My Blog

Just another WordPress.com weblog

Akibat Berbicara dan Beramal Tanpa Ilmu

Posted by bangkitkanjihad pada Agustus 31, 2009

Akibat Berbicara dan Beramal Tanpa Ilmu
Allah berfirman, artinya:

“Dan janganlah engkau ikuti apa yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang-nya, sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati semuanya itu akan di tanya” (QS Al-Isra': 36).

Dan sabda Nabi :
“Barang siapa berbicara tentang al Qur’an dengan akal nya atau tidak dengan ilmu, maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka”(Hadist seperti ini ada dari 2 jalan, yaitu Ibnu Abas dan Jundub. Lihat Tafsir Qur’an yang diberi mukaddimah oleh Syeikh Abdul Qadir Al-Arnauth hal. 6, Tafsir Ibnu Katsir dalam Mukaddimah hal. 13, Jami’ As-Shahih Sunan Tirmidzi jilid 5 hal.183 no. 2950 dan Tuhfatul Ahwadzi jilid 8 hal. 277).

“Barang siapa mengamalkan sesuatu amal yang tidak ada perintah kami atasnya, maka amalnya itu tertolak.” (Shahih Muslim, Syarah Arba’in An-Nawawi hal. 21 Pembatalan Kemung-karan dan Bid’ah).
Dari salamah bin Akwa berkata , Aku telah mendengar Nabi bersabda:

“Barangsiapa yang mengatakan atas (nama)ku apa-apa yang tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di Neraka.” (HR Al-Bukhari I/35 dan lainya).

“Cukup bohong seseorang manakala dia membicarakan setiap apa yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam muqaddimah shahihnya).

Nasihat Salafus Shalih

Abu Darda berkata: “Kamu tidak akan menjadi orang yang bertaqwa sehingga kamu berilmu, dan kamu tidak menjadi orang yang berilmu secara baik sehingga kamu mau beramal.” (Adab dalam majelis-Muhammad Abdullah Al-Khatib). Beliau juga berkata : “Orang-orang yang menganggap pergi dan pulang menuntut ilmu bukan termasuk jihad, berarti akal dan pikiranya telah berkurang.”
Imam Hasan Al Basri mengatakan: Tafsir Surat-Baqarah ayat 201; Ya Tuhan, berikanlah kami kebaikan di dunia(ilmu dan ibadah) dan kebaikan di akhirat (Surga).

Imam Syafi’i berkata: “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hen-daklah dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan duanya maka hendaklah dengan ilmu.” (Al-Majmu’, Imam An-Nawawi).

Imam Malik berkata: “Ilmu itu tidak diambil dari empat golongan, tetapi diambil dari selainya. Tidak diambil dari orang bodoh, orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya, yang mengajak berbuat bid’ah dan pendusta sekalipun tidak sampai tertuduh mendustakan hadist-hadist Rasulullah n, juga tidak diambil dari orang yang dihormati, orang saleh, dan ahli ibadah yang mereka itu tidak memahami permasalahanya.

Imam Muhammad Ibnu Sirin berkata: Sesungguhnya ilmu itu dien, maka lihatlah dari siapa kamu mengambil dienmu.

Para ulama salaf memahami betul bahwa sebab-sebab terjadinya penyimpangan dikalangan orang-orang yang sesat pada asalnya karena kekeliruan tashawur (pandangan /wawasan) mereka tentang batasan ilmu (Lihat Al-Ilmu Ushulu wa Mashadiruhu wa Manahijuhu Muhammad bin Abdullah Al-Khur’an, cet. I 1412 H, Dar Al-Wathan lin Nasyr, Riyadh, hal. 7).

Orang-Orang salaf berkata :

“Waspadalah terhadap cobaan orang berilmu yang buruk (ibadahnya) dan ahli ibadah yang bodoh.” (Al-wala’wal bara’ hal. 230)

Imam Asy-Syafi’i memberi nasihat kepada murid-muridnya:
Siapa yang mengambil fiqih dari kitab saja, maka ia menghilangkan banyak hukum. (Tadzkiratus sami’ wal mutakallim, Al-Kannani, hal.87, Efisiensi Waktu Konsep Islam. Jasmin M. Badr Al-Muthawi, hal 44).

Abdullah bin Al-Mu’tamir berkata:
“Jika engkau ingin mengerti kesalahan gurumu, maka duduklah engkau untuk belajar kepada orang lain.” (riwayat Ad-Darimi dalam Sunannya I/153)

Riwayat Ibnu Wahab yang diterima dari Sofyan mengatakan:
“Tidak akan tegak ilmu itu kecuali dengan perbuatan, juga ilmu dan perbuatan tidak akan ada artinya kecuali dengan niat yang baik. Juga ilmu, perbuatan dan niat yang baik tidak akan ada artinya kecuali bila sesuai dengan sunnah-sunnah.” (Syeikh Abu Ishaq As -Syatibi, Menuju jalan Lurus).

Ibrahim Al-Hamadhi berkta:
Tidaklah dikatakan seorang itu berilmu, sekalipun orang itu banyak ilmunya. Adapun yang dikatakan Allah ortang itu berilmu adalah orang-orang yang mengikuti ilmu dan mengamalkanya, dan menetap dalam perkara As-Sunah, sekalipun jumlah ilmu-ilmu dari orang-orang tersebut hanya sedikit (Syeikh Abu Ishaq As –Syatibi, Menuju jalan Lurus).
Keutamaan pencari ilmu dan yang mengatakan seseorang itu ahli ilmu
Rasulullah bersabda:
“Barang siapa yang mencari satu jalan menuntut ilmu niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.”(HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Allah SWT berfirman:
“Tidak sepatutunya bagi orang-orang mukmin itu pergi semaunya (ke medan perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memeperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali.” (At-Taubah: 122)

Imam Muslim mengatakan kepada Imam Bukhari:
“Demi Allah tidak ada di dunia ini yang lebih pandai tentang ilmu hadist dari engkau.” (Tarikh Bukhari, dalam Mukadimah Fathul Bari)

Imam Syafi’i berkomentar tentang Imam Ahmad:
“Saya pergi dari kota Baghdad dan tidak saya tinggalkan di sana orang yang paling alim dalam bidang fiqih, yang paling wara’ dalam agamanya dan paling berilmu selain Imam Ahmad.” (Thobaqatus Syafi’I, As-Subki / Efisiensi Waktu Konsep Islam, Jasim m. Badr Al-Muthawi, hal.91)
Orang yang menuntut ilmu bukan kepada ahlinya
Dari Abdullah bin Ash ia berkata, aku telah mendengar Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu di kalangan umat manu-sia setelah dianugerahkan kepada mereka, tetapi Allah mencabut ilmu tersebut di kalangan umat manusia dengan dimatikannya para ulama, sehingga ketika tidak tersisa orang alimpun, maka manusia menjadikan orang-orang bodoh menjadi pimpinan. Mereka dimintai fatwanya, lalu orang-orang bodoh tersebut berfatwa tanpa ilmu.” Dalam riwayat lain: “dengan ra’yu/akal. Maka sungguh perbuatan tersebut adalah sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari I/34).

“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah saatnya (kebinasaannya).” (Shahih Bukhari bab Ilmu).

“Sesungguhnya termasuk tanda-tanda kiamat adalah dicarinya ilmu dari orang rendahan.” (lihatkitab Silsilah Hadist Shahih no. 695).

“Ya Allah aku mohon perlindung-anMu agar aku dijauhkan dari lmu yang tidak berguna (ilmu yang tidak aku amalkan, tidak aku ajarkan dan tidak pula merubah akhlakku), dan dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah puas dan doa yang tidak terkabulkan.” ( HR. Ahmad, Ibnu Hiban dan Al-Hakim)

“Ya Allah berikanlah kepadaku manfaat dari ilmu yang Engkau anugerahklan kepadaku , dan berilah aku ilmu yang bermanfaat bagiku dan tambahkanlah kepadaku ilmu” (Jami’ Ash-Shahih, Imam Tirmidzi no. 3599 Juz V hal. 54)

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang bermanfaat dan amal yang diterima” (Hisnul Muslim, hal. 44 no. 73).

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedangkan kamu mengeta-huinya.” (Al-Baqarah: 42).

“Wahai orang-orang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208).

Diantara buku dalam masalah ilmu:
1. Tigapuluh satu nasihat untuk anda para penuntu ilmu-Faihan bin Sulaiman Al-Gharbi
2. Muslim memilih ilmu – Abu Bakar Al-Jazairi
3. Hilyatuthalibil’ilmi-Bakr bin Abdullah Abu Zaid

Al-Ilmu, Sebelum Berkata & Beramal
“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”(QS. Az-Zumar :9)
Kita semua sepakat bahwa sebuah gedung yang tinggi pasti memerlukan banyak ahli ilmu teknik bangunan yang mereka benar-benar ahli alias berilmu dalam bidangnya dan berpengalaman agar gedung itu berdiri dengan kuat, kokoh dan awet. Juga seseorang yang mengobati penyakit haruslah berpendidikan kesehatan (dokter) Namun ketika orang-orang ditanya bagaimanakah membangun umat Islam ini ? Maka mayoritas orang tidak terlalu memikirkan bagaimana kapasitas da’i pembangun umat ini apakah mereka berilmu tentang dien/agamanya yang akan dida’wakan atau tidak ? Dan ini adalah musibah.. Innalillahi wa innailaihi rojiun..
Ilmu merupakan sandi terpenting dari hikmah. Sebab itu, Allah memerintahkan manusia agar mencari ilmu atau berilmu sebelum berkata dan beramal. Firman Allah :

“Maka ketahuilah bahwa sesung-guhnya tidak ada Illah selain Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu serta bagi(dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu”(QS.Muhammad:19)

Imam Bukhari membicarakan masalah ini dalam kitab Shahih-nya pada bab khusus, yakni bab “Ilmu sebelum berkata dan beramal”.
Sehubungan dengan ini Allah memerintahkan Nabi-Nya dengan dua hal, yaitu berilmu lalu beramal, atau berilmu sebelum beramal. Hal ini dapat kita lihat dari susunan ayat diatas, yaitu :
“Maka ketahuilah bahwa sesung-guhnya tidak ada ilah melainkan Allah.”
Ayat ini menunjukkan perintah untuk berilmu. Selanjutnya perintah ini diikuti perintah beramal, yaitu :
‘…Dan mohonlah ampunan bagi dosamu…”
Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa urutan ilmu mendahului urutan amal. Ilmu merupakan syarat keabsahan perkataan dan perbuatan. Shahihnya amal karena shahihnya ilmu. Disamping, itu ilmu merupakan tempat tegaknya dalil.
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang disampaikan Rasul atau bisa juga ilmu yang bukan dari Rasul, yaitu ilmu-ilmu yang diluar masalah diniyah (agama), misalnya beberapa segi ilmu kedokteran, pertanian dan perdagangan.
Seorang da’i tidak dikatakan bijaksana, kecuali bila ia memahami ilmu syar’i. Jika dari awal hingga akhir perjalanan dakwahnya ia tidak melalui jalur ilmu ini, ia akan kehilangan jalan petunjuk dan keberuntungan. Inilah konsensus orang arif. Tidak diragukan lagi bahwa pembenci ilmu adalah penyamun dan pelaku perbuatan iblis dan pengawalnya.
Begitu pula seorang yang tergabung dalam sebuah organisasi Dakwah, jika ia tidak mengetahui ilmu syar’i atau tidak mempelajarinya dengan benar, maka apa yang ingin ia dakwahkan? Jangan-jangan yang ia dakwah-kan selama ini adalah salah.
Karena banyak sekali diantara orang-orang yang tergabung di organisasi dakwah, hanya bermodal semangat yang tinggi saja, atau bermodal pengetahuan Islam yang didapatnya dari membaca koran atau berita di TV atau apa-apa yang dikerjakan oleh nenek moyang mereka, padahal berita-berita itu belum tentu benar dan apa-apa yang dikerjakan nenek moyang kita belum tentu benar menurut apa yang diturunkan Allah dan diajarkan Rasul-Nya.
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk”. (QS. Al-Baqarah :170)
Jika ditanya tentang berita-berita aktual yang melibatkan kaum muslimin atau masalah politik, maka akan dijawabnya dengan lancar dan jelas. Namun jika ditanya tentang aqidah, tauhid dan ilmu syar’i lainnya, ia tidak tau….atau jika ia malu untuk menjawab tidak tahu, ia menjawabnya dengan pendapatnya / akalnya semata, tanpa dasar dalil yang jelas, sehingga akan muncul perkara-perkara baru dalam agama (bid’ah) yang sesat dan menyesatkan.
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta dari hamba-Nya, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan dicabutnya nyawa para ulama, hingga manakala Dia tidak menyisakan satu orang alimpun (dalam riwayat lain: Hingga manakala tidak tertinggal satu orang alim pun), manusia akan menjadikan pemimpin-pemimpin dari orang-orang yang bodoh, maka tatkala mereka akan ditanya (tentang masalah agama), lalu mereka akan ber-fatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.” (HR Bukhari dalam al Ilmu 1/234 dan Muslim dalam al-Ilmu 16/223).
Begitu pula masalah halal dan haram. Jika seorang muslim tidak mengerti yang mana yang halal, mana yang haram, mana yang tauhid, mana yang syirik, mana yang sunnah, mana yang bid’ah, maka kemungkinan besar orang ini akan menyimpang dalam beragama.
Yang seperti ini tidaklah benar, hendaknya seorang muslim benar-benar mempelajari terlebih dahulu apa yang ingin diamalkan.
Pada kenyataannya ilmu itu memang teramat penting dan menentukan, oleh karena itu ia mesti men-jadi hal pertama untuk dimengerti.
Mengapa Ilmu? Apakah Ilmu dan Apakah Batasannya?
Dikatakan oleh imam Asy-Syathibi bahwa: “Ilmu yang dikehendaki disini maksudnya ialah agar supaya terjadinya amal-amal perbuatan dalam wujud nyatanya sejalan dengan ilmu tersebut tanpa ada perselisihan, baik amal-amal itu merupakan perbuatan hati, lidah maupun anggota badan”
“Dengan demikian jika suatu perbuatan biasanya berlangsung sejalan dengan ilmunya tanpa ada perselisihan sedikitpun antara keduanya, berarti dalam kaitan ini ia merupakan ilmu sebenarnya, kalau tidak berarti bukan ilmu karena tiada kesesuaian antara keduanya (teori dengan kenyataan -pen). Berarti hal ini bathil, sebab kebalikan ilmu adalah jahil (bodoh)”
Syaikh Abil Izzi Al Hanafi menyatakan bahwa: “Ilmu yang paling mulia adalah ilmu ushuluddin (pokok-pokok dien), karena tolok ukur mulianya sebuah ilmu tergantung pada kemulian yang mesti diilmui. Kebutuhan manusia kepada ilmu ini diatas kebutuhan penting lainnya, karena tiada hakekat hidup bagi hati dan tiada kenikmatan serta ketenteraman kecuali apabila ia mengenal Rabbnya, Sesembahan dan Penciptanya, lengkap dengan Asma’, Shifat serta perbuatan-perbuatan (Rubbubiyah)-nya. Akan tetapi adalah mustahil jika akal (fitrah) semata-mata dapat memahami rincian semua persoalan ushuluddin di atas. Oleh karenanya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Kasih Sayang dengan segala hkmah serta kebijaksanaan-Nya mengutus para utusan-Nya supaya mengenalkan Allah pada umatnya dan mendakwahi mereka supaya mengabdi kepada-Nya. Allah menjadikan kunci serta intisari dakwah yang dilakukan oleh para Rasul itu ialah: Ma’rifat (mengenal) terhadap Allah lengkap dengan hak Ilahiyah, Asma’, Shifat serta perbuatan-perbuatan-Nya. Inilah tuntutan risalah para nabi semenjak nabi pertama hingga nabi terakhir.”
Pada sisi lain Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Risalah Nabi meliputi dua hal yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, sebagaimana terdapat dalam firman Allah:
“Dialah Allah yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) al Huda / petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (at Taubah:33)
Al Huda pada ayat di atas ialah: ilmu yang bermanfaat sedangkan Dienul Haq ialah amal shalih yang terdiri dari ikhlas karena Allah dan mutaba’ah (ittiba’) kepada Rasulullah .
Dengan ilmu inilah bakal tegak dienullah baik secara perkataan, perbuatan maupun keyakinan.
Cara Mendapatkan Ilmu
1. Berdo’a kepada Allah “…Dan katakanlah,’Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (Thaha:114)
2. Bersungguh-sungguh dan berkeingi-nan keras dalam mencari ilmu, serta dengan mengharap ridha Allah. Imam Syafi’i mengatakan. “Kamu tidak akan memperoleh ilmu, kecuali dengan enam hal: kecerdasan, gemar belajar, sungguh-sungguh, memiliki biaya, bergaul dengan guru dan perlu waktu lama”
3. Menjauhi segala maksiat dengan bertakwa kepada Allah.
“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan/ pembeda…” (Al Anfal: 29)
4. Tidak sombong dan tidak malu dalam mencari ilmu. Aisyah pernah mengatakan, “Wanita terbaik adalah wanita kaum Anshar, karena mereka tidak malu bertanya tentang agama.”
5. Ikhlas dalam mencari ilmu. Rasulullah bersabda: “Barang siapa belajar suatu ilmu yang terkait dengan maksud karena Allah, tetapi dipelajari untuk tujuan keuntungan dunia, maka dia tidak akan mencium harumnya surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)
6. Mengamalkan ilmu. Mungkin kita lupa sabda nabi tentang keutamaan ilmu Islam yang disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim hadist dari Mu’awiyah yang berkata aku mendengar Rasulullah bersabda :
“Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, maka Allah membuatnya memahami agama.”
Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa orang yang bertakwa kepada Allah akan diberi ilmu, sehingga ia akan mampu membedakan yang hak dan yang bathil.
Berdasarkan penjelasan di atas maka mestinya setiap hamba Allah mengkaji ulang kembali adakah ilmu yang diyakini itu sudah benar, atau bahkan ilmunya itu sekedar angan-angan kosong belaka?
Sungguh aneh dan ironis jika seorang berniat akan beribadah terus selama hidupnya kepada Allah, tapi ia tidak mau tau cara ibadah yang diajarkan RasulNya. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama untuk mengkaji apa-apa yang dibutuhkan sebagai hamba Allah agar kita tidak menyesal nantinya. Ingat umur kita yang hanya hidup sebentar di dunia dan kekal di akherat.
Wallahu A’lam

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: