakan agak jauh dari Madinah. Seperti bisa diduga, setiap hari ia sibuk mengurus ternaknya. Ia tidak dapat lagi menghadiri shalat jama’ah bersama Rasul di siang hari.

Hari-hari selanjutnya, ternaknya semakin banyak; sehingga semakin sibuk pula Tsa’labah mengurusnya. Kini, ia tidak dapat lagi berjama’ah bersama Rasul. Bahkan menghadiri shalat jum’at dan shalat jenazah pun tak bisa dilakukan lagi.

Ketika turun perintah zakat, Nabi menugaskan dua orang sahabat untuk menarik zakat dari Tsa’labah. Sayang, Tsa’labah menolak mentah-mentah utusan Nabi itu. Ketika utusan Nabi datang hendak melaporkan kasus Tsa’labah ini, Nabi menyambut utusan itu dengan ucapan beliau, “Celakalah Tsa’labah!” Nabi murka, dan Allah pun murka!

Saat itu turunlah Qs at-Taubah: 75-78

* “Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah, “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.”

* Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).

* Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.

* Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui yang ghaib ?”

Tsa’labah mendengar ada ayat turun mengecam dirinya, ia mulai ketakutan. Segera ia temui Nabi sambil menyerahkan zakatnya. Akan tetapi Nabi menolaknya, “Allah melarang aku menerimanya.” Tsa’labah menangis tersedu-sedu.

Setelah Nabi wafat, Tsa’labah menyerahkan zakatnya kepada Abu Bakar, kemudian Umar. tetapi kedua Khalifah itu menolaknya. Tsa’labah meninggal pada masa Utsman.

Dimanakah Ts’alabah sekarang ? Jangan-jangan kitalah Tsa’labah-Tsa’labah baru yang dengan linangan air mata memohon agar rezeki Allah turun kepada kita, dan ketika rezeki itu turun, dengan sombongnya kita lupakan ayat-ayat Allah.

Bukankah kita dengan alasan sibuk berbisnis tak lagi sempat sholat lima waktu. Bukankah dengan alasan ada “meeting penting” kita lupakan perintah untuk sholat Jum’at. Bukankah ketika ada yang meminta sedekah dan zakat kita ceramahi mereka dengan cerita bahwa harta yang kita miliki ini hasil kerja keras, siang-malam membanting tulang; bukan turun begitu saja dari langit, lalu mengapa kok orang-orang mau enaknya saja minta sedekah tanpa harus kerja keras.

Kitalah Tsa’labah… .Tsa’labah ternyata masih hidup dan “mazhab”-nya masih kita ikuti…

Konon, ada riwayat yang memuat saran Nabi Muhammad S.A.W (dan belakangan digubah menjadi puisi oleh Taufik ismail), “Bersedekahlah, dan jangan tunggu satu hari nanti di saat engkau ingin bersedekah tetapi orang miskin menolaknya dan mengatakan, “kami tak butuh uangmu, yang kami butuhkan adalah darahmu!”

Dahulu Tsa’labah menangis di depan Nabi yang tak mau menerima zakatnya. Sekarang ditengah kesenjangan sosial di negeri kita, jangan-jangan kita bukan hanya akan menangis namun berlumuran darah ketika orang miskin menolak sedekah dan zakat kita!

Na’udzubillah…

KETIKA TIRAI TERTUTUP

Ketika mendengar sebuah berita “miring” tentang saudara kita, apa reaksi kita pertama kali ? Kebanyakan dari kita dengan sadarnya akan menelan berita itu, bahkan ada juga yang dengan semangat meneruskannya kemana-mana.

Kita ceritakan aib saudara kita, sambil berbisik, “sst! ini rahasia lho!”. Yang dibisiki akan meneruskan berita tersebut ke yg lainnya, juga sambil berpesan, “ini rahasia lho!”

Kahlil Gibran dengan baik melukiskan hal ini dalam kalimatnya, “jika kau sampaikan rahasiamu pada angin, jangan salahkan angin bila ia kabarkan pada pepohonan.”

Inilah yang sering terjadi. Saya memiliki seorang rekan muslimah yang terpuji akhlaknya. Ketika dia menikah saya menghadiri acaranya. Beberapa minggu kemudian, seorang sahabat mengatakan, “saya dengar dari si A tentang “malam pertamanya” si B.” Saya kaget dan saya tanya, “darimana si A tahu ?” Dengan enteng rekan saya menjawab, “ya dari si B sendiri! Bukankah mereka kawan akrab… “

Masya Allah! rupanya bukan saja “rahasia” orang lain yang kita umbar kemana-mana, bahkan “rahasia kamar” pun kita ceritakan pada sahabat kita, yang sayangnya juga punya sahabat, dan sahabat itu juga punya sahabat.

Saya ngeri mendengar hadis Nabi: “Barang siapa yang membongkar-bongkar aib saudaranya, Allah akan membongkar aibnya. Barangsiapa yang dibongkar aibnya oleh Allah, Allah akan mempermalukannya, bahkan di tengah keluarganya.”

Fakhr al-Razi dalam tafsirnya menceritakan sebuah riwayat bahwa para malaikat melihat di lauh al-mahfudz akan kitab catatan manusia. Mereka membaca amal saleh manusia. Ketika sampai pada bagian yang berkenaan dengan kejelekan manusia, tiba-tiba sebuah tirai jatuh menutupnya. Malaikat berkata, “Maha Suci Dia yang menampakkan yang indah dan menyembunyikan yang buruk.”

Jangan bongkar aib saudara kita, supaya Allah tidak membongkar aib kita.

“Ya Allah tutupilah aib dan segala kekurangan kami di mata penduduk bumi dan langit dengan rahmat dan kasih sayang-Mu, Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah”

KASIH SAYANG ILAHI

Ibrahim bin Adham , seorang alim yang hidup di abad ke-8, seperti diceritakan dalam salah satu tulisan Goenawan Moehamad, suatu saat bertawaf mengelilingi Ka’bah. Malam gelap, hujan deras, guntur gemuruh. Ketika Ibrahim berada di depan pintu Ka’bah, ia berdo’a, “Ya Tuhanku, lindungilah diriku dari perbuatan dosa terhadap-Mu.”

Konon, ada suara yang menjawab, “Ya Ibrahim, kau minta pada-Ku untuk melindungimu dari dosa, dan semua hamba-Ku juga berdo’a serupa itu. Jika Kukabulkan doa kalian, kepada siapa gerangan nanti akan Kutunjukkan rasa belas-Ku dan kepada siapa akan Kuberikan ampunan-Ku ?”

Kisah pendek ini entah benar-benar terjadi atau tidak, namun kisah ini memberikan arti panjang bagi kita dalam memandang makna sebuah dosa dan hubungannya dengan kasih sayang Ilahi. Dosa diciptakan oleh Allah sebagaimana Dzat Yang Maha Agung ini menciptakan pahala. Tentu saja sebagaimana ciptaan-Nya yang lain, dosa pun memiliki peran dan hikmah tersendiri.

Dengan adanya dosa, kita jadi tahu ada yang namanya pahala. Dalam lorong yang hitam kita bisa melihat cahaya. Dalam gelap kita jadi tahu apa arti sebuah mentari. Walhasil, dosa memang harus kita jauhi namun juga harus kita pikirkan keberadaannya.

Semoga dengan melihat bahwa dosa pun dapat menjadi alat Allah untuk menunjukkan kasih sayang-Nya, kita mampu lebih memahami hadis Nabi, “Ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik agar perbuatan baik itu menghapusnya.”

Kita percaya bahwa ampunan Allah lebih luas dari murka-Nya. Jika Allah yang Gagah Perkasa saja masih bersedia memaafkan hamba-Nya dan menunjukkan kasih sayang-Nya kepada kita semua, mengapa kita tak mau memaafkan kesalahan orang lain kepada kita ?

Mengapa tak kita serap sifat Rahman dan Rahim-Nya sebagaimana selalu kita baca dalam Bismillah ar-Rahman ar-Rahim ?

Ketika saya menghadap Kepala Sekolah sewaktu di Madrasah Aliyah seraya meminta maaf atas prilaku jelek saya. Kepala Sekolah yang sekarang sudah almarhum itu menjawab, “Umar bin Khattab pernah mengubur anaknya hidup-hidup, dia bertobat dan Allah memaafkannya. Apakah kesalahan kamu sudah lebih besar dari prilaku Umar itu sampai saya tak berkenan memaafkan kamu ?” Saya merinding mendengar jawaban itu. Saya pun masih merinding saat mengingat betapa pemurahnya guru saya itu. Guru saya tersebut sudah mampu menjadikan kesalahan saya sebagai alat untuk menunjukkan kasih sayangnya.

KEAJAIBAN HAMBA ALLAH

Seorang rekan yang mengaku mengalami berbagai keajaiban bercerita banyak pada saya. Bagaimana keluarganya menganggap bahwa do’a yg dia panjatkan pasti diterima Allah. Bagaimana isterinya, penganut salah satu tarekat, jika berdo’a sudah bisa merasakan apakah do’a ini terkabul atau tidak.

Rekan lain juga bercerita bagaimana dia mengalami keajaiban. Ketika dia berdo’a agar termasuk mereka yang berhati emas, tiba-tiba dia melihat langit berwarna keemasan dan tetesen emas itu bagaikan jatuh ke bumi.

Entahlah, apakah pengalaman rekan-rekan saya tersebut benar-benar terjadi atau tidak. Saya hanya khawatir dua hal:

1. Kita berubah menjadi riya’ ketika kita menceritakan hal-hal itu. Saya khawatir kita justru tidak mendapati keajaiban lagi ketika hati kita telah tergelincir pada riya’.

2. Kita beribadah karena mengejar keajaiban; bukan semata-mata karena Allah. Kita baca wirid sekian ribu kali, dengan harapan bisa menghasilkan keajaiban, apakah tubuh yg kebal, terungkapnya hijab (kasyaf) dan lainnya. Kita jalani sholat sunnah ratusan rakaat juga demi mengejar “keanehan-keanehan”. Kita jalani ritus-ritus itu hanya karena ingin mencapai ma’rifat (yang sayangnya dikelirukan sebagai memiliki keajaiban).

Yang lebih celaka lagi, ketika kita mendapat keajaiban tiba-tiba kita mengklaim bahwa Tuhan sangat dekat dengan kita sehingga status kita naik menjadi wali. Sayang, setelah “merasa” menjadi wali, kita lupakan aspek syari’ah. Konon, bagi mereka yang mencapai aspoek ma’rifat tidak perlu lagi menjalankan aspek syari’at.

Entahlah, saya yang merasa belum naik-naik maqamnya dari status awam hanya bisa merujuk kisah Nabi Zakariya dan Siti Maryam. Nabi Zakariya diberi anugerah putera, padahal dia sudah tua dan isterinya mandul. Setelah mendapat keajaiban ini, Allah memerintahkan pada-Nya, “Sebutlah nama Tuhan-mu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari” (Qs 3: 41) Maryam pun mendapat keajaiban berupa putera (padahal dia tidak pernah “disentuh” lelaki). Namun setelah Allah memberitahu tingginya kedudukan Maryam, Allah menyuruh Maryam, “Ta’atlah kepada Tuhan-mu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ (Qs 3: 43)

Ternyata, hamba Allah seperti Nabi Zakariya dan Siti Maryam pun tetap tidak meninggalkan aspek syari’at meskipun telah memiliki keajaiban.

Berkenaan dengan keajaiban, Abu Sa’id, sufi besar abad 10 dan 11 Hijriah, pernah bertemu orang yang menceritakan sejumlah keajaiban “wali”.

Orang itu berkata, “dia bisa terbang… “

Abu Sa’id menjawab, “ah… tak aneh… burung saja bisa terbang”

Yang aneh justru adalah mereka yang mengaku-aku wali dan sufi sambil mendemonstrasikan “keajaibannya”. Wali dan Sufi sejati tak butuh pengakuan orang lain akan ke-waliannya. Wali dan sufi sejati tak akan pernah meninggalkan aspek syari’at, meski telah mencapai maqam ma’rifat.

BAGAIMANA ANDA MEMPERLAKUKAN AL-QUR’AN?

Al-Qur’an memperkenalkan dirinya sebagai “Kitab yang tiada keraguan didalamnya sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa” (Qs 2: 2). Artinya, kitab suci Al-Qur’an merupakan petunjuk dan pegangan hidup kita. Persoalannya sekarang, bagaimana sebenarnya kita memperlakukan Al-Qur’an dalam hidup kita?

Buat sebagian kecil dari kita Al-Qur’an dipandang seolah-olah sebagai “jimat” yang kalau ayat tertentu dibaca maka akan menimbulkan hal yang luar biasa, buat sebagian dari kita Al-Qur’an hanyalah merupakan objek ilmiah yang pantas utk dikotak-katik ayatnya satu demi satu, buat sebagian lagi dari kita mungkin saja Al-Qur’an merupakan sumber “legitimasi”, dalam arti kita gunakan akal pikiran kita utk memecahkan atau menjelaskan masalah lalu kita cari justifikasinya dalam ayat Qur’an.

Apakah cukup al-Qur’an kita perlakukan demikian? Bukankah ia merupakan kitab petunjuk? Sebagai kitab petunjuk berarti al-Qur’an merupakan sumber inspirasi dan sumber bagi hidup kita. Pernahkah kita bila menghadapi masalah kita pecahkan dengan membaca Qur’an? Sudikah kita disaat mendapat banyak rezeki kita syukuri rezeki itu dengan membaca al-Qur’an? Maukah kita disamping membaca koran dan email tiap hari juga mau membaca al-Qur’an setiap hari? Pernahkah kita introspeksi perjalanan hidup kita dengan melihat kandungan ayat suci al-Qur’an sebagai “hakim”nya? Pada umur berapa kita mulai tertarik dengan al-Qur’an dan bersedia menelaah ayat demi ayatnya?

Saya percaya karena Al-Qur’an merupakan kitab petunjuk bagi kita, maka siapapun kita dan apapun background pendidikan kita, maka kita memiliki hak yang sama utk mengakses kitab suci Al-Qur’an. Sudahkah kita gunakan hak kita itu dengan sebaik-baiknya?

Membaca Al-Qur’an merupakan syarat pertama untuk menjadikan kitab suci ini sebagai petunjuk hidup kita. Bisakah kita menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk, namun amat jarang kita membacanya?

Konon, Iqbal kecil dibisiki oleh Ayahnya, “Bacalah Qur’an seakan-akan ia diturunkan untukmu”. “Sejak saat itu,” kata Dr. Muhammad Iqbal—cendekiawan besar asal India, “setiap aku membaca al-Qur’an seakan-akan Al-Qur’an berbicara padaku!”

Maukah kita meningkatkan kedudukan kita, dari sekedar membaca al-Qur’an sampai “berbicara” dengan Al-Qur’an?

Maha Benar Allah dengan Segala Firman-Nya

BAGAIMANA DENGAN SHOLAT ANDA ?

Sewaktu pulang dari suatu peperangan, Nabi S.A.W telah bermalam disuatu tempat.Baginda bertanya:

“Siapa yang hendak menjaga kemahku malam ini?”

Ammar bin Yassir dari kaum Muhajirin dan Abbad bin Basyar dari kaum Ansar telah menawarkan diri masing-masing untuk mengawasi kemah Nabi S.A.W .Kedua-duanya telah ditugaskan berjaga-jaga di puncak sebuah bukit berdekatan dgn.tempat Nabi beristirahat. Abbad berkata kepada Ammar : “Marilah bertugas bergiliran setengah hari yang pertama, aku akan berjaga supaya engkau dapat melelapkan matamu.Kemudian engkau berjaga supaya aku dapat melelapkan mataku.” Ammar setuju, dia pun merebahkan badannya lalu tidur dengan nyenyaknya. Sambil menjalankan tugasnya Abbad telah mendirikan sholat.

Seorang pengintai musuh telah melihatnya lalu melepaskan anak panahnya yang menembus badan Abbad. Melihat keadaan Abbad yang masih berdiri tegak itu, si pengintai tadi melepaskan lagi dua anak panahnya. Abbad kemudian mencabut ketiga anak panah tersebut lantas membangunkankan Ammar. Sementara itu, ketika melihat Ammar bersama-sama Abbad, laskar musuh tadi melarikan diri karena menyangka ada banyak lagi laskar-laskar Islam disitu. Melihat badan Abbad yang berdarah Ammar berkata:

“Subhanallah! Mengapa kamu lambat membangunkan aku?”

Jawab Abbad: “Di dalam Qiraatku, aku telah membaca surah al-Kahfi dan aku enggan memendekkannya.Tetapi ketika anak panah yang ketiga melekat dibadanku, aku merasa bimbang dengan keselamatan Rasulullah. Aku pun segera menamatkan sholatku lalu membangunkanmu. Kalau tidak, sudah tentu aku akan menamatkan pembacaan surah al-Kahfi sebelum ruku’ meskipun aku terpaksa mati dipanah musuh itu.”

Oleh karena asyik membaca al-Qur’an, Abbad tidak gentar dengan senjata musuh. Nikmat membaca al-Qur’an menyebabkan dia lupa terhadap badannya yang sakit dan berdarah itu.

Di zaman sekarang ini, gigitan nyamuk sudah bisa menganggu sholat kita.

Begitulah betapa lemahnya iman kita zaman sekarang ini.

DUSTA YANG MANA LAGI… ?

Pernahkah anda membaca surat Ar-Rahman? Surat ar-Rahman adalah surat ke 55 dalam urutan mushaf utsmany dan tergolong dalam surat Madaniyah serta berisikan 78 ayat. Satu hal yang menarik dari kandungan surat ar-Rahman adalah adanya pengulangan satu ayat yang berbunyi “fabiayyi ala i rabbikuma tukadziban” (Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?). Kalimat ini diulang berkali-kali dalam surat ini. Apa gerangan makna kalimat tersebut?

Surat ar-Rahman bagi saya adalah surat yang memuat retorika yang amat tinggi dari Allah. Setelah Allah menguraikan beberapa ni’mat yang dianugerahkan kepada kita, Allah bertanya: “Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”.

Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah menggunakan kata “dusta”; bukan kata “ingkari”, “tolak” dan kata sejenisnya. Seakan-akan Allah ingin menunjukkan bahwa ni’mat yang Allah berikan kepada manusia itu tidak bisa diingakri keberadaannya oleh manusia. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mendustakannya.

Dusta berarti menyembunyikan kebenaran. Manusia sebenarnya tahu bahwa mereka telah diberi ni’mat oleh Allah, tapi mereka menyembunyikan kebenaran itu; mereka mendustakannya!

Bukankah kalau kita mendapat uang yang banyak, kita katakan bahwa itu akibat kerja keras kita, kalau kita berhasil menggondol gelar Ph.D itu dikarenakan kemampuan otak kita yang cerdas, kalau kita mendapat proyek maka kita katakan bahwa itulah akibat kita pandai melakukan lobby. Pendek kata, semua ni’mat yang kita peroleh seakan-akan hanya karena usaha kita saja. Tanpa sadar kita lupakan peranan Allah, kita sepelekan kehadiran Allah pada semua keberhasilan kita dan kita dustakan bahwa sesungguhnya ni’mat itu semuanya datang dari Allah.

Maka ni’mat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan! Anda telah bergelimang kenikmatan, telah penuh pundi-pundi uang anda, telah berderet gelar di kartu nama anda, telah berjejer mobil di garasi anda, ingatlah–baik anda dustakan atau tidak–semua ni’mat yang anda peroleh hari ini akan ditanya oleh Allah nanti di hari kiamat!

“Sungguh kamu pasti akan ditanya pada hari itu akan ni’mat yang kamu peroleh saat ini” (QS 102: 8)

Sudah siapkah anda menjawab serta mempertanggung jawabankannya ???

Allah berfirman : FAIN TAUDDU NI’MATALLAHI LA TUKHSUUHA

Apabila kamu menghitung nikmat Allah ( yang diberikan kepadamu ) maka engkau tidak akan mampu (karena terlalu banyak).

Tidak patutkah anda bersyukur kepadaNYA, Mari mengucap Al khamdulillah sebagai bagian dari rasa syukur kita

ABU BAKAR DENGAN TUKANG RAMAL

Abu Bakar mempunyai seorang hamba yang menyerahkan sebagian dari pendapatan hariannya. Pada suatu hari hambanya itu telah membawa makanan lalu dimakan sedikit oleh Abu Bakar. Hamba itu berkata: “Kamu selalu bertanya tentang sumber makanan yang aku bawa tetapi hari ini kamu tidak berbuat demikian.”

“Aku terlalu lapar sehingga aku lupa bertanya. Terangkan kepada ku dimana kamu mendapat makanan ini.”

Hamba: “Sebelum aku memeluk Islam aku menjadi tukang ramal. Orang-orang yang aku ramal nasibnya kadang-kadang tidak dapat bayar uang kepadaku. Mereka berjanji akan membayarnya apabila sudah memperoleh uang. Aku telah berjumpa dengan mereka hari ini. Merekalah yang memberikan aku makanan ini.”

Mendengar kata-kata hambanya Abu Bakar memekik : “Ah! Hampir saja kau bunuh aku.”

Kemudian dia coba mengeluarkan makanan yang telah ditelannya. Ada orang yang menyarankan supaya dia mengisi perutnya dengan air dan kemudian memuntahkan makanan yang ditelannya tadi. Saran ini diterima dan dilaksanakannya sehingga makanan itu dimuntah keluar.

Kata orang yang mengamati : “Semoga Allah memberikan rahmat atas mu. Kamu telah bersusah payah karena makanan yang sedikit.”

Kepada orang itu Abu Bakar menjawab: “Aku sudah pasti memaksanya keluar walaupun dengan berbuat demikian aku mungkin kehilangan nyawaku sendiri. Aku mendengar Nabi berkata : “Badan yang tumbuh subur dengan makanan haram akan merasakan api neraka.” Oleh karena itulah maka aku memaksa makanan itu keluar takut kalau-kalau ia menyuburkan badanku.”

Abu Bakar sangat teliti tentang haram halalnya makanan yang dimakannya.

Jangan mendapatkan harta melalui jalan yang haram, Jangan gunakan harta yang haram bagi diri sendiri apalagi untuk orang lain.

Kelak diyaumil akhir akan ditanya ” Dari mana kamu peroleh hartamu dan kemana kau belanjakan “

ISTIGHFAR

Untuk melakukan ibadah terkadang kita merasa dibatasi sesuatu yang seharusnya tidaklah layak dikatakan sebagai pembatas namun kita lebih sering menggunakannya sebagai alasan untuk tidak dapatnya beribadah secara maksimal.

Mari kita tengok sekilas perjalanan kita, Pada Jam kerja, banyak dari kita yang tidak bisa Sholat Dhuha karena tidak semua kantor atau perusahaan menyediakan musholla dan mengizinkan waktu sholat dhuha. Pada Jam Istirahat, kita tidak bisa sholat Dhuhur dan berdzikir lama-lama karena waktunya terbagi untuk makan ( bagi yg tdk puasa ) atau kepentingan yang lain.

Sekilas, seakan ibadah selalu membutuhkan waktu dan tempat tertentu dan apabila kita tidak bisa menemukan salah satunya maka lepaslah kesempatan beribadah itu, Apakah selalu demikian ? Jawabnya TIDAK dan sekali lagi TIDAK.

Suatu usaha yang perlu kita kembangkan adalah memanfaatkan waktu untuk beribadah semaksimal mungkin dan kali ini pilihan saya adalah : selalu membaca ISTIGHFAR baik terucap ataupun dalam hati. Bacaan ini tidak bisa dibatasi oleh situasi kerja bahkan oleh tempat dan waktu. Mengapa Istighfar ?

Karena saya masih punya banyak dosa sekaligus ingat bahwa Junjungan kita Baginda Rosul S.A.W yang sudah Ma’sum dan dijamin oleh Allah diampuni dosa-dosanya membaca 70 kali istighfar dalam tiap harinya, apalagi saya yang tidak ada jaminan.

Bila membaca istighfar ini anda anggap baik dan sependapat dengan saya bahwa tidak bisa dibatasi oleh tempat dan waktu Mengapa tidak anda lakukan ?

Bagaimana kalau mulai besok kita bersama-sama selalu membaca ISTIGHFAR selama mata kita belum tidur pada setiap kesempatan.

Cukup kita lakukan 1 hari saja dan bila anda tahu manfaatnya, selanjutnya terserah anda.

BERSEDEKAH

Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi S.A.W beliau bersabda: “Menguap itu dari Syaitan. Maka apabila seseorang di antara kamu menguap, hendaklah ditahannya sedapat mungkin. Sesungguhnya jika seseorang di antara kamu mengatakan “ha” lantaran menguap, tertawalah syaitan.” [Bukhari].

Hadis dari Abu Hurairah r.a: Diriwayatkan daripada Nabi S.A.W katanya: Seorang lelaki berkata: Aku akan memberikan sedekah pada malam ini. Lalu dia keluar membawa sedekahnya dan meletakkannya di tangan seorang perempuan yang berzina yaitu pelacur. Keesokannya orang banyak memperbincangkan mengenai perempuan tersebut yang telah diberikan sedekah pada malam tadi. Lelaki itu berkata: Wahai Tuhanku! Hanya buatMu segala puji-pujian! Sedekahku telah aku berikan kepada wanita yang berzina. Aku akan bersedekah lagi, lalu dia keluar membawa sedekahnya dan meletakkannya di tangan orang kaya. Keesokan harinya orang banyak memperbincangkan mengenai seorang kaya yang telah diberikan sedekah. Lelaki itu berkata: Wahai Tuhanku! Hanya buatMu segala puji-pujian. Sedekahku telah aku berikan kepada seorang yang kaya. Aku akan bersedekah lagi, lantas dia keluar dengan membawa sedekah dan meletakkannya di tangan seorang pencuri. Esoknya orang banyak mulai bercakap-cakap mengenai seorang pencuri telah diberikan sedekah. Dia berkata: Wahai Tuhanku! Hanya buatMu segala puji-pujian! Sedekahku telah aku berikan kepada seorang perempuan zina, pada orang kaya dan pada pencuri. Lalu dia didatangi seseorang dan dikatakan kepadanya: Sedekahmu benar-benar telah diterima. Boleh jadi perempuan zina itu berhenti dari berzina karena sedekahmu. Orang kaya itu pula dapat mengambil pelajaran dan mau membelanjakan sebagian dari harta yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadanya dan mungkin juga pencuri itu akan berhenti dari mencuri karena sedekahmu itu. [Bukhari/Muslim]

Dalam sebuah hadits disebutkan, yang artinya : Janganlah kamu malu bersedekah walaupun setengah biji korma yang dapat kamu sedekahkan.

Akhirnya … .. Marilah kita memperbanyak Sedekah Meskipun sedikit namun ikhlas

UNTUK KITA RENUNGKAN

Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih

Suci lahir dan didalam batin

Tengoklah kedalam sebelum bicara

Singkirkan debu yang masih melekat 2X

Kita mesti berjuang, memerangi diri

Bercermin dan banyaklah bercermin

Tuhan ada disini, didalam jiwa ini

Berusahala agar Dia tersenyum 2X

Masih kuingat bait syair sebuah lagu Ebiet yang terkadang masih aku senandungkan entah mengapa kali ini aku ingin merenungkan dan mencoba mengkaji makna yang tersirat ataupun tersurat dalam lagu tersebut dalam aktifitas keseharianku.

Kita mesti telanjang karena aku harus mandi setelah bangun tidur untuk melakukan sholat subuh yang tentunya harus benar2 bersih namun apa yang sering aku lakukan adalah hanya berwudhu untuk melakukan sholat Subuh adapun mandinya menjelang berangkat kerja dengan harapan badan lebih Fresh, jangankan untuk suci di dalam bathin sementara suci lahirpun belum bisa aku laksanakan belum lagi ketika aku angkat tanganku bertakbiratul ihram aku telah berniat untuk sholat dilanjutkan dengan do’a iftitah yang didalamnya kuucapkan INNA SHOLATI WANUSUKI… dan seterusnya LILLAHI ROBBIL “ALAMIIN yang bermakna Sholatku hanya karena Allah tidak lain itu hanyalah bagian dari gerakan mulutku namun hati dan pikiranku kemana-mana, aku ingat sarapanku belum tersedia, aku harus pergi kerja lebih awal agar tidak terlambat dan lain sebagainya.

Setelah salam aku berdo’a : Robbana atina fiddunya khahasa wafil akhiroti Khasanah… dan seterusnya yang tidak lain adalah do’a sapu jagat yang intinya meminta kebaikan dunia dan akhirat, cobalah anda pikir patutkah Aku memohon kepada Allah yang sedemikian besar sementara aku sholat tanpa mandi dan masih berpikir macam2 dalam sholatku.

Aku berangkat kerja seiring dengan do’a Bismillahi Tawakkaltualallah, ditengah perjalanan lalu lintas macet karena salah satu mobil menyerobot dan terjepit diantara mobil- mobil yang lain dalam hatiku bergumam betapa egoisnya supir mobil tersebut tidak pernah memikirkan kepentingan orang lain seakan aku selalu mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentinganku sendiri.

Di kantor kulihat atasanku sedang kebingungan di depan computer dan selalu bertanya pada Clerknya Cara menjalankan Microsoft Office dalam hatiku berkata ah ternyata bener juga kata orang bahwa dia jadi atasanku karena ada KKN habisnya pakai Microsoft Office saja nggak bisa, tak lama kemudian anak buahku datang menyerahkan data untuk bahan presentasiku yang kutolak karena cara mendapatkan datanya salah, sekali lagi bergumam dalam hatiku apa saja yang dipelajari waktu sekolahnya toh dia lulusan dari sekolah terkenal dan nilai rata2 nya lebih tinggi dariku tapi kenapa sebodoh itu.

Sepintas terlihat ada pegawai wanita yang baru yang menarik perhatianku cantik, tinggi semampai tapi sayangnya kalau berjalan sedikit miring.Ah… . malu rasanya dengan lagu yang aku nyanyikan, selalunya kulihat kekurangan orang lain ada dimataku namun DEBU dihatiku tak pernah aku bersihkan.

Kita mesti berjuang memerangi diri bercermin dan banyaklah bercermin.Aku sepertinya lupa bahwa yang aku perangi selama ini adalah kemalasan untuk membaca buku2 ilmu pengetahuan yang bisa menghambat karirku dalam bekerja selain itu dengan penuh semangat aku perangi kemiskinan demi meningkatkan status sosial, memeras otak hanya untuk mencari jalan agar mendapat tambahan penghasilan padahal terkadang aku ingat sebuah kisah sahabat Rosulullah S.A.W yang bertanya sesaat setelah peperangan Badar, ya Rosulullah adakah perang yang lebih dahsyat dari perang badar ini, Jihaadun Nafs Jawab Rosulullah yaitu perang melawan hawa nafsu.

Beginilah aku yang lebih pandai berucap dan berkhotbah ketimbang melakukannya.

Kalau masalah bercermin aku tidak pernah lupa seharipun apalagi kalau akan keluar rumah, kulihat wajahku, dandananku tak lupa kusemprotkan parfum kebanggaanku dan dengan percaya diri aku keluar rumah. Aku juga bercermin kepada kawanku, tetanggaku, keluargaku tentang apa yang telah dia lakukan sehingga mereka berhasil menduduki jabatan yang tinggi, kekayaan yang berlimpah hingga tak perlu khawatir tentang anak keturunanya, jeleknya aku jarang kalau tidak boleh dikatakan tidak pernah bercermin kepada saudaraku yang senantiasa beribadah kepada Allah, yang selalu mensyukuri apa yang dia miliki, lebih miskin dariku namun bersedekah jauh melebihi aku padahal aku pernah mendengar bahwa lihatlah kebawah tentang harta dan lihatlah keatas mengenai ilmu demikian juga ketika aku mendengar Ayat Allah dibacakan ” Lainsyakartum La azidannakum Walainkafartum Inna Adzaabi Lasadiid ” dan ditutup dengan shodaqollohul adhim aku hafal tentang arti Ayat Allah yaitu barangsiapa yang bersyukur atas nikmatKU maka akan kutambah nikmat itu dan barangsiapa yang ingkar sesungguhnya siksaKU amatlah pedih kemudian ditutup dengan maha benar Allah dengan segala FirmanNya dan semua itu berlalu begitu saja di telingaku.

Ya Allah dimanakah tempatku setelah Engkau perhitungkan amal dan dosaku.

Allah ada didalam jiwa ini adalah kalimat puistis yang sering kudendangkan tatkala aku lagi menghadapi masalah atau menerima musibah tak lupa kusertakan kalimat selanjutnya Allah akan membantu hambaNya yang berusaha tidak lain hanyalah demi untuk memotivasi keyakinanku untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah, tidak demikian halnya tatkala aku lagi Happy seakan kalimat2 tersebut tak pernah aku mendengarnya bagaimana tidak, aku bisa berkata bohong untuk menolak permintaan shodaqoh untuk masjid, aku dengan leluasa membawa alat tulis kantor ke rumah untuk kepentingan pribadi semuanya seakan Allah tidak ada dalam jiwaku dan tiba2 ada ketika aku butuh pertolongannya.

Ya Allah berilah aku petunjuk karena hanya dariMUlah petunjuk itu datang. Dalam kebodohanku aku masih yakin bahwa Allah akan tersenyum kepadaku meski aku tak tahu kapan. Siapakah Aku ?

Aku bisa saja sang penulis, yang membaca atau siapa saja yang masih suka menonjolkan Akunya.

Untuk kita renungkan… … … …

BERCERMIN DIRI

Dalam keseharian kehidupan kita, begitu sangat sering dan nikmatnya ketika kita bercermin. Tidak pernah bosan barang sekalipun padahal wajah yang kita tatap itu-itu juga, aneh bukan?! Bahkan hampir pada setiap kesempatan yang memungkinkan kita selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Mengapa demikian? Sebabnya kurang lebih karena kita ingin selalu berpenampilan baik, bahkan sempurna. Kita sangat tidak ingin berpenampilan mengecewakan, apalagi kusut dan acak-acakan tak karuan.

Sebabnya penampilan kita adalah juga cermin pribadi kita. Orang yang necis, rapih, dan bersih maka pribadinya lebih memungkinkan untuk bersih dan rapih pula. Sebaliknya orang yang penampilannya kucel, kumal, dan acak-acakan maka kurang lebih seperti itulah pribadinya.

Tentu saja penampilan yang necis dan rapih itu menjadi kebaikan sepanjang niat dan caranya benar. Niat agar orang lain tidak terganggu dan terkecewakan, niat agar orang lain tidak berprasangka buruk, atau juga niat agar orang lain senang dan nyaman dengan penampilan kita.

Dan ALLOH suka dengan penampilan yang indah dan rapih sebagaimana sabda Nabi Muhammad S.A.W , “Innallaha jamiilun yuhibbul jamaal”, “Sesungguhnya ALLOH itu indah dan menyukai keindahan”. Yang harus dihindari adalah niat agar orang lain terpesona, tergiur, yang berujung orang lain menjadi terkecoh, bahkan kemudian menjadi tergelincir baik hati atau napsunya, naudzhubillah. Tapi harap diketahui, bahwa selama ini kita baru sibuk bercermin ‘topeng’ belaka. Topeng ‘make up’, seragam, jas, dasi, sorban, atau ‘asesoris’ lainnya,. Sungguh, kita baru sibuk dengan topeng, namun tanpa disadari kita sudah ditipu dan diperbudak oleh topeng buatan sendiri. Kita sangat ingin orang lain menganggap diri ini lebih dari kenyataan yang sebenarnya. Ingin tampak lebih pandai, lebih gagah, lebih cantik, lebih kaya, lebih sholeh, lebih suci dan aneka kelebihan lainnya. Yang pada akhirnya selain harus bersusah payah agar ‘topeng’ ini tetap melekat, kita pun akan dilanda tegang dan was-was takut ‘topeng’ kita terbuka, yang berakibat orang tahu siapa kita yang ‘aslinya’. Tentu saja tindakan tersebut, tidak sepenuhnya salah. Karena membeberkan aib diri yang telah ditutupi ALLOH selama ini, adalah perbuatan salah. Yang terpenting adalah diri kita jangan sampai terlena dan tertipu oleh topeng sendiri, sehingga kita tidak mengenal diri yang sebenarnya, terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu marilah kita jadikan saat bercermin tidak hanya ‘topeng’ yang kita amat-amati, tapi yang terpenting adalah bagaimana isinya, yaitu diri kita sendiri.

Mulailah amati wajah kita seraya bertanya, “Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana ataukah wajah ini yang akan hangus legam terbakar dalam bara jahannam?”

Lalu tatap mata kita, seraya bertanya, “Apakah mata ini yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap ALLOH Yang Mahaagung, menatap keindahan surga, menatap Rasulullah, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih ALLOH kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai, meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?”

Lalu tataplah mulut ini, “Apakah mulut ini yang di akhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thoyibah, ‘laillahailallah’, ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur dan di akherat akan memakan buah zakun yang getir menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan nanah? Saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini!”

“Wahai mulut apa gerangan yang kau ucapkan? Wahai mulut yang malang betapa banyak dusta yang engkau ucapkan.

Betapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Berapa banyak kata-kata manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu beberapa orang? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama ALLOH dengan tulus? Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar ALLOH mengampuni?” Lalu tataplah diri kita tanyalah, “Hai kamu ini anak sholeh atau anak durjana, apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini dan apa yang telah engkau berikan? Selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya. Tidak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk tiada tahu balas budi!

“Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya, bersinar, bersukacita, bercengkrama di surga atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar membara jahannam terasang tanpa ampun derita tiada akhir”

“Wahai tubuh, berapa banyak masiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang-orang yang engkau dzhalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba ALLOH yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa pula hak-hak yang engkau napas?”

“Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu?Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah atau selemah daun-daun yang mudah rontok?

Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotaranmu?”

Lalu ingatlah amal-amal kita, “Hai tubuh apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikan, berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini?” “Apakah engkau ini dermawan atau sipelit yang menyebalkan?” Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu”.

“Apakah engkau ini sholeh atau sholehah seperti yang engkau tampakkan?

Khusukkah shalatmu, dzikirmu, doamu, .ikhlaskah engkau lakukan semua itu?

Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah menjadi makhluk riya tukang pamer!”

Sungguh betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi, betapa aku telah tertipu oleh topeng? Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng, hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus topeng-topeng duniawi”

Wahai sahabat-sahabat sekalian, sesungguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini.

4 PERKARA SEBELUM TIDUR

Rasulullah berpesan kepada Aisyah ra : “Ya Aisyah jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu :

1. Sebelum khatam Al Qur’an,

2. Sebelum membuat para nabi memberimu syafaat di hari akhir,

3. Sebelum para muslim meridloi kamu,

4. Sebelum kaulaksanakan haji dan umroh …

“Bertanya Aisyah :

“Ya Rasulullah… . Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?”

Rasul tersenyum dan bersabda : “Jika engkau tidur bacalah : Al Ikhlas tiga kali seakan-akan kau mengkhatamkan Al Qur’an.

Membacalah sholawat untukKu dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberi syafaat di hari kiamat.

Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meredloi kamu.

Dan,perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka seakan-akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh”

Sekian untuk ingatan kita bersama.

KEIKHLASAN

Mereka yang bertindak akan musnah, kecuali mereka yang menyembah Allah

Mereka yang menyembah Allah akan musnah, kecuali mereka yang mengetahui Allah

Mereka yang mengetahui Allah akan musnah, kecuali mereka yang jujur

Mereka yang jujur akan musnah, kecuali mereka yang tulus

Mereka yang tulus akan musnah, kecuali mereka yang waspada

Mereka yang waspada akan musnah, kecuali mereka yang memiliki keyakinan

dan mereka yang memiliki keyakinan adalah yang bersifat luhur.

Allah menggambarkannya dengan indah dalam ayatnya surah 15: 99

” Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu (waktu kematian) yang diyakini “

TIPU DAYA SYETAN

Ada kaidah bahwa sesuatu yang tidak terlihat tidak lantas disebut tidak ada. Contoh sederhananya adalah elektron, udara, jin. Seorang Profesor elektro pun pasti belum pernah melihat elektron dengan kasat mata, atau melihat arus listrik yang mengalir pada kabel. Bila tidak percaya pegang saja kabel listrik kalau tidak kabel itu “menggigit” alias nyetrum. Tapi jangan coba-coba mengetesnya sendiri pokonya percaya saja. Udara juga kita pasti tidak dapat melihatnya. Yang terlihat hanyalah gerakan benda-benda yang terhempas oleh udara contohnya dedaunan yang bergoyang terhempas udara. Begitu juga jin. Dan untuk masalah jin ini, walaupun tidak terlihat dia pasti ada. Jin itu sendiri ada yang muslim dan ada yang kafir. Dan yang mengajak kejahatan itu disebut dengan syetan dan nenek moyangnya adalah iblis laknatulloh.

Mengapa kita harus percaya bahwa sesuatu yang tidak terlihat belum tentu tidak ada? Itu karena manusia sendiri diciptakan sempurna oleh Alloh. Manusia diciptakan dengan keterbatasan. Dengan keterbatasannya itu sesungguhnya itu adalah rahmat bagi manusia itu sendiri. Manusia diciptakan dengan kemampuan melihat pergerakan benda yang kecepatannya terbatas. Juga manusia diciptakan dengan kemampuan mendengar yang terbatas. Coba kita lihat baling-baling peS.A.W at, pasti bila putaran baling-baling itu kecepatannya makin tinggi maka tidak akan kelihatan anak baling-baling tersebut. Coba kita bisa mendengar semua frekuensi suara bisa stress jadinya bila setiap hari mendengar suara kelelawar, suara gelombang radio atau suara semut. Maha suci Alloh yang telah menciptakan keterbatasan pada diri manusia.

Manusia diciptakan dari tanah/sari pati tanah. Tapi bukan berarti kalau kita ditimpuk oleh tanah langsung bersenyawa, hasilnya yang pasti adalah benjol. Begitu juga dengan jin yang diciptakan dari panas api dan itu tidak berati jin tidak bisa meraskan panasnya api (neraka).

Menurut sejarahnya iblis/syetan selalu akan berusaha membuat manusia menyimpang dari jalan yang lurus. Dan itu dilakukan dalam ukuran detik atau bahkan bila ada yang lebih kecil dari detik maka begitu gencarlah syetan berusaha menyesatkan manusia.

Kita yang tidak bisa melihat jin kafir/syetan suka terlena akan godaan syetan ini. Kita suka tidak sadar bahwa mereka selalu mengintai dan menyesatkan manusia seperti halnya aliran darah dalam tubuh manusia yang terus bersirkulasi begitu juga syetan, terus menyesatkan manusia tanpa henti.

Oleh sebab itu yakini sesungguhnya kita sedang berperang antara manusia dengan syetan. Dan syetan adalah musuh yang nyata bagi manusia walaupun tidak terlihat mata. Dan alangkah aneh kita manusia tetapi tidak tahu atau tidak awas siapa musuh kita, bagaimana musuh kita.

Syetan itu bekerja sama antara syetan dari golongan jin dengan syetan dari golongan manusia. Contohnya adalah: melalui desainer pakaian syetan membisik-bisikan agar si desainer menghasilkan desain pakaian yang mini-mini yang membuka aurat. Juga syetan memberikan ide-ide kepada para pembuat iklan untuk membuat iklan yang menghasilkan kesan mesum dan juga para penggubah lagu juga dibisik-bisiki supaya menghasilkan lagu yang mengundang syahwat. Kesemuanya bermuara kepada melalaikan untuk mengingat Alloh! Bila melihat sinetron jaman sekarang, pasti bapak-bapak/ibu-ibu juga anak laki-laki/perempuan suka nonton sinetron bukan karena jalan ceritanya yang bagus tapi cenderung karena pemainnya yang muda-muda cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Dan ini tanpa disadari bisa menjadi sumber ketidak harmonisan rumah tangga. Coba saja lihat “habis lihat sinetron dengan pemainnya wanita-wanita cantik lalu setelah itu lihat wajah istri sendiri”, pasti akan kelihatan lebih tua. Karena apa… ..karena barusan melihat wanita-wanita muda dan cantik disinetron. Begitu juga dengan ibu-ibu “habis lihat pemain yang muda gagah” lalu lihat suami … ..wah koq kelihatan sudsh tua sekali. Itulah cara-cara syetan memalingkan manusia melalui berbagai cara agar kehidupan manusia

penuh dengan perpecahan dan jauh dari mengingat Alloh.

Coba jalan-jalan ke Mall, dimana ada di Mall itu sesuatu yang bisa mengingatkan kita kepada Alloh. Suaran adzan / lantunan

Al-Qur’an tidak terdengar, sholat pun bisa jadi lewat begitu saja.

Begitu juga halnya dengan pacaran. Bila ada yang berkata “Aku cinta padamu”… padahal arti sebenarnya adalah “Aku nafsu sama kamu”. Kenapa? Karena cinta itu sejatinya setelah memasuki jenjang perkawinan. Sebelum pernikahan yang ada hanyalah nafsu. Untuk itu berhati-hatilah antara pergaulan muda-mudi jangan sampai tergelincir kepada zina.

Dalam upaya kita berbuat kebaikan juga selalu berusaha syetan itu menyusup, misalnya ketika berbuat baik ditiup-tiupkan perasaan riya’ atau ketika baca Al-Qur’an dibagus-baguskan supaya orang lain memuji kita.

Oleh sebab itu yakinlah bahwa syetan itu ada dan selalu berusaha menggelincirkan manusia kepada maksiat dan jauh dari mengingat Alloh.

Ada hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menjauhkan godaan syetan, antara lain adalah memohon perlindungan kepada Alloh agar diselamatkan dari godaan syetan, sebab syetan itu sendiri mutlak berada dalam genggaman Alloh.

Jangan jadikan rumah kita menjadi sarang syetan. Caranya adalah hindari barang-barang yang bisa menarik syetan untuk dijadikan tempat bersarang. Contoh: jangan ada patung, lukisan makhluk hidup, jangan ada tempat-tempat kotor, lembab, bau dan tidak terawat. Jangan pelihara anjing – Bagi yang punya anjing kasihkan saja sama orang lain yang non muslim karena anjing itu bisa menahan malaikat rahmat memasuki rumah kita. kalau untuk penjaga pakai saja alarm atau sewa satpam. Buat juga kamar atau rumah itu suasananya bisa mengingat Alloh. kalau perlu pajang kain kafan di kamar. Hati-hati dengan barang-barang elektronik seperti Komputer, TV, VCD, dll karena barang -barang itu juga bisa dijadikan alat perusak iman kita oleh syetan.

Disamping menjaga lingkungan dari kemungkinan dijadikannya sarang syetan maka diri kitapun harus dijaga dengan dzikir kepada Alloh baik diwaktu pagi atau petang dan juga sebelum tidur. Beberapa contoh yang dapat dilakukan adalah berwudhu sebelum tidur, membaca do’a sebelum tidur, juga baca ayat kursi atau baca lafadz : Laa ilaaha illallohu wahdahu Laa syarikalah lahul mulku walahul hamdu yuhyii wa yumiitu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir sebanyak 100 kali (kalau bisa) atau baca doa-doa yang mashyur (Dzikir Al Ma’tsurat misalnya ).

Dan sebagai salah satu bentuk pertahanan yang harus selalu kita lakukan bagi keluarga/anak-anak kita atau saudara-saudara kita adalah berdo’a kepada Alloh yang menguasai segala makhluk agar terlindung dari godaan syetan.

Semoga kita semua dapat diselamatkan dan dilindugi oleh Alloh dari godaan syetan dan iblis yang terkutuk. Aamiin.

“SISI LAIN” PERTOLONGAN ALLOH

Karunia pertolongan ALLOH Azza wa Jalla terkadang “definisi”-nya tidak mesti sama dengan apa yang terpikir dalam benak dan terbetik dalam untaian harapan kita. Bisa jadi apa yang kita artikan dan kita dambakan lewat doa ataupun cetusan hati itu berupa ‘A’, ternyata yang datang berbentuk ‘B’. Sayangnya, kita kerapkali tidak menyadarinya. Kita anggap bahwa ALLOH tidak menolong kendati sudah ‘habis-habisan’ berdoa.

Akan tetapi, bagi orang yang sudah memiliki makifat, tentulah tidak akan atau setidaknya tidak akan berlama-lama terjebak dalam buruk sangka seperti itu. Dia akan diberi kesanggupan oleh ALLOH untuk dapat menangkap hikmah dibalik setiap kejadian. Dan oleh karena itu, cepat atau lambat akan segera disadarinya bahwa ALLOH Azza wa Jalla sama sekali tidak akan pernah lalai dalam mengurus hamba-Nya dan tidak akan pernah lupa untuk mengabulkna doa-doanya.

Ketika suatu waktu kita ingin pertolongan ALLOH dan ternyata pertolongan itu belum datang juga seperti yang kita inginkan, namun kita tetap bisa berdoa dan shalat tahajud, maka itu pun harus membuat kita puas. Mengapa? Sebab, karunia ALLOH tidak harus berbentuk material seperti yang kita inginkan. Kita bisa berdoa, kita bisa tahajud, dan kita bisa tetap bersungguh-sungguh dalam meminta, itu pun merupakan karunia besar. Bahkan bisa jadi lebih besar daripada apa yang yang kita minta, baik berupa uang ataupun aneka bentuk pertolongan lainnya.

Ketika kita diuji dengan lilitan hutang, misalnya, lantas kita setiap malam menangis dan berdoa, “Ya, ALLOH. Sesungguhnya hanya Engkaulah yang Mahakaya. Jagat raya alam semesta ini sungguh milik-Mu. Bayangkanlah hutangku, ya Rabb.” Akan tetapi, ketika ternyata hutang-hutang itu tak bisa terbayarkan juga, maka bukanlah itu berarti doa kita tidak dikabulkan-Nya. Sesungguhnya, kesanggupan kita untuk bangun setiap malam dan memanjatkan doa dengan penuh harap, ini pun karunia ALLOH yang amat besar. Apa sih artinya hutang bagi ALLOH yang Mahakaya? Mungkin dengan hutang itu ALLOH justru sedang menjerat seorang hamba-Nya agar semakin dekat kepada-Nya.

“Ya, ALLOH. Usahaku saat ini sedang macet. Tolonglah, ya ALLOH. Bukanlah Engkau Mahakaya, Pemiliki segalanya?” Subhanallah. Bukankah sangat jarang kata-kata seperti ini terucap dari lisan seseorang ketika dia sedang dalam keadaan makmur? Sungguh mahal kata-kata makrifat seperti itu, yang bisa jadi terlontar dari lisan kita justru tatkala kita sedang dalam kesusahan. Nah, siapa tahu itu merupakan karunia yang lebih besar daripada dilapangkan seketika oleh ALLOH.

Jadi, kita terus-menerus memohon, menghiba-hiba, dan dengan sekuat tenaga memaksakan diri mendekat kepada ALLOH, itu pun adalah karunia ALLOH yang lebih besar dari pada yang kita mintakan dalam doa.

Anda datang menghadiri pengajian di majlis taklim karena suatu kesulitan dan kesempatan yang tengah di hadapi, lalu anda dengarkan ceramah sang mubaligh; itu lebih baik daripada doa yang kita minta. Karena dengan cara ini mungkin lebih banyak yang terselesaikan daripada satu penyelesaian masalah yang kita mintakan dalam doa.

Anda minta dimudahkan urusan oleh ALLOH tetapi malah diberi ilmu; bisa jadi itu lebih manfaat daripada kemudahan urusan yang anda cari. Karena, dengan ilmu justru lebih banyak urusan yang bisa terselesaikan. Demikian juga bila anda sedang mempunyai masalah dengan tetangga atau orang tua, tetapi Anda telah datang kepada ulama untuk menuntut ilmu; itu ‘kan merupakan masalah yang dapat membuat kita menjadi lebih baik.

Walhasil, janganlah takut oleh suatu masalah karena pertolongan ALLOH itu teramat dekat. Dan bentuknya yang mahal adalah ketika kita berubah menjadi semakin taat kepada ALLOH. Sekali lagi, semua itu adalah karunia yang jauh lebih besar daripada yang kita minta.

KAPANKAH TIBA PERTOLONGAN ALLOH?

Kapankah pertolongan ALLOH akan tiba? Begitu banyak yang selalu menanti dan mengharap pertolongan ALLOH. Ada yang sabar, ada yang tidak sabar. Ada yang yakin bahwa ALLOH akan menolong, ada juga yang ragu-ragu. Ada yang menikmati saat-saat menanti pertolongan ALLOH, namun tak sedikit yang sengsara.

Akan tetapi, bagi orang-orang yang telah mengetahui ilmunya, yakin benar bahwa ALLOH adalah Dzat yang sama sekali tidak pernah bohong terhadap apa yang Dia janjikan. ALLOH adalah Dzat yang sekali-kali tidak pernah salah perhitungn sedikitpun juga atas segala takdir dan ketentuan-Nya. Pasti tidak akan meleset, pasti tidak akan mengecewakan! Hanya, perkara bentuk ataupun waktunya, masya ALLOH, itu sama sekali bukan urusan kita.

Bukankah untuk itu ALLOH Azza wa Jalla telah menebar janji dan jaminan-Nya lewat Al Quran Al Karim? Simaklah firman-Nya yang sungguh Mahabenar ini, ‘Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” [Q.S. Al Mukmim (40):51]. “…Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” [Q.S. Ar Ruum (30):47].

Ada sebuah keluarga yang selalu di rundung ujian oleh ALLOH. Kedua suami istri ini ditakdirkan menderita suatu penyakit. Sang suami diuji dengan sakit yang berkepenajangan; sekali jatuh sakit dia harus berbaring selama dua hingga tiga tahun. Isterinya pun ternyata harus mendapat ujian sakit pula. Hal ini kerapkali menimpa keduanya semenjak awal berumah tangga. Akan tetapi, alhamdulillah keluarga ini benar-benar beriman.

Sampai suatu saat sang isteri ditakdirkan oleh ALLOH mengandung, namun sayang kehamilannya ini pun merupakan satu batu ujian tersendiri: ia hamil anggur. Dokter menyarankan agar kandungannya harus segera dibersihkan. Kalau tidak akan menambah masalah baru bagi kesehatannya. Berapa biayanya? Subhanallah, untuk membersihkannya saja dibutuhkan biaya tak kurang dari empat ratus ribu rupiah. Jelas, keluarga yang memang hidup pas-pasan ini tidak mampu menanggung biaya sebesar itu.

Keduanya pun hanya bisa menjerit kepada ALLOH mengadukan semua ini. “Ya ALLOH. Sungguh Engkau Mahatahu keadaan kami. Engkau Mahatahu kami miskin harta. Kini Engkau uji kami dengan kejadian seperti ini. Hanya Engkaulah yang mampu menolong dan melapangkan kesempitan hamba-hamba-Mu,” rintihnya.

Begitulah karena ketidakmampuannya menyediakan biaya pengobatan, sang istri hanya bisa berbaring lesu ditempat tidur.

Hingga akhirnya turunlah pertolongan dari ALLOH yang Maharahman, yang syariatnya ternyata berupa sakit thypus! Panas! Panas sekujur tubuhnya, panas kepalanya, panas perutnya! Akibatnya, terjadilah keguguran. Dan dokter yang memeriksanya kemudian, menyatakan bahwa kandungannya kini telah bersih, sehingga tidak perlu lagi diadakan pembersihan kandungan sebagaimana yang telah disarankannya tempo hari. Allahu Akbar!

Pertolongan ALLOH memang tidak mesti sebentuk dengan apa yang kita duga dan harapkan. Kita jangan terperdaya oleh syetan yang menganggap ALLOH tidak menolong kita, padahal pertolongan ALLOH ternyata sudah datang. Hanya karena beda bentuk saja.

ALLOH pasti sangat memperhatikan keadaan kita jauh lebih bear daripada perhatian kita terhadap diri sendiri. Betapa tidak! Karena, Dia-lah yang merancang tubuh kitadengan detail, sedangkankita tidak tahu apa-apa tentang diri ini. Lantas apalagi yang perlu kita kita ragukan dalam hidup ini tentang jaminan dan jamuan dari ALLOH Azza wa Jalla.

Hanya orang-orang malang yang ragu-ragu terhadap janji ALLOH. Padahal keraguan tidak mendatangkan apapun, selain mendatangkan kesengsaraan! Yakin ataupun tidak yakin tetap saja ketentuan ALLOHakan menimpa kita. Hanya dengan keyakinan yang mantapah ketentuan ALLOH akan berubah menjadi ladang nikmat apapun yang terjadi.

Akan tetapi, kalau kita hadapi kejadian dalam hidup ini dengan buruk sangka terhadap pertolongan ALLOH, maka kita sudah sengsara duluan menghadapinya, bhkan terhalang juga pertolongan ALLOH itu karena keburuksangkaan kita terhadapnya.

Oleh sebab itu, jangan sekali-kali mimpi hidup enak tanpa ujian dari ALLOH karena bagaimanapun ujian itu sendiri merupakan konsekuensi logis dari keberimanan kita. Sejauh kita yakin bahwa ujian merupakan suatu jalan bagi diangkatnya derajat keimanan kita, insya ALLOH semua ini akan menjadi ladang nikmat. Karena, toh tidak bisa diragukan lagi bahwa diujung segala ujian, karunia pertolongan-Nya siap menyongsong.

TAUBAT LELAKI YANG SIBUK

Diceritakan bahwa ada seseorang menceritakan kepada Hasan Al-Basri: “Wahai Abu Said! Di sini ada seorang lelaki yang tidak mau berkumpul dengan orang ramai. Dia sentiasa duduk sendirian saja.”

Hasan pergi kepada orang yang dimaksudkan itu dan berkata: “Wahai hamba Allah! Aku melihat engkau suka duduk menyendiri saja. Mengapa engkau tidak suka bergaul dengan orang ramai?” “Ada suatu perkara yang telah menyibukkan aku dari berkumpul dengan manusia.”

Sekurang-kurangnya engkau pergi kepada lelaki yang dipanggil sebagai Hasan Al-Basri dan duduk di majlis ilmunya.” kata Hasan lagi.

“Ada satu perkara yang mencegah aku dari berkumpul dengan manusia termasuk Hasan Al-Basri.” Kata lelaki itu.

“Semoga Allah merahmatimu. Apakah gerangan yang sentiasa menyibukkan engkau?”

“Aku setiap hari terjepit di antara nikmat dan dosa. Maka setiap hari diriku sibuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah dan sibuk bertaubat atas dosa-dosa tersebut.” Jawab lelaki itu.

“Wahai hamba Allah! Kalau begitu engkau lebih alim dari Hasan Al-Basri. Maka kekalkanlah amalan yang telah engkau lakukan.” Kata Hasan Al-Basri.

TAUBAT SEORANG WANITA BUTA

Saleh Al-Muri bercerita, bahwa dia pernah melihat seorang perempuan tua memakai baju kasar di Mihrab Daud Alaihissalam.

Perempuan yang telah buta matanya itu sedang mengerjakan sholat sambil menangis terisak-isak. Setelah selesai sholat dia mengangkat wajahnya ke langit dan berdoa:

“Wahai Tuhan Engkaulah tempatku memohon dan Pelindungku dalam hidup. Engkaulah penjamin dan pembimbingku dalam mati. Wahai Yang Maha Mengetahui perkara yang tersembunyi dan rahasia, serta setiap getaran batin tidak ada Raja bagiku selain Engkau yang kuharap dapat menghindarkan bencana yang dahsyat.”

Saleh Al-Muri memberi salam kepada perempuan tersebut dan bertanya: “Wahai Ibu! Apa yang menyebabkan hilangnya

penglihatanmu?” “Tangisku yang disebabkan sedihnya hatiku karena terlalu banyaknya maksiatku kepada-Nya, dan terlalu sedikitnya ingatan dan pengabdianku kepada-Nya. Jika Dia mengampunkan aku dan menggantinya di akhirat nanti, adalah lebih baik dari kedua-dua mataku ini. Jika Dia tidak mengampunkan aku, buat apa mata di dunia tetapi akan dibakar di nereka nanti.” Kata perempuan tua itu.

Saleh pun ikut menangis karena sangat terharu mendengar hujjah wanita yang mengharukan itu.

“Wahai Saleh! Sudikah kiranya engkau membacakan sesuatu dari ayat Al-Quran untukku. Karena aku sudah sangat rindu kepadanya.” Pinta perempuan itu.

Lalu Saleh membacakan ayat yang artinya: “Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya.”

(Al-An’am: 91)

“Wahai Saleh, siapakah yang berkhidmat kepada-Nya dengan sebenarnya?” Kata perempuan itu lalu menjerit kuat-kuat dengan jeritan yang boleh menggoncangkan hati orang yang mendengarnya. Dia jatuh ke bumi dan meninggal dunia seketika itu juga.

Pada suatu malam Saleh Al-Muri bermimpi berjumpa dengan perempuan tua itu dalam keadaan memakai baju yang sangat bagus.

Dalam mimpi tersebut Saleh bertanya: “Bagaimana keadaanmu sekarang?”

Perempuan itu menjawab: “Lebih baik rohku dicabut, aku didudukkan di hadapan-Nya dan berkata: “Selamat datang wahai orang yang mati akibat terlalu sedih karena merasa sedikitnya khidmatnya kepada-Ku.”

KISAH ABU BAKAR DICERCA

Dikeluarkan oleh Ahmad dan At-Tabarani dari Abu Hurairah r.a. bahawa seorang lelaki telah mencerca Abu Bakar r.a. Ketika itu, Rasulullah S.A.W juga sedang duduk di sana. Baginda S.A.W tersenyum dan keheranan melihatkan keadaan lelaki tersebut. ketika lelaki itu mula bersikap kurang ajar terhadap dirinya, Abu Bakar r.a. pun membalas beberapa kata lelaki tersebut. Dengan yang demikian, Rasulullah S.A.W menjadi marah lalu bangun dan dibuntuti oleh Abu Bakar r.a.. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah S.A.W : “Lelaki itu bersikap kurang ajar terhadap diriku, oleh karena itu aku membalasnya.

Ketika aku mulai membalasnya, kamu meninggalkan kami di tempat itu”.

Rasulullah S.A.W bersabda: “Apabila kamu tidak membalas kata-katanya, terdapat malaikat yang membalasnya untuk kamu. Walau bagaimanapun apabila kami mulai membalas kata-kata kasarnya itu syetan mula mengambil tempat dan duduk di antara kamu. yang demikian itu aku tidak mau duduk bersama-sama dengan syaitan”.

Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda lagi: “Ya Abu Bakar ! Terdapat tiga perkara yang benar yaitu:

1) Apabila seorang hamba itu dizalimi dengan satu kezaliman, maka dia meninggalkan tempat itu semata-mata karena Allah, Allah akan menguatkan dan membantunya.

2) Apabila seseorang itu membuka pintu kedermawannannya dan memberi hadiah, maka Allah akan menambahkan kekayaannya.

3) Apabila seseorang itu mula meminta-minta untuk menambahkan kekayaannya, maka Allah akan mengurangkan kekayaannya.

PENDURHAKA YANG MASUK SURGA

Dahulu, hidup seorang laki-laki durhaka dan fasik dari bani Israil. Penduduk sekitar dimana ia tinggal mengusir lelaki itu agar meninggalkan desa, mereka khawatir dan tidak ingin ikut-ikutan terseret karena kedurhakaan laki-laki itu Allah menurunkan wahyuNya kedapa Musa AS, mengabarkan perihal di atas. Musa mendatangi lelaki itu dan juga turut mengusirnya dari desa tersebut. Laki-laki durhaka itupun angkat kaki dari desanya. Ia pindah ke desa lain, dekat desa tempat ia tinggal sebelumnya. Allah mewahyukan lagi kepada Musa dan Musa mengusir laki-laki itu dari desa tadi.

Akhirnya, laki-laki itu keluar lagi dari desa tersebut dan berjalan tak tentu arah. Ia kemudian memutuskan untuk pergi saja ke sebuah gurun gersang. Disana tidak ada orang tinggal, sehingga tidak mungkin ia diusir lagi dari situ. Ditempat ini, ia jatuh sakit, Ia tergeletak tak berdaya di atas pasir panas.

Penderitaan memang tak tertahankan lagi baginya. Ia mengeluh meratapi nasibnya itu.

“Wahai Tuhan!, andaikata aku dalam pangkuan ibu, maka pastilah ia menyayangiku, ia akan menangisi atas kehinaanku ini.

Andaikata ayahku di sisiku, pastilah ia akan menolongku, memandikanku, mengkafaniku. Andaikata istriku ada di sisiku, pastilah ia menangisi kepergianku.

Andaikata anak-anakku ada disini, pastilah mereka akan menangisi dibelakangku dan berdoa: ‘ Ya Allah, ampunilah orangtuaku yang asing, lemah,suka maksiat, fasik yang di usir dari satu tempat ke tempat lainnya, sehingga terdampat di gurun yang gersang ini. Ia mati menuju akhirat dalam keadaan putus asa kepada semuanya, kecuali kepada rahmat Allah’

Ya, Allah. Jika Engkau putuskan aku dari ibuku,anak-anakku,istriku, maka jangan Engkau putuskan aku dari rahmatMU. Hatiku terbakar karena berpisah dari mereka, maka jangn Engkau bakar aku dengan api MU karena maksiatku.”

Allah kemudian mengirim bidadari-bidadari yang menyerupai ibunya, isterinya, dan anak-anaknya. Juga Allah mengirim malaikat yang menyerupai ayahnya. Mereka semua duduk mengelilingi laki-laki itu dan meratapinya. Lelaki itu menjadi tenang, karena seakan-akan ia dikelilingi oleh ibunya, isterinya, anak-anaknya dan ayahnya.

“Ya Allah. Jangan Engkau putuskan aku dari rahmatMu. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Kemudian, lelaki itu wafat dengan tenanya, Ia menghadap Allah dalam keadaan bersih karena dosannya terampuni. Allah menurunkan wahyu kepada Musa. “Hai Musa. Pergilah ke gurun. Disana ada salah seorang waliKU wafat. Mandikan, kafani, shalati dia”

Musa segera datang ketempat yang dimaksud. Betapa kagetnya ia menemukan orang yang disebut Allah sebagai waliNya itu

adalah lelaki yang ia usir justru atas suruhan Allah sendiri. Musa melihat ada bidadari di sisi mayat lelaki itu, sedang menangisinya.\

“Wahai Tuhan, Bukankah ini pemuda fasik yang kuusir atas perintahMU?”

“Benar, ya Musa. Aku merahmatinya. Aku ampuni dosanya karena keluhnya waktu sakit, yaitu karena perpisahaannya dengan kampung halamannya, orang tuanya, anak-anaknya dan isterinya. Kukirim bidadari yang menyerupai ibunya, dan malaikat yang menyerupai ayahnya. Juga karena rahmatKu, dimana ia telah terhina dalam keasingannya. Jika orang terasing mati, menangislah penghuni bumi dan langit karena rasa kasihan, Bagaimana aku tidak kasihan padanya? Aku adalah zat yang Maha Kasih Maha Sayang”.

ORANG-ORANG YANG TERKELABUI

Saat niat memulai shalat, inginnya sangat bagus, akibatnya takbir diulang-ulang seakan-akan dia ingin bagus takbirnya. Dia tidak sadar bahwa dirinya sudah menjadi alat bagi syetan untuk mengganggu orang yang shalat di kanan-kirinya. Orang lain sudah membaca Al Fatihah, sudah mulai membaca surat dia masih sibuk dengan takbir yang dikeraskan demi kepentingan kekhusu’an dirinya. Berulang-ulang ia lakukan sampai orang yang di kanan-kirinya rusak shalatnya. Sungguh dia sudah jadi alat tipu daya syetan. Sepertinya ingin khusu’, padahal di saat yang sama dia sudah menjadi jalan untuk merusak shalat orang lain.

Pada waktu bacaan surat, ada juga yang terkecoh syetan dengan membuatnya ingin bacaan fatihahnya bagus, sehingga sangat mementingkan makhraz dan tajwidnya. Tidak jarang suaranya lebih dikeraskan supaya khusu’. Dia tidak menyadari bahwa bacaan fatihahnya yang begitu diupayakan betul makhraz dan tajwidnya itu sudah merusak shalat orang di kanan-kirinya. Dan dia sendiri sudah tidak ingat kepada ALLAH, karena begitu sibuknya dengan bacaan yang tidak dipahaminya.

Waktu shalat kadang kita merasa harus hingga menangis, bisa juga jadi sarana tipu daya syetan. Kita shalat berjemaah, kemudian hati tersentuh, oleh ALLAH digetarkan, tapi sesudah iut justru bisa jadi ria. Kita ingin tangisan kita diketahui orang lain atau kalau kita diam-diam menangisnya dengan air mata berlinang, terkadang ada keinginan agar orang lain tahu bahwa dirinya sedang menangis. Lalu lihat orang lain yang tidak menangis seakan-akan dianggap tidak dalam keadaan khusu.

Adapula yang ketika sujud dilamakan, imam sudah duduk, makmum lain sudah duduk, dia sengaja sujud sendiri lebih lama. Dia memang terasa nikmat, tapi jangan-jangan ini tipu daya syetan karena dalam sebuah kebersamaan (jamaah), keutamaan itu adalah yang dilakukan secara bersama-sama.

—————————————–

Ah, Sahabat. Kita harus hati-hati! Semua orang yang berilmu pasti binasa, kecuali orang yang mengamalkan ilmunya. Semua orang yang beramal juga pasti binasa, kecuali orang-orang yang ikhlas dalam mengamalkannya. Dan untuk ikhlas itu luar biasa sekali perjuangannya, harus cari ilmunya, atau minimal harus banyak tanya kesana-sini.

Orang yang biasa jadi imam, ketika suatu waktu dia terlambat dan ada orang lain yang mengimaminya lalau dia jadi makmum, tapi kalau dia tidak ikhlas selama shalat hatinya tidak menerima begitu saja diimami orang lain. Suatu saat lagi ketika ada tamu, karena ingin menghargainya dia persilahkan tamu itu menjadi imam.

“Silakan, Bapak saja yang jadi imam !” ujarnya.

Tapi ketika mempersilahkan ini ada setitik niatan untuk memperlihatkan kemuliaan dirinya, ketawadhuan dirinya, atau kearifan dirinya. Artinya dia menyuruh orang lain jadi imam bukan karena orang lain punya hak, tapi dia sengaja memperlihatkan dirinya, sehingga orang lain mengatakan,

“Oh, ini orang yang arif, orang yang bijak, orang yang tawadhu”.

Sepertinya dia sudah berbuat baik, padahal dia tertipu sudah memamerkan kebaikannya, masya ALLAH.

Begitu pun bagi orang-orang yang berilmu, banyak oran gyang berilmu dan terkelabui denganilmu yang dimilikinya. Dia belajar ilmu agama, rajin ke majlis taklim, ilmu syariat dia pelajari, sayangnya dia merasa menjadi orang yang pintar dalam ilmu agama. Dalil dikuasai, malah kalau berbicara selalu pakai dalil, sayangnnya lagi dia tidak meneliti bagaimana pribadinya. Sudah bisa melakukan atau tidak apa yang diketahui itu? Dia sibuk berhujah dengan aneka dalil, keterangan agama keluar dari mulutnya, tapi sayang seribu sayang dia tidak berhasil meneliti ilmu yang diketahuinya itu sudah dilakukan atau belum ?

Anehnya lagi dia sudah merasa shaleh, merasa sudah menjadi orang baik dengan ilmu yang dikuasainya. Padahal apalah artinya ilmu kalu tidak jadi amal. Apalah artinya kita mengetahui ilmu shalat, kalau kita tidak shalat. Inilah perilaku orang yang terkelabui yang tertipu. Banyak bicara agama, banyak bicara kebenaran tapi dia sendiri tidak melakukan kebenaran itu tapi dia sudah merasa terhormat dengan ilmunya, tidak merasa bersalah sama sekali. Seakan-akan orang yang beramal tanpa ilmu itu ditertawakan, masya ALLAH. Padahal ALLAH SWT berfirman,

“Sungguh amat besar kemurkaan di sisi ALLAH bagi orang-orang yang berkata-kata apa-apa yang tidak diperbuatnya” (QS. Ash Shaaf 21: 3).

WANITA BERTANGAN LUMPUH

Berdermalah selagi kalian mampu

Pada suatu hari pernah seorang wanita yang lumpuh tangan kanannya menghadap Nabi S.A.W seraya berkata : “Ya Nabiyallah, kumohon sudilah kiranya baginda memohon kepada Allah SWT agar Dia menyembuhkan tangan kananku yang lumpuh ini!”

Nabi S.A.W bertanya kepadanya : “Apakah yang menjadikan tanganmu lumpuh ?”

Maka wanita tadi menceritakan sebab kelumpuhannya :

“Ya, Nabiyallah, pada suatu malam aku bermimpi seakan-akan hari kiamat telah tiba. Neraka Jahannam yang apinya menyala-nyala tergambar dengan jelas dalam impianku, begitu juga surga. Namun betapa hati merasa sedih ketika aku melihat ibuku berada di neraka Jahannam. Dia memegang sepotong lemak dan selembar kain serbet. Dengan sepotong lemak dan selembar kain serbet itulah ibuku nampak bersusah payah menghalangi panasnya jilatan api neraka Jahannam. Maka aku segera menyapa ibuku : “Aduh ibu, mengapa ibu berada di jurang neraka Jahannam ini ? Padahal setahuku, ibu dulu rajin beribadah kepada Allah SWT, dan ayahpun nampaknya meridhai kebaktianmu ?”

Ibu : “Wahai anakkku, ketahuilah bahwa ibu dulu terlanjur bersifat kikir. Maka inilah tempat yang disediakan bagi orang-orang yang kikir!”

Anak : “Apakah arti sepotong lemak dan selembar serbet yang ibu pegang itu ?”

Ibu : “Anakku, hanya kedua benda itulah yang pernah kudermakan selama hidup! Selain itu tak ada lagi!”

Anak : “Lalu, sekarang ayah di mana ?”

Ibu : “Wahai anakku, ayahmu dulu seorang yang dermawan. Maka beliau sekarang berada di surga bersama-sama dengan para dermawan lainnya.”

Ya Nabiyallah, setelah itu aku pun segera ke surga menghampiri ayahku. Ternyata ayah sedang berdiri di sisi telagamu Ya Rasulullah. Disana beliau membagi-bagikan air minum kepada orang banyak, tetapi ibuku justru dilupakan.

Lalu aku bertanya kepada ayah : “Wahai ayahku, ketahuilah bahwa ibuku yang juga istri ayah, meskipun dulu sama-sama taat beribadah kepada Allah dan ayahpun tampaknya meridhai kebaktian ibu, namun kini dia berada di neraka Jahannam!.

Sementara itu, ayah berada di tempat ini membagi-bagikan minuman dari telaga Rasulullah S.A.W kepada orang banyak. Dan ayah begitu tega melupakan ibu. Maka kumohon wahai ayah, berilah segelas air dari telaga ini untuk kuberikan kepada ibu!”

Kata ayah : “Hai anakku, ketahuilah bahwa Allah SWT telah mengharamkan orang-orang yang kikir dan orang-orang yang kikir dan orang-orang yang berdosa meminum air telaga Rasulullah S.A.W ini!”

Ya Nabiyallah, mendengar jawaban ayah yang melarangku mengambil air dari telagamu, maka aku nekat mengambil segelas air dari telaga itu tanpa sepengetahuan ayahku. Lalu aku bermaksud memberikannya kepda ibu yang telah lama kehausan. Tiba-tiba terdengar suara: “Semoga Allah melumpuhkan tanganmu, karena kamu telah berani mencuri air dari telaga Rasulullah S.A.W ini untuk memberikan kepada orang yang kikir lagi berdosa!”

Ya Nabiyallah, usai mendengar suara itu, aku terbangun dari tidurku. Dan ternyata tanganku menjadi lumpuh seperti ini. Inilah sebab kelumpuhan tangan kananku, ya Nabiyallah!”

Setelah Nabi S.A.W mendengarkan sebab-sebab kelumpuhan tangan kanan wanita tersebut, maka beliau S.A.W meletakkan tongkatnya pada tangan wanita itu lalu berdoa : “Ya Allah, ya Tuhanku, dengan kebenaran mimpi yang diceritakan oleh wanita ini, maka kumohon sudilah kiranya Engkau berkenan menyembuhkan tangan kanannya yang menderita kelumpuhan !”

Atas doa Nabi S.A.W itu, sembuhlah tangan kanan wanita itu dari kelumpuhannya dan pulih seperti sediakala.

Tafsir Surah An-Nas

SEBENARNYA SYAITAN PENGECUT!

Sebenarnya syaitan itu pengecut. Syaitan tidak berani bertindak secara terang-terangan. Syaitan hanya bertindak secara sembunyi-sembunyi dan terhadap insan yang lalai saja. Syaitan amat takut kepada manusia yang berani, yaitu insan beriman yang mengamalkan zikir dan bersenjatakan doa.

Syaitan pengecut itu akan mundur menyembunyikan diri apabila ditentang oleh insan beriman seperti sabda Rasulullah s.a.w. (artinya): “Apabila manusia menyebut nama Allah, ia (syaitan) akan mundur/lari; dan apabila manusia lalai, dia akan membisikkan kejahatan.”

Surah An-Nas ialah surah yang ke-114 dalam al-Quran. Surah yang terdiri dari enam ayat ini diturunkan di Mekah setelah turunnya surah al-Falaq. An-nas artinya “manusia”.

TERJEMAHAN SURAH AN-NAS

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang.

1.Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku berlindung kepada (Allah) pemelihara sekalian manusia,

2.Raja manusia(Yang menguasai sekalian manusia),

3.Tuhan yang berhak disembah oleh sekalian manusia,

4.Dari kejahatan pembisik, penghasut yang timbul tenggelam,*

5.Yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati manusia,

6.(Yaitu pembisik dan penghasut) dari kalangan jin dan manusia.**

*Nota 1: Yakni yang “timbul” menjalankan bisikan dan hasutannya apabila manusia lalai dari mengingat Allah dan hukum agamanya, dan “tenggelam” (mundur/lari) pada saat seseorang ingat kepada Allah dan memikirkan balasan buruk yang disediakan oleh Allah untuk orang yang melakukan kejahatan (hasil bisikan dan hasutan itu).

**Nota 2: … Surah ini mengajar kita memohon perlindungan dari bahaya batin yaitu bahaya perasaan waswas (ragu-ragu) dan ingatan buruk yang datang dr angkaramurka makhluk yang tidak kelihatan pada kita–(syaitan atau jin), dan dari tipu daya makhluk yang berupa manusia … .

ULASAN

Dengan membaca surah ini kita memohon perlindungan Rabb–Tuhan yang memelihara, yang memerintah dan yang disembah oleh manusia–agar melindungi diri kita dari kejahatan syaitan. Syaitan itu–datang dan menghilang,timbul tenggelam–membisikkan kejahatan di dalam hati manusia.

Maksud hadis, dari Ibnu Abas r.a., katanya Rasulullah s.a.w. bersabda: Syaitan itu duduk (nongkrongi) di atas hati manusia; apabila manusia mengingat Allah, dia mundur; apabila manusia lalai, dia membisikkan kejahatan.

Hamka (Tafsir Al-Azhar, Juz 29–30, 1984: 296) memetik pandangan Ibnu Qatadah seperti yang berikut: “Dikeduanya ada syaitannya. Di kalangan jin ada syaitan-suaitan, di kalangan manusia pun ada syaitan-syaitan.”

Jadi, syaitan itu bisa berupa syaitan (sebenarnya) yang tidak bisa dilihat dan syaitan (jadian) yang berupa manusia. Menurut Ahmad Sonhadji Mohamad dalam buku Tafsir Al-Quran Juz 30 (1990: 233), “syaitan dari bangsa manusia lebih jahat dan sangat berbahaya dibanding syaitan dari bangsa jin”.

Syed Qutb pula berkata, manusia akan bersiap sedia mempertahankan diri dari kejahatan syaitan “apabila seseorang itu menyadari bahwa syaitan yang tidak nampak itu membisikkan kejahatan di dalam hati manusia secara halus dan tidak dapat dilihat, begitu juga apabila dia menyadari ada manusia menaburkan kejahatan di dalam hati manusia sama seperti syaitan yang tidak nampak itu … .”

Menurut Syed Qutb lagi, syaitan telah mengisytiharkan perang terus-menerus terhadap manusia. Perisytiharan itu lahir dari tabiat jahat, angkuh, hasad dengki dan dendam kesumatnya terhadap manusia. Syaitan telah meminta kebenaran dari Allah untuk memerangi manusia, dan permintaan itu telah dikabulkan oleh Allah karena suatu hikmat yang diketahui-Nya.

Walau bagaimanapun, Allah menyediakan manusia dengan iman sebagai perisai untuk menghadapi angkara murka syaitan. Allah menjadikan zikir sebagai kelengkapan perang untuk manusia menghadapi bala tentera syaitan. Allah telah membekali manusia dengan doa sebagai senjata yang dapat melindungi manusia dari godaan syaitan. Seandainya manusia melupakan perisai, kelengkapan dan alat senjata itu, maka manusia itu sajalah yang patut disalahkan! (Tafsir fi Zilalil Qur’an, Juz Amma (Jawi), Dian Darulnaim 1988, hlm. 18-19.)

EMPAT GOLONGAN PENGGODA

Menurut Syed Qutb, terdapat empat golongan penghasut dari kalangan manusia yaitu teman jahat, provokator/dalang, tukang umpat dan penjual nafsu:

1. Teman jahat menaburkan kejahatan ke dalam hati dan akal kawannya tanpa disadari;

2. Provokator/dalang para pejabat membisikkan idea jahat kepada tuannya sehingga para pejabat itu menzalimi rakyat;

3. Tukang umpat menggunakan kata-kata yang indah dengan licik sehingga kepalsuan yang disebarkannya kelihatan seolah-olah benar;

4. Dan penjual nafsu, dengan gaya yang amat menarik, menyelinap masuk dari pintu naluri tidak dapat ditolak melainkan dengan kekuatan iman dan pertolongan Allah!

Menurut Syed Qutb lagi, ada hasutan jahat manusia yang lebih buruk daripada hasutan syaitan. “Di sana terdapat berpuluh-puluh jenis pembisik kejahatan yang datang dan menghilang, yang membuat perangkap kejahatan dan menyeludupkannya ke dalam hati manusia. Mereka lebih jahat daripada syaitan yang tidak nampak dan lebih halus jejak langkahnya”.

DZIKIR HARIAN

1. ASTAGHFIRULLAH

Mari kita berhitung sejenak, dalam hidup yang sudah kita jalani berapa banyak dosa yang telah kita perbuat Baik sengaja maupun tidak sengaja yang pasti semua itu dicatat oleh malaikat Atit ( yang bertugas mencatat dosa manusia ).

Coba kita visualisasikan, seandainya 1 hari kita melakukan dosa 10x maka 20 Th = 3600 x 20 = 72000 Dosa.

Saya yakin bahwa masing-masing dari kita melakukan dosa lebih dari 1x setiap hari, tentu anda pernah mengalami kejadian dibawah ini :

1. Memandang wanita/pria yang kedua kalinya ( bukan pandangan pertama ) yang bukan muhrimnya.

2. Merasa lebih dengan merendahkan orang lain ( Sombong )

3. Menggunakan fasilitas/barang milik orang lain tanpa kerelaan pemiliknya ( Ghosab )

Contoh : – Menggunakan pulpen teman yang tergeletak dimeja tanpa sepengetahuan pemiliknya.

- Memakai sandal teman tanpa izin pemiliknya Ghosab hukumnya haram yaitu dianggap Mencuri kategori kecil.

Pernahkah kita sengaja untuk tidak melakukan dosa 1x pun dalam sehari dalam seumur hidup kita ?,

Pernahkah kita habiskan 1 hari dalam umur kita khusus untuk minta ampun kepada Allah atas dosa kita ?.

Yang sering kita lakukan justru merencanakan rekreasi menjelang hari libur yang akan kita lalui.

Allah suka pada orang miskin yang taat beribadah namun Allah lebih suka pada orang kaya yang taat beribadah

Allah suka pada orang tua yang taat beribadah namun Allah lebih suka pada orang muda yang taat beribadah.

Rosulullah S.A.W yang dijamin masuk Surga oleh Allah, diampuni dosa yang sebelum dan sesudahnya

Ber Istighfar ( Mohon Ampun ) dengan mengucap ASTAGHFIRULLAH HAL ADHIM 70x sehari.

Bagaimana dengan kita yang tiada jaminan dari Allah untuk masuk surga tapi yang pasti ada jaminam MATI

Setiap saat masih menunda pengucapan istighfar kita, malah supaya lebih keren lebih suka berkata ASTAGA

Dari pada Astagfirullah. ( Astaga bukanlah istighfar )

Harap saudaraku yang muslim tidak mengucapkan lagi ASTAGA melainkan Astaghfirullah.

Wahai yang menulis dan yang membaca !

Tidak pantaskah kalian mengucap Istighfar lebih dari yang dibaca Junjunganmu Muhammad S.A.W dalam sehari ?

Apakah tidak terdetak dihati kita untuk memulai membaca Istighfar dalam Dzikir harian kita ? Ya Allah Robbul Izzati bukakanlah hati kami.

2. LAAILAHA ILLALLAH

Dalam sebuah hadits disebutkan :

MANGKANA AKHIRUU KALAMIHI LAAILAHA ILLALLAH DAKHOLAL JANNAH

Barangsiapa yang diakhir hidupnya mengucap Laailaha Illallah maka akan dimasukkan syurga.

Sungguh besar makna ucapan tersebut sehingga bisa dibuat jaminan masuk Syurga. Namun jangan menganggap Ringan untuk bisa mengucapkan kata itu diakhir hidup kita karena disaat sakaratul maut kita akan merasakan rasa Sakit yang luar biasa kecuali bagi orang yang mendapat rahmat dari Allah ( Baca artikel Bila Ajal Mulai Mendekat ).

Untuk itu sering kita jumpai bila ada orang yang akan meninggal keluarganya akan menuntun ucapan kalimah Laailaha Illallah, Bahkan karena kekhawatiran bagi yang akan meninggal tidak bisa membaca sepanjang kalimah tersebut Maka hanya dituntun untuk mengucap Allah.

Kekhawatiran tersebut beralasan bila si Fulan ketika mengucapakan Laaila ( tidak sempat meneruskan ha Illallah )

Kemudian meninggal, maka Insya Allah si Fulan termasuk orang yang murtad karena Laaila artinya tidak ada tuhan.

Ya Allah matikanlah Kami dalam keadaan Khusnul Khotimah ( akhir hayat yang baik ).

Sementara Trend kita sering kali kita mengatakan Duilah ! , sampai ada yang mengucap Laaila ( karena Duilah terdengar Laaila ) Padahal bila lafadz Laaila diucapkan dengan sengaja maka yang mengucapkan insya Allah Murtad ( keluar dari Agama islam ) Naudzubillah.

Ada lagi yang lebih suka menyebut nama ALLAH dengan menyebut Tuhan ( padahal Tuhan itu banyak ) atau Dengan menyebut nama ” yang diatas ” padahal bila ditanya apa yang diatas jawabnya awan, mega, bintang .

Astaghfirullah, tidakkah kita lebih bangga mengucapkan Allah, Al Kholig, Arrohman, dari pada sebutan diatas ?

Ya Allah berilah kami kekuatan untuk mampu menunjukkan keislaman kami.

Dalam hadits yang lain disebutkan :

AFDLOLUDDZIKRI LAAILAHA ILLALLAH

Dzikir yang utama adalah mengucap Laailaha Illallah.

3. ALKHAMDULILLAH

Tidak satupun manusia di dunia ini yang bisa menghitung nikmat yang diberikan oleh Allah kepada hambaNya Meskipun seorang maha guru dari negara yang paling maju sekalipun.

Pernahkah kita memikirkan bahwa rasa Kantuk ( mengantuk ) itu adalah nikmat dari Allah, coba seandainya Bila manusia tidak mempunyai rasa mengantuk sebelum tidur mungkin dunia ini tak seindah yang kita rasakan Saat ini, bayangkan seandainya kita lagi mengendarai Mobil, menaiki anak tangga, menyeberang jalan dls tiba-tiba kita tertidur.

Bahkan ( maaf ) Kentut sekalipun adalah nikmat meski orang lain yang berada didekatnya terkena imbas bau yang Tidak sedap. terbiasakah kita mengucap Alkhamdulillah ketika orang lain mendapat nikmat ?, bagaimana bila teman Didekat kita mendapat nikmat berupa kentut ?.

Allah berfirman :

FAIN TA’UDDU NIKMATALLAHI LA TUKHSUUHA

Apabila kamu menghitung nikmat Allah maka tidak akan mampu bagimu.

Sebagai manusia yang berbudi tentu kita akan mengucapkan terima kasih bila seseorang telah memberi kita sesuatu Baik berupa barang maupun jasa terlebih pemberian itu tidak mengharap balasan dari kita lebih Afdhol lagi pemberian itu Dilakukan secara terus menerus tanpa perlu kita meminta atau mengingatkan lagi.

Demikianlah nikmat yang diberikan Allah kepada hambaNya, sekarang marilah kita bertanya pada diri sendiri apakah Kita termasuk manusia berbudi luhur.

Yang jelas Allah telah mengingatkan kita dengan Firmannya :

LAINSYAKARTUM LA AZIIDAN NAKUM WALAINKAFARTUM INNA ‘ADAABI LASYADID

Apabila kamu bersyukur atas nikmatKU maka akan kutambah nikmat itu padamu namun apabila kamu Ingkar terhadap nikmatKU sesungguhnya siksaKU amatlah pedih.

Banyak dari kita yang rela mengeluarkan uang untuk berlangganan koran, majalah sebagai bahan bacaan harian, Yang demikian itu tidaklah salah namun akan lebih baik bila kita punya bacaan harian yang berorientasi ke Akhirat Yaitu dengan membaca kalimah Toyyiba ( perkataan yang baik ) seperti Astaghfirullah, Laa ilaha Ilallah, Alkhamdulillah Dan bacaan lain yang anda sukai dengan jumlah tertentu dan dilakukan secara istiqomah ( berkesinambungan ).

Kita tidak bisa membaca koran sambil nonton TV, kita tak bisa menyapu lantai sambil membaca majalah namun Kita bisa membaca kalimat Toyyibah sambil mengerjakan sesuatu.

BISUL YANG ANEH

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh perubahan yang terjadi pada diriku. Aku lihat bisul-bisul kecil mulai bermunculan di badanku.

Dan tiap kali aku bertanya kepada teman-teman yang ada disekitarku mereka selalu menjawab “Nggak, aku tidak melihatnya.

Dimana sih ?? Aku jadi semakin bingung. Aku yang salah lihat atau mereka yang tidak melihatnya.

Bahkan ketika hari aku melihat bisul itu mulai mengeluarkan nanah. Tiap kali aku berjumpa dengan teman-temanku aku khawatir bau nanah yang busuk itu akan tercium oleh mereka, eh?.mereka malah tenang-tenang saja, seakan tidak melihatnya.

Kadangkala aku tanyakan kepada mereka dengan bergurau (tapi serius), “eh kamu bau nggak ?! “Mereka malah menjawab, “bau apa ?! Ah?..kamu belum mandi ya ?..?

Mereka tidak membaunya, mereka tidak melihatnya apakah bisul ini memang hanya mau dilihat olehku saja ?! Sekali waktu karena jengkelnya aku tarik lengan sahabatku dan aku bawa ke depan kaca di kamarku dan aku tunjukkan bisul yang sebesar jagung dipipi kiriku, dia malah tertawa mengatakan aku bergurau dan menghinanya karena dia banyak jerawat. Padahal demi Allah aku melihat bisul itu dengan jelas.

Aku ingin barang sekali saja ada orang yang bisa melihat bisul itu dan mengatakan “ya aku melihatnya dan aku mencium baunya yang busuk?..”supaya aku tahu bahwa bisul itu ada, bahwa aku tahu ini adalah penyakit yang memang terjadi pada diriku agar aku tahu bahwa aku harus berobat untuk menyembuhkannya. Tapi betapa sering aku ketemu orang dan sebegitu tidak juga mereka melihatku dengan cara yang aneh yang menunjukkan mereka mengetahui bisul yang ada dimukaku ini. Sekali waktu dalam perjalananku, aku pernah berpapasan dengan orang yang nampaknya tahu akan bisul itu, tapi kenapa dia tidak mau mengatakannya”Mungkin karena aku tidak cukup berani untuk menanyakan kepadanya apakah dia melihat bisulku.

… …

Akhirnya aku menyerah. Karena aku melihat setiap kali aku ribut dengan bisul-bisulku, semakin besar ia jadinya. Maka aku putuskan daripada orang-orang mengatakan aku gila, lebih baik aku nggak keluar kamar dulu. Memang betul … ..beberapa waktu aku tidak keluar kamar eh… .sedikit-sedikit bisul itu semakin mengecil.

Akhirnya, aku putuskan untuk bertemu dengan teman-teman di ta’lim dan mulailah obrolan yang mengasyikkan dengan mereka, tentang perkembangan ta?lim, tentang betapa perasaan kangen karena ketidak munculanku dan tentu saja berita terbaru dari sekelilingku.

Tiba-tiba aku merasakan bajuku menjadi sempit sementara lagi-lagi teman-temanku tenang-tenang saja, seakan mereka tidak melihat badanku yang menjadi gemuk dengan tiba-tiba. Dengan menahan kekalutan akan apa yang tiba-tiba terjadi, aku putuskan untuk pulang kembali ke rumah.

… ..

Senja itu ketika kudapati diriku termenung di depan jendala kamar sambil menikmati matahari terbenam, tiba-tiba kurasakan badanku kembali kecil dan rasanya aku tidak bisa bicara, lidahku kelu tak dapat lagi mengucapkan dzikir yang biasa kubaca sesudah sholat. Tapi bisul itu tak pernah hilang. Dan dia selalu membengkak ketika aku sedang kalut.

Dosa sebagai sesuatu yang samar pada beberapa orang karena tertutupnya kalbu membutuhkan mata yang lain untuk melihatnya. Dosa besar sebagai sesuatu yang nyata dan telah disebutkan dengan jelas nash-nya dalam al Qur?an mungkin sesuatu yang kita boleh jadi bisa langsung melihatnya. Tapi bagaimana dengan dosa2 kecil ?! kadangkala kita melakukannya tapi kita tidak menyadarinya. Ketika kita melihat dengan menggunakan mata yang lain kita dapati ia telah menjadi sebuah borok/bisul dalam diri kita.

Dan karena keterbatasan dan masih kurang percayanya kita dengan apa yang kita lihat (akal kita melakukan justifikasi bahwa itu kan sedikit, itu kan tidak apa-apa, itu kan nggak sengaja dan seterusnya) kita berusaha memastikan dengan menanyakan kepada orang-orang disekeliling kita, apa betul sih ada bisul/dosa2 kecil itu yang telah kita lakukan.

Justifikasi ini tidak akan pernah memuaskan mata yang lain yang melihatnya. Karena boleh jadi lingkungan mengatakan tidak-tidak apa-apa, nggak salah. Aku nggak melihat itu sebagai dosa. Tapi mata yang lain melihat bisul itu dengan jelas dan itu dipertegas dengan adanya cermin yang kita pakai untuk memastikannya. Justifikasi ini tentunya menunjukkan lingkungan dan teman yang bagaimana yang kita pilih untuk melakukan justifikasi tersebut.

Maka ketika kita melakukan isolasi diri/seklusi sebagai bentuk introspeksi/muhasabah maka kesempatan untuk mengurangi dosa2 kecil itu bisa kita lakukan dan dzikir (lisan/kalbu) yang kita lakukan dalam kesendirian itu bisa menghapus dosa-dosa keci tsb.

Ketika kita telah berinteraksi lagi dengan sekeliling kita sekalipun teman2 dimajelis taklim dosa2 kecil itu bisa saja muncul tanpa kita sadari. Ketika mereka mengatakan kangen nggak ketemu kita, dan kita merasa bangga tiba-tiba terbersit pikiran bahwa kita jadi orang penting nich. Dan itu mereka nggak tahu hanya mata yang lain yang mengetahuinya. Itulah mata hati kita dia melihat tubuh kita yang tiba2 menjadi besar dan dada kita terbusung.

Tapi justru ketika kita melihat senja dalam kesunyian dan tidak mampunya lidah kita mengeluarkan ungkapan dzikir menunjukkan adanya pengakuan hati (yang itu tidak membutuhkan gerakan lidah) kita justru menyadari (lahir batin) akan kebesaran Allah dan inilah yang mampu mengembalikan kita pada posisi kita sebagai manusia “yang tidak lebih hanya hamba sahaya saja.

SUARA YANG DIDENGAR MAYAT

Yang akan ikut mayat adalah tiga: keluarga, hartanya, dan amalnya.

Ada dua yang kembali dan satu tinggal bersamanya; keluarga dan hartanya akan kembali sementara amalnya akan tinggal bersamanya.

Ketika roh meninggalkan jasad… terdengar suara dari langit memekik,

“Wahai Polan anak si Polan !!! :

Apakah kau yang telah meninggalkan dunia, atau dunia yang meninggalkanmu?

Apakah kau yang telah menumpuk harta kekayaan, atau kekayaan yang telah menumpukmu ?

Apakah kau yang telah menumpuk dunia, atau dunia yang telah menumpukmu ?

Apakah kau yang telah mengubur dunia, atau dunia yang telah menguburmu?.”

Ketika mayat tergeletak akan dimandikan terdengar dari langit suara memekik,

“Wahai Polan anak si Polan !!! :

Mana badanmu yang dahulunya kuat, mengapa kini terkulai lemah ?

Mana lisanmu yang dahulunya fasih, mengapa kini bungkam tak bersuara ?

Mana telingamu yang dahulunya mendengar, mengapa kini tuli dari seribu bahasa ?

Mana sahabat-sahabatmu yang dahulunya setia, mengapa kini raib tak bersuara ?

Ketika mayat siap dikafan… suara dari langit terdengar memekik :

Wahai Polan anak si Polan berbahagialah apabila kau bersahabat dengan ridha Allah Celakalah apabila kau bersahabat dengan murka Allah….

Wahai Polan anak si Polan kini kau tengah berada dalam sebuah perjalanan nun jauh tanpa bekal kau telah keluar dari rumahmu dan tidak akan kembali selamanya kini kau tengah safar pada sebuah tujuan yang penuh pertanyaan.”

Ketika mayat diusung… . terdengar dari langit suara memekik

“Wahai Polan anak si Polan !!! :

Berbahagialah apabila amalmu adalah kebajikan

Berbahagialah apabila matimu diawali tobat

Berbahagialah apabila hidupmu penuh dengan taat.”

Ketika mayat siap dishalatkan terdengar dari langit suara memekik :

“Wahai Polan anak si Polan !!!:

Setiap pekerjaan yang kau lakukan kelak kau lihat hasilnya di akhirat

Apabila baik maka kau akan melihatnya baik

Apabila buruk, kau akan melihatnya buruk.”

Ketika mayat dibaringkan di liang lahat terdengar suara memekik dari langit,

“Wahai Polan anak si Polan apa yang telah kau siapkan dari rumahmu yang luas di dunia untuk kehidupan yang penuh gelap gulita di sini wahai Polan anak si Polan ……

Dahulu kau tertawa, kini dalam perutku kau menangis

Dahulu kau bergembira, kini dalam perutku kau berduka

Dahulu kau bertutur kata, kini dalam perutku kau bungkam seribu bahasa.”

Ketika semua manusia meninggalkannya sendirian… .

Allah berkata kepadanya, “Wahai hamba-Ku… .. kini kau tinggal seorang diri tiada teman dan tiada kerabat di sebuah tempat kecil, sempit dan gelap.. mereka pergi meninggalkanmu seorang diri padahal, karena mereka kau pernah langgar perintahku hari ini,… . akan kutunjukan kepadamu kasih sayang-Ku yang akan takjub seisi alam aku akan menyayangimu lebih dari kasih sayang seorang ibu pada anaknya.

Kepada jiwa-jiwa yang tenang Allah berfirman, “Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam jannah-Ku

PENCERAHAN

Hadis riwayat Abu Hurairah ra. ia berkata,Rasulullah S.A.W . bersabda, Janganlah kamu berpuasa satu atau dua hari menjelang Ramadan, kecuali bagi orang-orang yang memang biasa berpuasa. Maka baginya diperbolehkan.

Hadis riwayat Ummi Salamah ra. ia berkata, Rasulullah S.A.W . pernah bersumpah tidak akan menemui sebagian istri-istrinya selama sebulan. Namun baru dua puluh sembilan hari berlalu, beliau sudah menemui mereka. Kemudian beliau ditanya, Wahai Nabi! Engkau sudah bersumpah tidak akan menemui kami selama satu bulan. Mendengar itu Nabi S.A.W . bersabda, Sesungguhnya sebulan itu ada dua puluh sembilan hari.

Hadis riwayat Sahl bin Saad ra. ia berkata, Rasulullah S.A.W . bersabda, Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat pintu yang bernama Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk lewat pintu itu pada hari kiamat kelak.

Tidak boleh masuk seorangpun selain mereka. Kelak akan ada pengumuman, Di manakah tempat orang-orang yang berpuasa ? Mereka berduyun-duyun masuk lewat pintu tersebut. Ketika orang yang terakhir sudah masuk, maka pintu tadi ditutup kembali.

Sehingga dengan begitu tidak akan ada lagi orang yang masuk lewat pintu tadi

Hadis riwayat Ibnu Umar ra. bahwa, Ada sekelompok orang dari sahabat Rasulullah S.A.W . bermimpi melihat Lailatulkadar pada hari ke tujuh yang terakhir. Ketika dilaporkan kepada Rasulullah S.A.W , beliau bersabda, Menurut saya mimpi kalian pasti bertepatan dengan hari ke tujuh terakhir.

Oleh karena itu barangsiapa yang ingin mencarinya, hendaklah dia cari pada hari ke tujuh yang terakhir tersebut.

Hadis riwayat Abu Said Al Khudri ra. ia berkata, Rasulullah S.A.W . pernah melakukan iktikaf (berdiam di dalam mesjid) selama sepuluh hari pertengahan bulan Ramadan.

Manakala selama waktu dua puluh malam telah berlalu dan memasuki hari atau malam yang kedua puluh satu, beliau pulang ke rumahnya. Para sahabat yang beriktikaf bersama beliau juga ikut pulang. Setelah menyuruh atau mengajak mereka untuk selalu tabah terhadap kehendak Allah, beliau bersabda, Sesungguhnya aku telah melakukan iktikaf pada sepuluh hari dan aku lanjutkan pada sepuluh hari berikutnya. Oleh sebab itu barangsiapa yang ingin melanjutkan iktikaf bersamaku, maka sebaiknya dia tetap tinggal di tempat iktikafnya. Sebetulnya aku telah bermimpi melihat Lailatulkadar, namun aku lupa kapan waktunya.

Maka carilah ia pada sepuluh hari yang terakhir, yaitu pada tiap bilangan ganjil. Pada waktu itulah aku yakin bahwa aku sedang sujud pada air dan lumpur. Abu Said Al Khudri ra. mengatakan, Kami tersiram air hujan pada malam hari yang kedua puluh satu. Begitu pula dengan tempat salat Rasulullah S.A.W . Juga terkena tetesan air hujan dari celah-celah atap mesjid.

Kemudian setelah beliau mengerjakan salat Subuh, aku pandang wajah beliau basah terkena lumpur dan air.

Hadis riwayat Aisyah ra. ia berkata, Rasulullah S.A.W . bersabda, Carilah Lailatulkadar itu pada sepuluh hari yang terakir di bulan Ramadan.

Hadis riwayat Anas bin Malik ra. ia berkata, Rasulullah S.A.W . bersabda, Aku didatangi Buraq, lalu aku menunggangnya sampai ke Baitulmakdis. Aku mengikatnya di pintu mesjid yang biasa digunakan mengikat tunggangan oleh para nabi. Kemudian aku masuk ke mesjid dan mengerjakan salat dua rakaat. Setelah aku keluar, Jibril as. datang membawa bejana berisi arak dan bejana berisi susu. Aku memilih susu, Jibril berkata, Engkau telah memilih fitrah (Islam dan istiqamah). Kemudian Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril minta dibukakan, ada yang bertanya, Siapakah engkau ? Dijawab, Jibril. Ditanya lagi, Siapa yang bersamamu ? Jibril menjawab, Muhammad. Ditanya, Apakah dia telah diutus ? Jawab Jibril, Ya, dia telah diutus, pintupun dibukakan bagi kami. Aku bertemu dengan Adam. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua.

Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya, Siapakah engkau ? Jawab Jibril, Jibril. Ditanya lagi, Siapakah yang bersamamu ? Jawabnya, Muhammad. Ditanya, Apakah dia telah diutus ? Jawabnya, Dia telah diutus, pintupun dibuka untuk kami. Aku bertemu dengan Isa bin Maryam as. dan Yahya bin Zakaria as. Mereka berdua menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya, Siapa engkau ? Dijawab, Jibril. Ditanya lagi, Siapa bersamamu ? Muhammad S.A.W . jawabnya. Ditanyakan, Dia telah diutus ? Dia telah diutus, jawab Jibril. Pintu dibuka untuk kami. Aku bertemu Yusuf as. Sungguh nampak bahwa dia dikaruniai keindahan. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keempat.

Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya, Siapa ini ? Jibril menjawab, Jibril. Ditanya lagi, Siapa bersamamu ? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya, Apakah dia telah diutus ? Jibril menjawab, Dia telah diutus, pintupun dibukakan. Ternyata di sana ada Nabi Idris as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah Taala berfirman (Kami mengangkatnya pada tempat “martabat” yang tinggi). Aku dibawa naik ke langit kelima. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya, Siapa ? Dijawab, Jibril. Ditanya lagi, Siapa bersamamu ? Dijawab, Muhammad. Ditanya, Apakah dia telah diutus ? Dijawab, Dia telah diutus, pintupun dibukakan buat kami. Di sana aku bertemu Nabi Harun as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keenam. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya, Siapa ini ? Jawabnya, Jibril. Ditanya lagi, Siapa bersamamu ? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya, Apakah dia telah diutus ? Jawabnya, Dia telah diutus. Kami dipersilahkan masuk. Di sana ada Nabi Musa as. Dia menyambut dan mendoakanku dengan kebaikan. Jibril membawaku naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan. Lalu ada yang bertanya, Siapa ini ? Jawabnya, Jibril. Ditanya lagi, Siapa bersamamu ? Jawabnya, Muhammad. Ditanyakan, Apakah dia telah diutus ? Jawabnya, Dia telah diutus, kamipun dipersilahkan masuk. Ternyata di sana aku bertemu Nabi Ibrahim as. sedang menyandarkan punggungnya pada Baitulmakmur. Ternyata setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitulmakmur dan tidak kembali lagi ke sana. Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratulmuntaha yang dedaunannya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika atas perintah Allah, Sidratulmuntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka suasana menjadi berubah, sehingga tak seorangpun di antara makhluk Allah mampu melukiskan keindahannya. Kemudian Allah memberikan wahyu kepadaku. Aku diwajibkan salat lima puluh kali dalam sehari semalam. Tatkala turun dan bertemu Nabi Musa as, dia bertanya, Apa yang telah diwajibkan Tuhanmu kepada umatmu ? Aku menjawab, Salat lima puluh kali. Dia berkata, Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan kuat melaksanakannya. Aku telah pernah mencobanya pada Bani Israel. Akupun kembali kepada Tuhanku dan berkata, Wahai Tuhanku, berilah keringanan atas umatku. Allah memotong lima salat dan aku kembali kepada Nabi Musa as. dan aku katakan, Allah telah mengurangi lima waktu salat. Dia berkata, Umatmu masih tidak sanggup melaksanakan itu, kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi.

Tak henti-hentinya aku bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa as. sampai Allah berfirman, Hai Muhammad. Inilah kewajiban lima salat sehari semalam, setiap salat mempunyai nilai sepuluh, dengan demikian, lima salat sama dengan lima puluh salat. Siapa yang berniat untuk kebaikan, tetapi tidak melaksanakannya, maka baginya dicatat satu kebaikan, jika dia

melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan. Sebaliknya siapa yang berniat jahat, tetapi tidak melaksanakannya, maka

tidak dicatat apa-apa, jika dia mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa as, lalu aku beritahukan padanya. Dia masih saja berkata, kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Aku

menyahut, Aku telah bolak-balik kepada Tuhan, hingga aku merasa malu kepada-Nya Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 234

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., Dari Rasulullah S.A.W . tentang apa yang diriwayatkan oleh beliau dari Allah Taala bahwa, Allah berfirman, Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan dan kejelekan.

Kemudian Beliau (Rasulullah) menerangkan, Siapa saja yang berniat melakukan kebaikan, tetapi tidak jadi mengerjakannya, maka Allah mencatat niat itu sebagai kebaikan yang sempurna. Jika dia meniatkan perbuatan baik dan mengerjakannya, maka Allah mencatat sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat hingga kelipatan yang sangat banyak. Kalau dia berniat melakukan perbuatan jelek tetapi tidak jadi melakukannya, maka Allah mencatat hal itu sebagai satu kebaikan yang sempurna. Jika dia meniatkan perbuatan jelek itu, lalu melaksanakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kejelekan

GHIBAH DAN PUASA

Dari ‘Ubaid r.a, dia berkata : “Di masa Rasulullah S.A.W , beliau memerintahkan orang-orang berpuasa selama satu hari. Lalu mereka pun berpuasa. Saat itu ada dua orang wanita berpuasa, dan mereka sangat menderita karena lapar dan dahaga pada sore harinya. Kemudian kedua wanita itu mengutus seseorang menghadap Rasulullah S.A.W , untuk memintakan izin bagi keduanya agar diperbolehkan menghentikan puasa mereka.

Sesampainya utusan tsb kepada Rasulullah S.A.W , beliau memberikan sebuah mangkuk kepadanya untuk diberikan kepada kedua wanita tadi, seraya memerintahkan agar kedua-duanya memuntahkan isi perutnya ke dalam mangkuk itu. Ternyata kedua wanita tsb memuntahkan darah dan daging segar, sepenuh mangkuk tersebut, sehingga membuat orang-orang yang menyaksikannya terheran-heran. Dan Rasulullah S.A.W bersabda : “Kedua wanita ini berpuasa terhadap makanan yang dihalalkan Allah tetapi membatalkan puasanya itu dengan perbuatan yang diharamkan oleh-Nya. Mereka duduk bersantai sambil menggunjingkan orang-orang lain. Maka itulah ‘daging-daging’ mereka yang dipergunjingkan.” (Hadits Riwayat Ahmad)

“Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan , keduanya bersekutu dalam perbuatan dosa.” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)

“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita dusta dan banyak memakan yang haram.” (Al-Qur’an Surat Al-Maidah : 42)

Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. ” (Al-Qur’an Surat Al-Hujuraat:12)

SUDAHKAH KITA MENJAGA PUASA KITA?

Rasulullah S.A.W bersabda : “Puasa adalah perisai (tabir penghalang dari perbuatan dosa). Maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan sesuatu yang keji dan janganlah ia berbuat jahil.” (Hadits Riwayat Bukhari – Muslim)

“Lima hal yang dapat membatalkan puasa: berkata dusta, ghibah (menggunjing), memfitnah, sumpah dusta dan memandang dengan syahwat.” (Hadits Riwayat Al-Azdiy)

“Barangsiapa yang tidak dapat meninggalkan perkataan kotor dan dusta selama berpuasa, maka Allah SWT tidak berhajat kepada puasanya.” (Hadits Riwayat

Bukhari)

“Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan, keduanya bersekutu dalam perbuatan dosa.” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)

“Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali haus dan lapar.” (Hadits Riwayat Turmudzi)

Imam Al-Ghazali berkata : “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya itu, selain lapar dan haus. Sebab puasa itu bukanlah semata-mata menahan lapar dan haus, akan tetapi adalah menahan hawa nafsu. Boleh jadi orang tersebut berdusta, menggunjing dan memandang dengan syahwat, sehingga yang demikian itu membatalkan hakikat puasa.” (Ihya’ Ulumiddin)

Para Ulama berkata: “Betapa banyak orang yang berpuasa padahal ia berbuka (tidak berpuasa) dan betapa banyak orang yang berbuka padahal ia berpuasa.” Yang dimaksud dengan orang yang berbuka tetapi berpuasa ialah menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan dosa sementara ia tetap makan dan minum. Sedangkan yang dimaksud dengan berpuasa tapi berbuka ialah yang melaparkan perutnya sementara ia melepaskan kendali bagi anggota tubuh yang lain.” (Ihya’ Ulumiddin)

Rasulullah S.A.W bersabda : “Sesungguhnya puasa itu adalah amanah, maka hendaknya masing-masing kamu menjaga amanahnya.” (Hadits Riwayat Al-Kharaithy)

Sudahkah kita menjaga puasa kita?

HUKUM GHIBAH

Apakah ghibah itu ? yaitu mengucapkan perkataan (atau dengan gerak badan, mata, tulisan dsbnya) sesuatu yang tidak disukai pada diri orang lain. Termasuk yang tidak disenangi itu ada pada badannya, tingkah laku, agamanya dan sebagainya.

Menurut al-Ghazali, definisi ini adalah yang telah diijma’kan oleh kaum muslimin (tiada seorangpun menolak). Maksudnya, mereka bersepakat mengatakan bahwa inilah definasi ghibah.

Ghibah, dalam bahasa indonesia lebih dikenal dengan kata mengumpat. Yaitu menceritakan keburukkan orang lain di belakangnya.

Hukum Ghibah

Umat Islam seluruhnya juga telah ijma’ mengatakan bahwa hukum ghibah adalah haram. Sebagian dalilnya ada termaktub pada ayat al-Quran dan hadis. Rasulullah s.a.w. bersabda : orang yang mengutuk orang Islam yang lain adalah fasik ( melakukan maksiat )

Dan siksaannya amat berat sekali, karena ia adalah termasuk diantara dosa-dosa besar. Dalam sebuah hadis diceritakan Ada 2 orang yang akan menerima siksa di alam kubur yaitu:

1. Orang yang suka menyampaikan aib orang lain

2. Orang yang tidak bersuci ( sucinya tidak sempurna ) sehabis buang air kecil ( kencing ).

Namimah

Adalah mengadu domba yaitu menyampaikan perkataan orang lain kepada yang lainnya dengan maksud kedua belah pihak berkelahi.

Jadi, apabila hukum ghibah dan namimah itu haram, maka menasehati orang yang melakukan ghibah adalah wajib.

Dalam menghadapi kemungkaran ada 3 hal yang harus kita lakukan menurut aturan agama kita, yaitu :

1. Hentikan dengan kekuasaan bila kita punya kuasa.

2. Cegah dengan perkataan

3. Tolak dengan hati

Namun sesungguhnya bila kita hanya mampu melakukan yang no 3 adalah termasuk orang yang lemah imannya.

Ghibah yang diperbolehkan

Hukum ghibah adalah haram. Ini adalah hukum asal. Atas alasan-alasan syarak ghibah diperbolehkan. Apakah alasan syarak itu. yaitu ingin mencapai satu tujuan yang benar menurut pertimbangan syarak, di mana jika tidak melalui cara itu tujuan itu tak mungkin akan tercapai. Walaupun demikian, jika ada cara lain yang lebih baik sebaiknya ghibah ditinggalkan.

Dalam masalah yang anda hadapi, saudara ingin membela diri. maka dibenarkan jika:

a) atas tujuan yang dibenarkan oleh syarak

b) Jika tiada jalan lain melainkan dengan membuka aib orang lain.

Contohnya, saudara telah dituduh mencuri, sedangkan saudara tahu siapa yang mencuri. Saudara terpaksa mempertahankan diri dengan berkata benar. Ini biasa berlaku di pengadilan.

Pengadilan terpaksa membuka aib mereka yang terlibat untuk tujuan yang dibenarkan oleh syarak, yaitu membuktikan benar atau salahnya orang yang dituduh.

Di bawah ini ada lima perkara yang diperbolehkan ghibah.

1. Ingin mengadu kepada hakim, polisi, tokoh masyarakat dsbnya karena teraniaya.

Kita terpaksa membuka kedzaliman yang telah dilakukan pada diri kita dengan membuka aib Pelaku sehingga keadilan bisa ditegakkan.

2. Ingin mencegah kemungkaran dan kemaksiatan yang akan terjadi.

Keburukan si pelaku maksiat boleh diceritakan dengan harapan dapat menghindarkan orang lain Ikut melakukan kemaksiatan.

3. Meminta fatwa / nasehat dari Ulama.

Seorang istri bisa menceritakan perlakuan jelek suaminya karena sering memukul, tidak diberi nafkah dengan harapan mendapat nasehat dari ulama

4. Mencela orang yang secara terang-terangan melakukan kefasikkan, dan kezaliman.

Contoh: seorang yang secara terang-terangan meminum arak, berjudi, melaksanakan maksiat. Yang dibenarkan hanyalah menyebutkan kemaksiatan yang dilakukan secara terang-terangan itu saja. Dan diharamkan menyebutkan aib-aib lain.

5. Untuk mengenalkan seseorang.

Jika seseorang itu memang dikenal dengan julukan si pincang, si buta dan sebagainya, boleh menyebutkan julukan itu dengan niat mengenalkan. Haram jika dengan niat mencemooh, namum demikian selagi dapat mengenalkan dengan tidak menyebut julukan maka kenalkan dengan cara tersebut.

Firman Allah Taala:

“Allah tidak suka kepada perkataan yang tidak baik diperdengarkan, kecuali dari orang-orang yang teraniaya… ” (al-Nisaa’, ayat 148)

Hadis: “Aisyah r.a. berkata: Seseorang datang minta izin kepada nabi s.a.w. (masuk ke rumah). Lalu nabi s.a.w. bersabda: Izinkanlah. Dia adalah sejahat-jahat orang di kalangan kaumnya.” (riwayat Bukhari & Muslim)

Hadis: “Aisyah r.a. berkata: Hindun binti Uthbah (isteri Abu Sufian) berkata kepada nabi s.a.w.: Sesungguhnya Abu Sufian seorang yang pelit dan tidak memberi belanja yang cukup kepada ku dan anak-anakku, kecuali kalau saya ambil di luar pengetahuannya.

Nabi s.a.w. menjawab: Ambillah secukupmu dan anak-anakmu dengan sederhana.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

Hadis: “Fatimah binti Qais berkata: Saya datang kepada Nabi s.a.w. bertanya tentang dua orang yang meminang saya,yaitu Abu Jahm dan Muawiyah. Maka Nabi s.a.w. bersabda: Adapun Muawiyah, dia adalah seorang yang miskin, dan Abu Jahm, dia adalah seorang yang suka memukul isteri.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

Hadis di atas menunjukkan bahwa Nabi s.a.w. telah menceritakan keburukan orang lain untuk mencapai tujuan yang dibenarkan oleh syarak. Dan tiada pilihan lain melainkan memberitahu aib orang tersebut.

JIBRIL BERDOA MUHAMMAD MENG-AMINKAN

Kisah ini terjadi pada diri Rasulallah dan para sahabatnya. Saat itu malam hari raya Iedul Fitri seperti biasanya Rasul dan para sahabat membaca Takbir,Tahmid dan Tahlil di Masjidil Haram.

Saat sedang bertakbir, tiba- tiba rasulallah keluar dari kelompok dan menepih kearah dinding. Kemudian Rasullah mengangkat kedua tangannya ( layaknya orang berdoa ) saat itu Rasul mengatakan amin sampai tiga kali.

Setelah Rasul mengusapkan kedua tangan diwajahnya ( layaknya orang selesai berdoa ) para sahabat mendekat dan bertanya : Ya Rasul apa yang terjadi sehingga engkau mengangkat kedua belah tanganmu sambil mengatakan amien sampai tiga kali ?

Jawab Rasul : Tadi saya didatangi Jibril dan meminta saya mengaminkan doanya.?

Apa gerangan doa yang dibacakan Jibril itu ya Rasul ? tanya sahabat kemudian Rasul menjawab : Kalau kalian ingin tahu inilah doa yang disampaikan Jibril dan saya mengaminkan? :

1. Ya Allah ya Tuhan kami Janganlah diterima amal Ibadah kaum Muslimin selama bulan Ramadhan apabila dia masih bersalah kepada orang tuanya dan belum dimaafkan?. Rasul mengatakan Amien

2. Ya Allah ya Tuhan kami Janganlah diterima amal ibadah kaum muslimin selama bulan Ramadhan apabila suami isteri masih berselisih dan belum saling memaafkan.? Rasul mengatakan amien

3. Ya Allah ya Tuhan kami janganlah diterima amal Ibadah kaum Muslimin selama bulan Ramadhan apabila dia dengan tetangga dan kerabatnya masih berselisih dan belum saling Memaafkan.? Rasul mengatakan amien

Demikianlah doa yang dibaca Jibril sehingga Rasul mengaminkan sampai tiga kali. Namun disini ada 4 Faktor yang membuat doa tersebut pasti dikabulkan Allah yaitu:

1. Yang berdoa Jibril Mahluk yang sejak diciptakan tidak pernah membantah dan berbuat dosa kepada Allah

2. Yang mengaminkan doa tersebut Muhammad manusia Ma?sum yang telah diampuni semua dosanya

3. Tempat berdoa adalah Masjidilharam tempat yang mendapat berkah dari Allah

4. Waktu berdoa adalah malam iedul fitri yaitu satu diantara sepuluh malam jika kita berdoa langsung di ijabah oleh Allah.

Jadi jika kita ingin Amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini diterima Allah maka hindarilah tiga yang diatas. Karena selama tiga persoalan diatas belum diselesaikan maka amal ibadah kita selama bulan ramadhan masih dipending oleh Allah sampai kita menyelesaikannya.

Dikisahkan oleh Buhari Muslim dari Huzaifah dan Anas r.a

Rasulullah S.A.W bersabda maksudnya: “Siapa yang menjurusi satu jalan untuk mencari ilmu nescaya Allah akan mempermudahkan padanya jalan ke syurga.” (Sahih Muslim)

DAPAT PAHALA HAJI MABRUR, TAPI TIDAK HAJI

Sa’id Ibnu Muhafah, Tukang Sol sepatu yang mendapatkan pahala haji mabrur, padahal ia tidak haji, suatu ketika Hasan Al-Basyri menunaikan ibadah haji. Ketika beliau sedang istirahat, beliau bermimpi. Dalam mimpinya beliau melihat dua Malaikat sedang membicarakan sesuatu.

“Rasannya orang yang menunaikan haji tahun ini, banyak sekali” Komentar salah satu Malaikat

“Betul” Jawab yang lainya.

“Berapa kira – kira jumlah keseluruhan?”

“Tujuh ratus ribu”

“Pantas”

“Eh, kamu tahu nggak, dari jumlah tersebut berapa kira – kira yang mabrur”,

Selidik Malaikat yang mengetahui jumlah orang – orang haji tahun itu

“Wah, itu sih urusan Allah”

“Dari jumlah itu, tak satupun yang mendapatkan haji Mabrur”

“Kenapa?”

“Macam – macam, ada yang karena riyak, ada yang tetangganya lebih memerlukan uang tapi tidak dibantu dan dia malah haji, ada yang hajinya sudah berkali kali, sementara masih banyak orang yang tidak mampu, dan berbagai sebab lainnya’

“Terus?”

“Tapi Masih ada, orang yang mendapatkan Pahala haji mabrur tahun ini”

“Lho katannya tidak ada”

“Ya, karena orangnya tidak naik haji”

“Kok bisa”

“Begitulah”

“Siapa orang tersebut?”

“Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq”

Mendengar ucapan itu, Hasan Al-Basyri langsung terbangun. Sepulang dari Makkah, ia tidak langsung ke Mesir, Tapi langsung menuju kota Damsyiq (Siria). Sesampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.

“Ada, ditepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana Hasan Al-Basyri menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,

“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Hasan Al-Basyri

“Betul, kenapa?”

Sejenak Hasan Al-Basyri kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya. “Sekarang saya tanya, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, barang kali mimpi itu benar” selidik Hasan Al-Basyri sambil mengakhiri ceritanya.

“Saya sendiri tidak tahu, yang pasti sejak puluhan tahun yang lalu saya memang sangat rindu Makkah, untuk menunaikan ibadah haji. Mulai saat itu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Dan pada tahun ini biaya itu sebenarnya telah terkumpul”

“Tapi anda tidak berangkat haji”

“Benar”

“Kenapa?”

“Waktu saya hendak berangkat ternyata istri saya hamil, dan saat itu dia ngidam berat”

“Terus?”

“Ngidamnya aneh, saya disuruh membelikan daging yang dia cium, saya cari sumber daging itu, ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh, disitu ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin daging yang ia masak, meskipun secuil. Ia bilang tidak boleh, hingga saya bilang bahwa dijual berapapun akan saya beli, dia tetap mengelak.

Akhirnya saya tanya kenapa?.. “daging ini halal intuk kami dan haram untuk tuan” katanya

“Kenapa?” tanyaku lagi ,

“Karena daging ini adalah bangkai keledai, bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakanya tentulah kami akan mati kelaparan,”

Jawabnya sambil menahan air mata.

Mendengar ucapan tersebut sepontan saya menangis, lalu saya pulang, saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, akhirnya uang bekal hajiku kuberikan semuanya untuk dia”

Mendengar cerita tersebut Hasan Al-Basyripun tak bisa menahan air mata.”Kalau begitu engkau memang patut mendapatkanya” Ucapnya.

Kisah ini diceritakan oleh Imam dan Khotib Masjid Rohmah, Cairo Egypt Shahih tidaknya tidak disebutkan. Meski demikian kisah ini perlu menjadi renungan.

KISAH BERPISAHNYA ROH DARI JASAD

Dalam sebuah hadith daripada Aisyah r.a katanya, “Aku sedang duduk bersila di dalam rumah. Tiba-tiba Rasulullah S.A.W datang dan masuk sambil memberi salam kepadaku. Aku segera bangun kerana menghormati dan memuliakannya sebagaimana kebiasaanku di waktu baginda masuk ke dalam rumah. Nabi S.A.W bersabda, “Duduklah di tempat duduk, tidak usahlah berdiri, wahai Ummul Mukminin.” Maka Rasulullah S.A.W duduk sambil meletakkan kepalanya di pangkuanku, lalu baginda berbaring dan tertidur.

Maka aku hilangkan uban pada janggutnya, dan aku dapat 19 rambut yang sudah putih. Maka terfikirlah dalam hatiku dan aku berkata, “Sesungguhnya baginda akan meninggalkan dunia ini sebelum aku sehingga tetaplah satu umat yang ditinggalkan olehnya nabinya.” Maka aku menangis sehingga mengalir air mataku jatuh menitis pada wajah baginda.

Baginda terbangun dari tidurnya seraya bertanya, “Apakah sebabnya sehingga engkau menangis wahai Ummul Mukminin?” Masa aku ceritakan kisah tadi kepadanya, lalu Rasulullah S.A.W bertanya, “Keadaan bagaimanakah yang hebat bagi mayat?” Kataku, “Tunjukkan wahai Rasulullah!”

Rasulullah S.A.W berkata, “Engkaulah katakan!,” Jawab Aisyah r.a : “Tidak ada keadaan lebih hebat bagi mayat ketika keluarnya mayat dari rumahnya di mana anak-anaknya sama-sama bersedih hati di belakangnya. Mereka sama-sama berkata, “Aduhai ayah, aduhai ibu! Ayahnya pula mengatakan: “Aduhai anak!”

Rasulullah S.A.W bertanya lagi: “Itu juga termasuk hebat. Maka, manakah lagi yang lebih hebat daripada itu?” Jawab Aisyah r.a : “Tidak ada hal yang lebih hebat daripada mayat ketika ia diletakkan ke dalam liang lahad dan ditimbuni tanah ke atasnya. Kaum kerabat semuanya kembali. Begitu pula dengan anak-anak dan para kekasihnya semuanya kembali, mereka menyerahkan kepada Allah berserta dengan segala amal perbuatannya.” Rasulullah S.A.W bertanya lagi, “Adakah lagi yang lebih hebat daripada itu?” Jawab Aisyah, “Hanya Allah dan Rasul-Nya sahaja yang lebih tahu.”

Maka bersabda Rasulullah S.A.W : “Wahai Aisyah, sesungguhnya sehebat-hebat keadaan mayat ialah ketika orang yang memandikan masuk ke rumahnya untuk emmandikannya. Maka keluarlah cincin di masa remaja dari jari-jarinya dan ia melepaskan pakaian pengantin dari badannya. Bagi para pemimpin dan fuqaha, sama melepaskan serban dari kepalanya untuk dimandikan.

Di kala itu rohnya memanggil, ketika ia melihat mayat dalam keadaan telanjang dengan suara yang seluruh makhluk mendengar kecuali jin dan manusia yang tidak mendengar. Maka berkata roh, “Wahai orang yang memandikan, aku minta kepadamu kerana Allah, lepaskanlah pakaianku dengan perlahan-lahan sebab di saat ini aku berehat dari kesakitan sakaratul maut.” Dan apabila air disiram maka akan berkata mayat, “Wahai orang yang memandikan akan roh Allah, janganlah engkau menyiram air dalam keadaan yang panas dan janganlah pula dalam keadaan sejuk kerana tubuhku terbakar dari sebab lepasnya roh,” Dan jika merea memandikan, maka berkata roh: “Demi Allah, wahai orang yang memandikan, janganlah engkau gosok tubuhku dengan kuat sebab tubuhku luka-luka dengan keluarnya roh.”

Apabila telah selesai dari dimandikan dan diletakkan pada kafan serta tempat kedua telapaknya sudah diikat, maka mayat memanggil, “Wahai orang yang memandikanku, janganlah engkau kuat-kuatkan dalam mengafani kepalaku sehingga aku dapat melihat wajah anak-anakku dan kaum keluargaku sebab ini adalah penglihatan terakhirku pada mereka. Adapun pada hari ini aku dipisahkan dari mereka dan aku tidakakan dapat berjumpa lagi sehingga hari kiamat.”

Apabila mayat dikeluarkan dari rumah, maka mayat akan menyeru, “Demi Allah, wahai jemaahku, aku telah meninggalkan isteriku menjadi janda, maka janganlah kamu menyakitinya. Anak-anakku telah menjadi yatim, janganlah menyakiti mereka. Sesungguhnya pada hari ini aku akan dikeluarkan dari rumahku dan meninggalkan segala yang kucintai dan aku tidak lagi akan kembali untuk selama-lamanya.”

Apabila mayat diletakkan ke dalam keranda, maka berkata lagi mayat, “Demi Allah, wahai jemaahku, janganlah kamu percepatkan aku sehingga aku mendengar suara ahliku, anak-anakku dan kaum keluargaku. Sesungguhnya hari ini ialah hari perpisahanku dengan mereka sehingga hari kiamat.”

BALASAN MENINGGALKAN SOLAT

Diriwayatkan bahawa pada suatu hari Rasulullah S.A.W sedang duduk bersama para sahabat, kemudian datang pemuda Arab masuk ke dalam masjid dengan menangis.

Apabila Rasulullah S..A.W melihat pemuda itu menangis maka baginda pun berkata, “Wahai orang muda kenapa kamu menangis?”

Maka berkata orang muda itu, “Ya Rasulullah S.A.W, ayah saya telah meninggal dunia dan tidak ada kain kafan dan tidak ada orang yang hendak memandikannya.”

Lalu Rasulullah S.A.W memerintahkan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. ikut orang muda itu untuk melihat masalahnya. Setelah mengikut orang itu, maka Abu Bakar r.a dan Umar r.a. mendapati ayah orang mudah itu telah bertukar rupa menjadi babi hitam, maka mereka pun kembali dan memberitahu kepada Rasulullah S.A.W, “Ya Rasulullah S.A.W, kami lihat mayat ayah orang ini bertukar menjadi babi hutan yang hitam.”

Kemudian Rasulullah S.A.W dan para sahabat pun pergi ke rumah orang muda dan baginda pun berdoa kepada Allah S.W.T, kemudian mayat itu pun bertukar kepada bentuk manusia semula. Lalu Rasulullah S.A.W dan para sahabat menyembahyangkan mayat tersebut.

Apabila mayat itu hendak dikebumikan, maka sekali lagi mayat itu berubah menjadi seperti babi hutan yang hitam, maka Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada pemuda itu, “Wahai orang muda, apakah yang telah dilakukan oleh ayahmu sewaktu dia di dunia dulu?”

Berkata orang muda itu, “Sebenarnya ayahku ini tidak mahu mengerjakan solat.” Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda, “Wahai para sahabatku, lihatlah keadaan orang yang meninggalkan sholat. Di hari kiamat nanti akan dibangkitkan oleh Allah S.W.T seperti babi hutan yang hitam.”

Di zaman Abu Bakar r.a ada seorang lelaki yang meninggal dunia dan sewaktu mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak. Apabila mereka membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular sedang membelit leher mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap darah mayat. Lalu mereka cuba membunuh ular itu.

Apabila mereka cuba untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, “Laa ilaaha illallahu Muhammadu Rasulullah, menagapakah kamu semua hendak membunuh aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang memerintahkan kepadaku supaya menyeksanya sehingga sampai hari kiamat.”

Lalu para sahabat bertanya, “Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh mayat ini?”

Berkata ular, “Dia telah melakukan tiga kesalahan, di antaranya :”

1. Apabila dia mendengar azan, dia tidak mahu datang untuk sholat berjamaah.

2. Dia tidak mau keluarkan zakat hartanya.

3. Dia tidak mau mendengar nasihat para ulama.

Maka inilah balasannya.

12 AZAB BAGI MEREKA YANG MENINGGALKAN SHOLAT

Dalam sebuah hadis menerangkan bahawa Rasulullah S.A.W telah bersabda : “Barang siapa yang mengabaikan solat secara berjemaah maka Allah S.W.T akan mengenakan 12 tindakan yang merbahaya ke atasnya. Tiga darinya akan dirasainya semasa di dunia ini antaranya :-

1) Allah S.W.T akan menghilangkan berkat dari usahanya dan begitu juga terhadap rezekinya.

2) Allah S.W.T mencabut nur orang-orang mukmin daripadanya.

3) Dia akan dibenci oleh orang-orang yang beriman.

Tiga macam bahaya adalah ketika dia hendak mati, antaranya :

4) Ruh dicabut ketika dia di dalam keadaan yang sangat haus walaupun ia telah meminum seluruh air laut.

5) Dia akan merasa yang amat pedih ketika ruh dicabut keluar.

6) Dia akan dirisaukan akan hilang imannya.

Tiga macam bahaya yang akan dihadapinya ketika berada di dalam kubur, antaranya :-

7) Dia akan merasa susah terhadap pertanyaan malaikat mungkar dan nakir yang sangat menggerunkan.

8) Kuburnya akan menjadi cukup gelap.

9) Kuburnya akan menghimpit sehingga semua tulang rusuknya berkumpul (seperti jari bertemu jari).

Tiga lagi azab nanti di hari kiamat, antaranya :

10) Hisab ke atsanya menjadi sangat berat.

11) Allah S.W.T sangat murka kepadanya.

12) Allah S.W.T akan menyiksanya dengan api neraka.

10 JENIS SOLAT YANG TIDAK DITERIMA OLEH ALLAH S.W.T

Rasulullah S.A.W. telah bersabda yang bermaksud : “Sesiapa yang memelihara solat, maka solat itu sebagai cahaya baginya, petunjuk dan jalan selamat dan barangsiapa yang tidak memelihara solat, maka sesungguhnya solat itu tidak menjadi cahaya, dan tidak juga menjadi petunjuk dan jalan selamat baginya.” (Tabyinul Mahaarim)

Rasulullah S.A.W telah bersabda bahawa : “10 orang solatnya tidak diterima oleh Allah S.W.T, antaranya :

1. Orang lelaki yang solat sendirian tanpa membaca sesuatu.

2. Orang lelaki yang mengerjakan solat tetapi tidak mengeluarkan zakat.

3. Orang lelaki yang menjadi imam, padahal orang yang menjadi makmum membencinya.

4. Orang lelaki yang melarikan diri.

5. Orang lelaki yang minum arak tanpa mahu meninggalkannya (Taubat).

6. Orang perempuan yang suaminya marah kepadanya.

7. Orang perempuan yang mengerjakan solat tanpa memakai tudung.

8. Imam atau pemimpin yang sombong dan zalim menganiaya.

9. Orang-orang yang suka makan riba’.

10. Orang yang solatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan yang keji dan mungkar.”

Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud : “Barang siapa yang solatnya itu tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya solatnya itu hanya menambahkan kemurkaan Allah S.W.T dan jauh dari Allah.”

Hassan r.a berkata : “Kalau solat kamu itu tidak dapat menahan kamu dari melakukan perbuatan mungkar dan keji, maka sesungguhnya kamu dianggap orang yang tidak mengerjakan solat. Dan pada hari kiamat nanti solatmu itu akan dilemparkan semula ke arah mukamu seperti satu bungkusan kain tebal yang buruk.”

……… Insya Allah Bersambung ………

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: